Tabooo.id: Talk – Bayangkan kamu duduk di kafe, kopi masih panas, berita di TV bilang, “Ekonomi Indonesia tumbuh 5,04 persen, tanda daya tahan ekonomi di tengah ketidakpastian global.” Kedengarannya keren banget, kan? Tapi tunggu dulu kamu ngerasa makin sejahtera nggak? Atau gajimu masih segitu-segitu aja, sementara harga cabai naik kayak saham startup?
Nah, di sinilah paradoksnya. Angka pertumbuhan 5,04 persen itu sering dipakai pemerintah buat nunjukin bahwa ekonomi “baik-baik saja.” Padahal, kalau dibedah, sebagian besar pertumbuhan itu masih ditopang konsumsi rumah tangga. Alias, uang yang berputar karena kamu jajan kopi, beli pulsa, atau nyicil motor. Bukan karena industri kita makin kuat atau ekspor kita makin canggih. Jadi, pertumbuhan ini bukan hasil transformasi struktural, tapi efek dari kita yang terus berbelanja kadang malah pakai utang.
Ekonomi yang Reaktif, Bukan Transformatif
Data BPS bilang, sumber utama PDB masih konsumsi rumah tangga (53 persen), disusul investasi (29 persen). Ekspor memang naik, tapi lebih karena volume, bukan nilai tambah. Jadi, kita jual barang mentah lebih banyak, bukan barang canggih lebih mahal.
Masalahnya, model kayak gini bikin ekonomi kita “reaktif.” Artinya, kalau daya beli turun, ya pertumbuhan juga ikut loyo. Kita belum punya mesin pertumbuhan baru yang berbasis inovasi, teknologi, atau industri bernilai tambah. Jadi jangan heran, begitu harga beras naik, semua ikut goyah dari pasar sampai warung kopi.
Ketimpangan yang Nggak Pernah Move On
Sekarang kita ngomongin wilayah. Jawa masih menyumbang 56 persen ekonomi nasional. Sumatera 22 persen, Kalimantan dan Sulawesi di bawah 10 persen, dan wilayah timur cuma dapat remah-remahnya. Ini kayak nonton pertandingan yang dari awal udah berat sebelah. Infrastruktur dan investasi terus numpuk di Jawa, sementara daerah lain kebagian janji dan spanduk.
Kata ekonom klasik Gunnar Myrdal, ini efek “the rich get richer.” Daerah yang udah maju makin tumbuh, yang tertinggal makin susah ngejar. Desentralisasi yang niatnya buat pemerataan, malah sering jadi formalitas karena daerah terlalu bergantung pada dana pusat. Belanja modal minim, dan ujung-ujungnya, proyek besar tetap terkonsentrasi di kota besar.
Lucunya, semua ini dibungkus dalam narasi “pertumbuhan inklusif.” Padahal, inklusif dari mananya kalau mayoritas penduduk di luar Jawa cuma jadi penonton?
“Tapi Kan Tetap Tumbuh?”
Nah, ini argumen klasik kubu optimis. “Yang penting ekonomi tetap tumbuh, bro. Daripada minus kayak negara lain.” Memang betul, stabilitas makro kita cukup oke. Tapi stabilitas itu nggak berarti adil. Kita bisa punya angka pertumbuhan yang indah di PowerPoint, tapi tetap punya realitas sosial yang timpang di lapangan.
Koefisien Gini kita masih di angka 0,39 itu berarti jurang kaya-miskin nggak banyak berubah. Dan kemiskinan cuma turun tipis, lebih karena bantuan sosial ketimbang peningkatan produktivitas rakyat. Jadi ya, pertumbuhan ekonomi kita ibarat kue ulang tahun: besar, tapi cuma segelintir orang yang dapat potongan paling tebal.
Saatnya Ganti Resep Pertumbuhan
Ekonomi yang sehat itu bukan cuma tumbuh, tapi juga tumbuh bersama. Kalau pertanian, industri kecil, dan sektor manufaktur masih jalan di tempat, maka yang tumbuh cuma pusat-pusat jasa modern itu pun di kota besar.
Kita butuh kebijakan yang nggak cuma ngejar angka, tapi juga isi dan arah. Artinya, memperkuat produksi rakyat, memperluas akses modal untuk UMKM, dan menumbuhkan industri berbasis daerah. Negara harus berani jadi fasilitator yang adil, bukan sekadar penjaga stabilitas investor.
Seperti kata ekonom Ha-Joon Chang, negara maju itu bukan karena percaya penuh pada pasar bebas, tapi karena mereka dulu protektif dan strategis. Kita? Terlalu cepat buka pasar, tapi lupa bangun fondasi.
Jadi, Mau Terus Bangga atau Mulai Bertanya?
Pertumbuhan 5,04 persen memang bukan kabar buruk. Tapi juga bukan kabar baik kalau yang menikmati cuma segelintir. Angka itu harus dibaca dengan jujur: ekonomi kita belum inklusif, masih reaktif, dan makin bergantung pada konsumsi.
Pertanyaannya sekarang kamu mau puas dengan angka di laporan, atau pengin lihat perubahan nyata di kantong dan dapur?
Lalu, kamu di kubu mana: yang bangga dengan 5 persen, atau yang pengin tahu siapa sebenarnya yang tumbuh? @dimas




