Kamis, Juli 30, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Ducati Diavel V4 RS: Cruiser Apa Streetfighter?

by Tabooo
Mei 8, 2026
in Culture, Otomotif
A A
Home Culture Otomotif
Share on FacebookShare on Twitter

Tabooo.id: Otomotif – Ducati lagi-lagi bikin geger. Setelah Panigale jadi poster boy MotoGP untuk jalan raya, kini giliran Diavel V4 RS yang tampil sebagai muscle cruiser paling bengis dengan DNA Superbike murni di balik bodinya yang gemuk.

Kalau Diavel biasanya identik dengan motor touring berotot, varian RS ini jelas berkata lain: “lupakan cruising, mari kita bicara akselerasi 0–100 km/jam dalam 2,52 detik.” Ya, cepatnya setara hypercar.

RS: Lencana Balap, Bukan Sekadar Branding

Lencana “RS” bukan tempelan kosmetik. Dalam kamus Ducati, itu berarti Race-Spec. Artinya: mesin, sasis, dan komponen semua sudah disulap jadi versi ekstrim.

Kalau Diavel standar pakai mesin V4 Granturismo 1.158 cc (168 hp) yang nyaman buat touring, Diavel V4 RS langsung comot jantung Desmosedici Stradale 1.103 cc dari Panigale. Hasilnya? Tenaga melonjak jadi 182 hp, dengan karakter RPM tinggi khas motor balap.

Dan biar makin eksklusif, Ducati kasih kopling kering STM-EVO SBK—ikon balap yang terkenal berisik, keras, tapi bikin puritan Ducati senyum puas. Ini motor yang bukan sekadar dikendarai, tapi dipamerkan.

Ini Belum Selesai

Lontong Kikil Surabaya: Warisan Rasa yang Diam-Diam Terancam

Di Balik Kebaya, Ada Sejarah Perempuan yang Jarang Diceritakan

Performa: Cruiser dengan Nafas Superbike

Secara klaim resmi, Diavel V4 RS adalah Ducati produksi tercepat soal akselerasi. 0–100 km/jam? 2,52 detik. Itu levelnya bukan lagi muscle cruiser, tapi hyper-naked race bike berkedok cruiser.

Buat menopang performa ini, Ducati kasih:

  • Suspensi Öhlins full adjustable → stabil di kecepatan tinggi.
  • Rem Brembo Stylema + cakram 330 mm → setara Superbike Panigale.
  • Pelek forged + bodi karbon → bikin bobot turun 3 kg, tapi dampaknya terasa jauh lebih besar karena pengurangan massa unsprung.

Hasilnya: motor berotot yang tadinya jadi “Harley versi Italia,” sekarang punya DNA handling lincah ala streetfighter.

Estetika: Otot Balap, Bukan Otot Touring

Visual Diavel V4 RS juga bukan lagi soal gaya cruiser macho. Ducati bikin panel serat karbon, jok tunggal monoposto, dan livery racing eksklusif.

Pesannya jelas: ini bukan motor buat bawa boncenger ke kafe, ini motor buat pamer di trek dan di garasi kolektor.

Pasar: Main di Kelas Ultra-Premium

Harga global ditetapkan $39.995 (sekitar Rp 650 juta), tapi untuk Indonesia jelas bakal melambung. Mengingat Diavel standar saja sudah Rp 535–610 juta OTR, maka RS diproyeksikan di atas Rp 800 juta, bahkan bisa sentuh Rp 1 miliar tergantung pajak dan ketersediaan unit.

Kompetitornya? Bukan Harley, tapi Triumph Rocket 3. Bedanya, Rocket jual displacement raksasa (2.458 cc) dan torsi brutal. Sementara Ducati jual teknologi balap, RPM tinggi, dan eksklusivitas edisi terbatas. Dua dunia berbeda, dua audiens berbeda.

Ducati Diavel V4 RS adalah paradoks. Di atas kertas, ini muscle cruiser. Tapi DNA-nya jelas: hyper-naked race-spec dengan baju tebal.

Motor ini tidak untuk semua orang. Tidak ramah kantong, tidak ramah perawatan, bahkan tidak ramah telinga (thanks to dry clutch drama). Tapi justru itulah esensinya.

Motor ini dibuat untuk mereka yang ingin bilang: “Saya punya Diavel tercepat yang pernah ada, dengan jantung MotoGP di dalamnya.”

Pertanyaannya: apakah kamu siap menjinakkan monster yang lebih pantas diparkir di sirkuit ketimbang dipakai cruising di Sudirman? @tabooo

Tags: DucatiLifestyleOtomotif

Kamu Melewatkan Ini

Garmin Cirqa: Ketika Tubuh Menjadi Dashboard

Garmin Cirqa: Ketika Tubuh Menjadi Dashboard

by teguh
Juli 23, 2026

Suatu waktu, manusia mengenali tubuhnya tanpa bantuan teknologi. Rasa lapar mengingatkan waktu makan. Mata yang berat memberi sinyal untuk beristirahat....

Garmin Cirqa: Saat Smart Band Tak Lagi Butuh Layar

Garmin Cirqa: Saat Smart Band Tak Lagi Butuh Layar

by teguh
Juli 23, 2026

Di saat industri wearable berlomba menghadirkan layar yang lebih besar dan notifikasi yang lebih ramai, Garmin justru memilih jalan sebaliknya....

Ford Fiesta: Murah Saat Dibeli, Mahal Saat Dipelihara?

Ford Fiesta: Murah Saat Dibeli, Mahal Saat Dipelihara?

by eko
Juli 21, 2026

Ford Fiesta bekas menawarkan desain modern, handling tajam, dan harga yang semakin terjangkau. Namun, biaya perawatan serta potensi masalah transmisi...

Next Post
Bunker Kaliadem

Bunker Kaliadem: Jejak Luka Merapi yang Jadi Wisata

Madilog Series

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Juli 7, 2026
Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026
Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Juni 7, 2026

Marx Series

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Juli 16, 2026

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Juni 20, 2026

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026

Uang Menjadi Kapital: Ketika Uang Berubah Jadi Mesin Penghisap – Marx Series #1.3

Mei 29, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id