Kamis, Juli 30, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Drama Politik Indonesia: Presiden, DPR, dan Revisi UU KPK

by dimas
Februari 20, 2026
in Edge
A A
Home Edge
Share on FacebookShare on Twitter

Tabooo.id: Edge – Bayangkan ini panggung politik Indonesia berubah menjadi drama seri Netflix, tapi tanpa tombol skip intro. Kamera menyorot Presiden Jokowi yang santai menonton Persis Solo vs Madura United, lalu muncul headline “Presiden setuju UU KPK 2019 direvisi lagi.” Penonton di Twitter langsung ngetag semua partai politik, ekspresi emoji marah dan bingung bercampur.

Partai Politik: Dulu Usul, Sekarang Nyalahin

PSI menyorot kelakuan partai-partai yang dulu mengusulkan revisi UU KPK, tapi kini malah menyalahkan Jokowi. Ariyo Bimmo, Direktur Reformasi Birokrasi PSI, berkomentar dengan nada satir, “Kalau dulu mengusulkan, sekarang nyalahin Presiden, publik berhak bertanya konsistensinya di mana?”

Sebenarnya, DPR-lah yang memulai revisi UU KPK 2019, dengan lima partai pengusul PDI Perjuangan, Golkar, PPP, PKB, dan NasDem. Jokowi hanya mengirim Surat Presiden dan Daftar Inventarisasi Masalah (DIM) berisi catatan dan usulan perbaikan. Namun, di media sosial, narasi sering berubah menjadi, “Presiden bikin semua ini.” Seolah Jokowi menjadi villain utama soap opera anti-korupsi.

Jokowi: Setuju Tapi Bukan Pelaku Utama

PSI menegaskan bahwa Jokowi mendukung revisi UU KPK kembali sebagai bagian dari evaluasi kebijakan, bukan sekadar mencuci tangan. Ariyo menekankan, “Kalau perlu perbaikan UU KPK, mari dibahas terbuka. Namun, jangan dibalik-balik sejarah legislasi. Antikorupsi itu bukan soal nostalgia UU lama atau baru. Soalnya sederhana sistem kita bikin korupsi lebih mudah atau lebih susah?”

Dengan kata lain, Jokowi menegaskan keterbukaan dan akuntabilitas, sementara DPR tetap mengendalikan legislasi.

Ini Belum Selesai

Negara Sudah Punya Direktur AI. Semoga Birokrasinya Tetap Tidak Loading

Kopdes Merah Putih Siap Salurkan Bansos, Efektif atau Berisiko?

Dampak Absurd bagi Publik

Bagi warga, fenomena ini terasa absurd sekaligus lucu. Bayangkan membuka berita pagi-pagi, kopi panas masih di tangan, lalu membaca headline: “Presiden Mau Revisi UU KPK, DPR Panik” Kemudian scroll ke tweet partai politik, komentar PSI, dan meme timeline yang bercampur jadi komedi politik ala Gen Z.

Selain itu, publik mulai membandingkan narasi di media sosial dengan fakta legislasi. Akibatnya, mereka merasa seperti sedang menonton sitkom politik live, lengkap dengan plot twist setiap hari.

Punchline: Season yang Tak Pernah Tamat

Akhirnya, drama revisi UU KPK ini seperti season yang tidak pernah tamat. Jokowi bilang iya tapi bukan dia, DPR bilang kita yang usul, partai politik lain bilang Presiden harus tanggung jawab. Publik? Hanya bisa tepuk jidat sambil ngequote meme favorit, “Drama politik Indonesia, ada yang nonton real life tapi rasanya sitcom.”

Di tengah semua klaim dan revisi, satu pertanyaan tetap menggelitik apakah semua drama ini benar-benar menegakkan akuntabilitas, atau sekadar menjadi bahan meme untuk timeline publik? @dimas

Tags: 2026DPRdramaGen ZjokowiKPKPartaiPolitik IndonesiapresidenPSIRevisiSatirtimeline

Kamu Melewatkan Ini

OTT Bupati Pemalang, KPK Kembali Bongkar Korupsi Kepala Daerah

OTT Bupati Pemalang, KPK Kembali Bongkar Korupsi Kepala Daerah

by dimas
Juli 29, 2026

OTT Bupati Pemalang menambah daftar kepala daerah yang terjerat korupsi. KPK kembali membongkar dugaan rasuah di daerah, memicu sorotan terhadap...

Kudatuli: Ketika Jakarta Bangun dalam Kepungan

Kudatuli: Ketika Jakarta Bangun dalam Kepungan

by Tabooo
Juli 27, 2026

Peristiwa Kudatuli pada 27 Juli 1996 bukan sekadar konflik internal PDI. Penyerbuan di Jalan Diponegoro membuka kekerasan, perburuan aktivis, dan...

Kaesang Nyaleg di Dapil Puan: Politik Simbol atau Elektoral?

Kaesang Nyaleg di Dapil Puan: Politik Simbol atau Elektoral?

by dimas
Juli 27, 2026

Kaesang Pangarep maju sebagai caleg DPR dari Dapil Jawa Tengah V, wilayah yang selama ini menjadi basis Puan Maharani. Apakah...

Next Post
Tanpa Rizki, Indonesia Tahan Langkah di Panggung Asia

Tanpa Rizki, Indonesia Tahan Langkah di Panggung Asia

Madilog Series

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Juli 7, 2026
Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026
Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Juni 7, 2026

Marx Series

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Juli 16, 2026

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Juni 20, 2026

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026

Uang Menjadi Kapital: Ketika Uang Berubah Jadi Mesin Penghisap – Marx Series #1.3

Mei 29, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id