Disdikpora DIY (Daerah Istimewa Yogyakarta) meminta siswa SMA/SMK tetap belajar selama jam sekolah. Sebaliknya, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) mengizinkan mahasiswa mengikuti demonstrasi di kawasan Titik Nol Kilometer Yogyakarta pada Selasa 20/10/2026.
Tabooo.id: Yogyakarta – Disdikpora DIY mengutamakan keselamatan siswa dan kelancaran pembelajaran. UMY mendukung mahasiswa yang ingin menyampaikan aspirasi kepada pemerintah dan masyarakat.
Kedua institusi memilih pendekatan berbeda. Perbedaan ini memunculkan pertanyaan bagaimana sekolah dan kampus menjaga keselamatan pelajar sekaligus mengajarkan demokrasi?.
Disdikpora DIY Minta Siswa Fokus Belajar
Kepala Disdikpora DIY, Suci Rahmadi, menyampaikan imbauan secara lisan kepada kepala balai pendidikan menengah dan kepala sekolah. Ia meminta siswa tetap berada di lingkungan sekolah selama jam belajar.
“Selama waktu belajar mengajar ya tetap anak-anak berada di lingkungan sekolah masing-masing,” kata Suci saat dihubungi pada Selasa 20/10/2026.
Suci mengaku belum menerima laporan ketidakhadiran siswa secara massal. Namun, ia khawatir ajakan demonstrasi setelah jam sekolah dapat membawa pelajar ke situasi berisiko.
Disdikpora DIY berencana berkomunikasi dengan sekolah dan orang tua. Suci ingin kedua pihak mengawasi aktivitas siswa setelah jam belajar berakhir.
Suci mengakui hak masyarakat untuk menyampaikan pendapat. Ia meminta sekolah dan keluarga membantu siswa memahami risiko demonstrasi di ruang publik.
Dinas tersebut memilih imbauan lisan, bukan surat larangan resmi. Masyarakat perlu membedakan arahan pendidikan dari larangan hukum. Informasi yang tersedia menjelaskan permintaan agar siswa tetap belajar selama jam sekolah.
UMY Izinkan Mahasiswa Turun ke Jalan
UMY mengambil pendekatan berbeda. Kampus ini mengizinkan mahasiswa dari seluruh fakultas mengikuti demonstrasi di sekitar Titik Nol Kilometer Yogyakarta. BEM bersama organisasi mahasiswa UMY lainnya menggagas aksi tersebut.
Wakil Rektor Bidang Pengembangan, Kemahasiswaan, dan Al-Islam Kemuhammadiyahan (AIK) UMY, Faris Al-Fadhat, menilai mahasiswa memiliki beragam pandangan tentang kondisi bangsa. Ia mendorong mahasiswa menyampaikan pandangan itu kepada pemerintah dan masyarakat.
“Kami dari pihak kampus selalu mendukung mereka, termasuk juga aksi hari ini,” kata Faris pada Selasa 20/10/2026.
UMY mendukung partisipasi mahasiswa sekaligus meminta mereka menjaga ketertiban. Kampus mendorong peserta menyampaikan aspirasi secara damai dan bijaksana. Pihak kampus juga meminta mahasiswa menjaga fasilitas umum.
Mahasiswa berhak menyampaikan kritik. Namun, mereka tetap harus menghormati hak masyarakat lain dan menjaga keamanan lingkungan.
Hak Bersuara Menuntut Tanggung Jawab
Disdikpora DIY menjaga kegiatan belajar dan keselamatan siswa. Sementara itu, UMY membuka ruang bagi mahasiswa untuk berpartisipasi dalam kehidupan demokrasi.
Kedua pendekatan tersebut tidak harus bertentangan. Sekolah dapat menjaga kegiatan belajar sekaligus mengajarkan demokrasi. Kampus juga dapat mendukung demonstrasi sambil mengingatkan mahasiswa tentang etika dan tanggung jawab publik.
Masyarakat perlu memahami perbedaan antara imbauan dan larangan. Disdikpora DIY meminta siswa tetap belajar selama jam sekolah. Namun, informasi yang tersedia tidak menunjukkan adanya surat larangan resmi dari dinas tersebut.
Izin kampus juga tidak menghapus tanggung jawab mahasiswa. Setiap peserta harus menjaga keselamatan, menghormati hak orang lain, dan menghindari tindakan yang merugikan masyarakat.
Demokrasi Tak Berhenti di Gerbang Sekolah
Persoalan ini bukan sekadar tentang siapa yang boleh turun ke jalan. Tantangan sesungguhnya terletak pada kemampuan sekolah dan kampus membekali generasi muda dengan pemahaman tentang hak, risiko, dan tanggung jawab demokrasi.
Siswa membutuhkan perlindungan sekaligus kesempatan mempelajari kebebasan berpendapat. Mahasiswa membutuhkan ruang untuk menyampaikan kritik sekaligus kesadaran bahwa setiap tindakan membawa konsekuensi.
Orang tua, sekolah, dan kampus memegang peran penting. Ketiganya perlu membangun komunikasi terbuka agar generasi muda memahami alasan mereka bersuara, tujuan yang ingin mereka capai, dan dampak tindakan mereka terhadap orang lain.
Larangan tanpa dialog berisiko mempersempit ruang diskusi. Sebaliknya, kebebasan tanpa pendampingan dapat membuat pelajar dan mahasiswa mengabaikan risiko di lapangan. Sekolah dan kampus perlu melindungi pelajar, membuka ruang kebebasan, serta menanamkan tanggung jawab.
Demokrasi yang sehat membutuhkan warga yang berani menyampaikan kritik. Masyarakat juga perlu menguji informasi, menyusun argumen, menghormati perbedaan, dan mempertanggungjawabkan tindakan.
Pendidikan demokrasi tidak cukup mengajarkan cara menyampaikan pendapat. Sekolah dan kampus perlu membantu generasi muda memahami apa yang mereka perjuangkan, mengapa mereka bersuara, dan bagaimana memperjuangkan aspirasi tanpa merugikan orang lain. @teguh







