Selasa, Oktober 20, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Aktivis Tak Lagi Aman: Apa di Balik Dugaan Pengeroyokan Hafidz Hernanda?

by teguh
Oktober 6, 2026
in Deep
A A
Home Deep
Share on Facebook
Share on Twitter
Malam di Tebet, Jakarta Selatan, menyisakan pertanyaan besar bagi gerakan mahasiswa dan aktivis tak lagi aman. Hafidz Hernanda, Koordinator Sosial Politik BEM UI, diduga mengalami pengeroyokan pada Minggu malam, 04/10/2026.

Tabooo.id – Peristiwa itu terjadi sekitar pukul 23.50 WIB di kawasan Tebet Barat Dalam IX. Hafidz Hernanda disebut tengah mengendarai sepeda motor ketika sejumlah orang menghentikannya. Menurut informasi yang beredar, pelaku menendang Hafidz hingga terjatuh. Setelah itu, beberapa orang diduga memukulinya.

Polisi kini mendalami kejadian tersebut. Namun, motif serangan belum terungkap. Di titik inilah persoalannya menjadi lebih besar. Kasus ini bukan sekadar tentang seorang mahasiswa yang mengalami kekerasan.

Pertanyaan berikutnya jauh lebih penting seberapa aman mahasiswa ketika menyampaikan kritik di ruang publik?

Hafidz Hernanda: Malam di Tebet dan Pertanyaan yang Belum Terjawab

Detail kejadian masih membutuhkan verifikasi lebih lanjut. Polisi perlu menyusun kronologi berdasarkan keterangan korban, saksi, rekaman CCTV, bukti medis, serta bukti lain di lokasi.

Hafidz sendiri dikenal aktif dalam sejumlah agenda gerakan mahasiswa. Pada Februari 2026, namanya muncul dalam aksi mahasiswa yang mengkritik dugaan kekerasan aparat.

Ini Belum Selesai

BBM Tersendat, ASN WFH Jadi Jawaban: Bagaimana dengan Akar Masalahnya?

Prabowo Bertemu Guterres di Hambalang: Diplomasi Akrab, Hasilnya Harus Terukur

Aktivitas tersebut membuat publik memiliki konteks mengenai posisi Hafidz sebagai aktivis. Namun, konteks tidak otomatis menjadi bukti motif.

Sampai saat ini, belum ada bukti yang memastikan bahwa aktivitas politik Hafidz menjadi alasan seseorang menyerangnya.

Karena itu, penyelidikan harus bergerak dari dugaan menuju pembuktian.

UI Tidak Tinggal Diam

Universitas Indonesia merespons kasus tersebut dengan menghubungi Hafidz, keluarga, dan BEM UI.

UI juga menyatakan dukungan medis serta bantuan untuk proses pelaporan dan pendampingan hukum.

Sikap kampus itu penting. Mahasiswa membutuhkan ruang untuk belajar sekaligus menyampaikan pendapat tanpa rasa takut.

Komnas HAM sebelumnya juga menekankan pentingnya kampus sebagai ruang aman bagi mahasiswa untuk menyampaikan gagasan dan kritik.

Putu Elvina dari Komnas HAM menyebut mahasiswa sebagai penjaga moral demokrasi. Menurutnya, kampus harus memberi ruang aman agar mahasiswa dapat menyampaikan gagasan tanpa rasa takut.

Pesan itu relevan dengan kasus Hafidz. Sebab, keamanan mahasiswa tidak hanya berkaitan dengan pagar kampus. Rasa aman juga mengikuti mahasiswa ketika mereka berada di jalan, ruang diskusi, maupun ruang publik.

Apakah Hafidz Hernanda Diserang karena Aktivismenya?

Inilah pertanyaan paling sensitif dalam kasus tersebut. Amnesty International melalui Usman Hamid menduga serangan terhadap Hafidz mungkin berkaitan dengan rencana penyampaian aspirasi mahasiswa.

Usman menyebut kemungkinan hubungan tersebut dalam pernyataannya pada 05/10/2026. Namun, kata “mungkin” harus tetap kita tempatkan pada porsinya. Dugaan belum sama dengan fakta.

Polisi perlu membuktikan apakah serangan itu memang memiliki motif politik, konflik personal, tindak kriminal biasa, atau alasan lain.

Pemeriksaan terhadap komunikasi korban, rekaman kamera, saksi, jejak digital, serta barang yang hilang dapat membantu membuka rangkaian peristiwa. Tanpa bukti tersebut, publik hanya akan berputar pada spekulasi.

Polisi Tidak Cukup Hanya Mencari Pelaku

Penyelidikan kasus ini membutuhkan lebih dari sekadar menemukan orang yang melakukan kekerasan.

Polisi juga perlu menjawab siapa yang merencanakan, bagaimana pelaku mengenali korban, serta apa motif di balik serangan tersebut jika memang ada unsur kesengajaan.

Keterangan mengenai telepon Hafidz Hernanda yang disebut hilang juga perlu diperiksa. Begitu pula informasi mengenai kemungkinan ancaman sebelum kejadian.

Setiap detail harus masuk dalam satu rangkaian kronologi yang teruji. Polda Metro Jaya menyatakan akan mendalami kasus tersebut dan mengumpulkan bukti.

Polisi juga meminta pihak terkait membuat laporan agar proses hukum dapat berjalan lebih lengkap. Langkah itu menjadi penting karena publik membutuhkan proses yang transparan.

Bukan Cuma Hafidz yang Perlu Merasa Aman

Kasus ini menyentuh persoalan yang lebih luas. Mahasiswa tidak hidup hanya di dalam ruang kelas. Mereka berdiskusi, melakukan aksi, menyampaikan kritik, dan berhadapan langsung dengan kebijakan publik.

Aktivitas itu merupakan bagian dari kehidupan demokrasi. Ketika seorang aktivis mengalami kekerasan, mahasiswa lain bisa membaca peristiwa tersebut sebagai sinyal bahaya.

Rasa takut tidak selalu muncul melalui ancaman langsung. Kadang, satu kejadian saja cukup untuk membuat seseorang berpikir ulang sebelum berbicara.

Di sinilah dampak psikologisnya bekerja. Ketakutan dapat mengubah cara mahasiswa berpartisipasi. Mereka bisa memilih diam, membatalkan aksi, atau menghindari isu tertentu.

Jika itu terjadi, kekerasan tidak hanya melukai tubuh korban. Kekerasan juga dapat mempersempit ruang keberanian publik.

DPR Pernah Menyoroti Masalah yang Sama

Persoalan keamanan dan kebebasan berekspresi juga menyentuh kepercayaan publik terhadap aparat.

Ketua Komisi III DPR RI Habiburokhman pada Januari 2026 menekankan bahwa respons Polri terhadap dinamika sosial ikut memengaruhi kepercayaan masyarakat.

Pernyataan tersebut memberikan konteks penting. Polisi bukan hanya bertugas menindak pelaku kejahatan. Institusi itu juga harus menunjukkan bahwa hukum mampu melindungi warga yang menggunakan haknya secara sah.

Karena itu, publik akan melihat bagaimana polisi menangani kasus Hafidz. Kecepatan saja tidak cukup. Publik membutuhkan transparansi, ketepatan bukti, serta proses hukum yang dapat dipertanggungjawabkan.

Dampak yang Sering Tidak Terlihat: Rasa Takut

Luka fisik memiliki batas yang bisa terlihat. Rasa takut tidak selalu memiliki batas yang sama.

Korban kekerasan dapat mengalami tekanan psikologis setelah kejadian. Dalam konteks mahasiswa, pengalaman tersebut bisa memengaruhi rasa aman ketika kembali beraktivitas.

Pendekatan Psychological First Aid yang dikembangkan berbagai lembaga psikologi juga menempatkan rasa aman sebagai kebutuhan awal setelah seseorang mengalami situasi traumatis. Artinya, pemulihan tidak berhenti ketika luka fisik mulai membaik.

Korban membutuhkan dukungan sosial, pendampingan, serta kepastian bahwa lingkungan di sekitarnya tetap aman. Universitas memiliki peran penting dalam proses tersebut.

Yang Dipertaruhkan Bukan Cuma Satu Orang

Kasus Hafidz belum membuktikan adanya pola pembungkaman terhadap aktivis mahasiswa. Namun, kasus ini membuka pertanyaan yang tidak boleh kita abaikan.

Apa yang terjadi jika mahasiswa mulai menganggap kritik sebagai risiko keselamatan?, Demokrasi membutuhkan perbedaan pendapat.

Kampus membutuhkan keberanian intelektual dan negara membutuhkan warga yang berani mengoreksi kebijakan.

Semua itu sulit tumbuh jika rasa takut mengambil alih ruang publik. Karena itu, penyelesaian kasus Hafidz harus berjalan dengan kepala dingin.

Polisi harus mengejar bukti, Kampus harus memberi perlindungan dan mahasiswa perlu mendapat ruang untuk bersuara.

Sementara publik harus menahan diri dari kesimpulan sebelum penyelidikan menemukan fakta.

Kalau Aktivis Saja Takut, Bagaimana dengan Mahasiswa Biasa?

Hafidz bukan satu-satunya orang yang akan membaca hasil penyelidikan kasus ini karena mahasiswa lain juga akan melihatnya.

Mereka akan menilai apakah negara mampu memberi perlindungan ketika seseorang menyampaikan kritik. Mereka juga akan melihat apakah aparat bekerja berdasarkan bukti atau tekanan.

Pada akhirnya, persoalan ini kembali kepada satu hal sederhana rasa aman untuk bersuara. Mahasiswa tidak seharusnya memilih antara kritik dan keselamatan. Demokrasi yang sehat semestinya mampu memberikan keduanya.

Negara Harus Membuktikan, Bukan Sekadar Menjawab

Kasus Hafidz masih berada dalam tahap penyelidikan. Karena itu, publik belum bisa menyimpulkan siapa pelaku, apa motifnya, atau apakah serangan tersebut berkaitan dengan aktivitas politik korban.

Justru karena belum jelas, proses hukum harus bekerja secara maksimal. CCTV perlu diperiksa, Saksi perlu ditemukan, Bukti medis perlu dicocokkan dengan kronologi. Jejak komunikasi perlu ditelusuri jika relevan. Setiap dugaan harus memperoleh pembuktian.

Sebab, ketika kekerasan menimpa seorang mahasiswa yang aktif menyampaikan kritik, negara tidak cukup hanya mengatakan akan menangani kasus tersebut sebab kegara harus menunjukkan hasilnya.

Bukan cuma soal siapa yang memukul Hafidz. Ini soal apakah mahasiswa masih bisa berdiri, berbicara, dan mengkritik tanpa merasa harus mempertaruhkan keselamatannya. Dan pertanyaan itu jauh lebih besar daripada satu malam di Tebet. @teguh

Tags: Aktivis MahasiswaDugaan PengeroyokanJakarta selatanKeamanan MahasiswaKebebasan BerpendapatKekerasan MahasiswaKomnas HAMMahasiswa UITebet

Kamu Melewatkan Ini

Aktivis BEM UI Diduga Dikeroyok di Tebet, Polisi Turun Tangan

Aktivis BEM UI Diduga Dikeroyok di Tebet, Polisi Turun Tangan

by teguh
Oktober 6, 2026

Polisi turun tangan menyelidiki dugaan penganiayaan terhadap Aktivis BEM UI Hafidz Hernanda, Koordinator Sosial Politik BEM Universitas Indonesia (UI), di...

Abdon Kisamdu Ditangkap di Yahukimo: Yang Terputus Orangnya, Bukan Jaringannya

Abdon Kisamdu Ditangkap di Yahukimo: Yang Terputus Orangnya, Bukan Jaringannya

by teguh
September 20, 2026

Bandara Nop Goliat Dekai, Yahukimo, menjadi titik penangkapan Abdon Kisamdu pada Sabtu, 19/09/2026. Panglima Kogabwilhan III Letjen TNI Lucky Avianto...

Tujuh Perempuan Belum Kembali, Siapa Bertanggung Jawab di Jila?

Tujuh Perempuan Belum Kembali, Siapa Bertanggung Jawab di Jila?

by teguh
September 14, 2026

Konflik di Distrik Jila, Kabupaten Mimika, Papua Tengah, menyisakan tujuh perempuan yang hingga kini belum kembali kepada keluarga. Tabooo.id -...

Next Post
Indonesia Juara FIFA ASEAN Cup 2026, Sentimen Malaysia Berlanjut

Indonesia Juara FIFA ASEAN Cup 2026, Sentimen Malaysia Berlanjut

Madilog Series

Logika vs Emosi: Siapa yang Sebenarnya Mengendalikan Kamu? – Madilog Series #3.5

Logika vs Emosi: Siapa yang Sebenarnya Mengendalikan Kamu? – Madilog Series #3.5

Agustus 24, 2026
Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Juli 7, 2026
Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026

Marx Series

Mesin dan Industri Modern: Teknologi Membebaskan atau Membuat Pekerja Makin Mudah Diganti?

Mesin dan Industri Modern: Teknologi Membebaskan atau Membuat Pekerja Makin Mudah Diganti?

Agustus 25, 2026

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Juli 16, 2026

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Juni 20, 2026

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id