Tabooo.id: Vibes – Bayangkan sebuah pagi tanpa matahari. Langit gelap seperti lupa caranya terang. Abu turun pelan, menempel di atap rumah dan daun padi. Air sungai meluap tanpa ampun. Gunung memuntahkan isi perutnya. Orang-orang keluar rumah bukan untuk bekerja, tapi untuk bertahan hidup.
Bagi masyarakat Jawa abad ke-17, ini bukan adegan film bencana. Ini kehidupan sehari-hari.
Serat Kandha mencatatnya dengan bahasa yang nyaris apokaliptik gempa dahsyat, gunung meletus, desa tertimbun tanah, sumber air meluap, gerhana matahari, hujan abu, wabah penyakit, kematian manusia dan ternak dalam jumlah tak terhitung. Alam seolah kompak menguji kesabaran manusia.
Dan semuanya terjadi hampir bersamaan.
Bencana yang Datang Bertubi-tubi
Pada pertengahan abad ke-17, wilayah kekuasaan Kerajaan Mataram hampir seluruh Pulau Jawa mengalami rentetan bencana yang datang tanpa jeda. Kemarau panjang lebih dulu mengeringkan ladang. Tanaman meranggas. Air menghilang. Lalu hujan turun, bukan sebagai penolong, melainkan sebagai penghancur.
Hujan deras menggenangi sawah. Gempa mengguncang pemukiman. Gunung meletus. Banjir merusak lahan. Semua berlangsung tiba-tiba. Rakyat tak punya waktu bersiap. Selama hampir dua tahun, dari 1674 hingga 1676, mereka hidup dalam kecemasan.
Bukan hanya takut mati. Mereka takut tanda-tanda ini berarti sesuatu yang lebih besar.
Dalam tradisi istana Jawa, akhir abad sering dianggap sebagai akhir sebuah tatanan. Sejarawan M.C. Ricklefs mencatat kepercayaan ini sebagai siklus runtuhnya kerajaan. Maka, bagi rakyat Mataram, bencana alam bukan sekadar musibah. Ia terasa seperti isyarat zaman yang hendak berganti.
Kelaparan: Musuh yang Datang Setelah Badai
Ketika tanah rusak dan panen gagal, bencana berikutnya muncul kelaparan. Inilah fase paling sunyi dan paling kejam.
H.J. De Graaf menulis bahwa rakyat gagal menyiapkan cadangan pangan. Distribusi dari luar daerah terhambat. Wilayah pedalaman terisolasi. Akibatnya, orang-orang hanya bergantung pada apa yang tersisa di sekitar mereka.
Harga beras melonjak liar. Pada akhir 1674, satu sekoyan beras di Mataram berharga 25 rial. Beberapa bulan kemudian, harganya melonjak drastis. Di Jepara mencapai 52 ringgit. Di pusat Mataram, angka itu melonjak hingga 150 ringgit.
Residen Belanda bahkan mencatat bahwa mencari 10 liter beras di satu tempat nyaris mustahil.
Orang-orang bertahan hidup dengan akar pohon, ubi, dan apa pun yang bisa dikunyah. Mereka menunggu panen seperti menunggu mukjizat.
Namun harapan itu kembali patah.
Panen yang Datang Terlambat
Alam sempat memberi jeda. Tanaman tumbuh rimbun. Daun menghijau. Harapan kembali muncul. Banyak yang percaya dua bulan lagi panen akan menyelamatkan segalanya.
Nyatanya, hasil panen jauh dari cukup.
Jacob Couper, Residen Belanda, menyebut panen itu begitu buruk hingga hanya hujan besar yang bisa menyelamatkan sisa harapan. Beberapa wilayah di timur Gresik memang menghasilkan beras lebih baik. Bahkan cukup untuk dijual keluar daerah.
Namun pasar berbicara lain. Ketika pedagang mendengar harga beras di Batavia mencapai 80 ringgit per sekoyan, mereka mengalihkan kapal. Jawa kembali kekurangan pangan.
Baru pada akhir 1676 keadaan sedikit membaik. Panen di pedalaman berhasil. Harga beras turun. Rakyat mulai bernapas.
Sayangnya, napas itu tidak panjang.
Ketika Alam Usai, Manusia Menyusul
Belum sempat luka mengering, perang meletus.
Perselisihan di dalam keluarga kerajaan Mataram berubah menjadi konflik terbuka. Adipati Anom, putra mahkota, memberontak terhadap ayahnya, Amangkurat I. Peperangan menyebar. Wilayah Jawa Tengah dan Timur kembali menderita.
Cadangan pangan yang baru terkumpul musnah. Rakyat kembali lapar. Babad Tanah Jawi menggambarkan situasi itu sebagai “hujan yang jatuh pada waktu tidak semestinya” datang ketika orang paling tidak siap menerimanya.
Alam telah menghajar. Kini manusia menyempurnakan penderitaan.
Refleksi Tabooo: Zaman Boleh Berubah, Polanya Sama
Kisah ini terasa jauh. Namun gema-nya masih kita dengar hari ini.
Bencana alam, krisis pangan, harga melambung, konflik elite, dan rakyat yang menanggung akibat pola itu berulang dengan wajah berbeda. Bedanya, kini kita punya teknologi, data, dan peringatan dini. Tapi rasa rapuh itu tetap sama.
Serat Kandha bukan hanya catatan sejarah. Ia cermin panjang tentang bagaimana manusia membaca tanda-tanda zaman. Tentang bagaimana alam dan kekuasaan bisa bersatu menekan yang paling lemah.
Langit Tak Selalu Ramah
Jawa pernah hidup di ujung zaman. Langit gelap. Perut kosong. Harapan tipis.
Namun dari sana, kehidupan terus bergerak.
Mungkin itu pelajaran terpentingnya: manusia selalu bertahan, meski sering terluka. Dan sejarah terus berbisik, mengingatkan bahwa setiap zaman punya bencananya sendiri. Tinggal bagaimana kita belajar sebelum langit kembali gelap. @dimas




