Cross Over Martial Arts mempertemukan MMA, Kyokushin, Aikido, dan Silat Panglipur untuk berbagi ilmu, pengalaman dan membangun silaturahmi.
Tabooo.id: Karanganyar – Empat aliran bela diri bertemu di satu matras Han Academy MMA Center, Colomadu, Karanganyar, Minggu (27/9/2026).
MMA, So Kyokushin, Aikido Hikaru Dojo, dan Silat Panglipur datang dengan karakter masing-masing. Mereka tidak datang untuk mencari siapa yang paling kuat.
Mereka datang untuk belajar.
Cross Over Martial Arts 2026 membuka ruang bagi para praktisi untuk berbagi teknik, pengalaman, relasi, dan cara pandang tentang bela diri.
Di atas matras, perbedaan itu terlihat jelas. Namun, perbedaan tidak harus berakhir menjadi pertarungan.
Justru dari perbedaan itu, ruang belajar terbuka.
Pemanasan Membuka Pertemuan Empat Aliran
Panitia membuka acara dengan sambutan. Setelah itu, seluruh peserta mengikuti pemanasan bersama.
Semua bergerak dalam satu ritme. Sekat perguruan pun sejenak menghilang.
Setelah pemanasan, rangkaian workshop dimulai.
Yohan Mulia Legowo bersama tim membuka sesi melalui workshop MMA. Peserta mengenal karakter MMA yang memadukan berbagai disiplin pertarungan.
Bagi Yohan, pertemuan tersebut memiliki makna lebih luas daripada sekadar latihan.
“Kegiatan ini seperti ajang silaturahmi antarbeladiri, menambah teman, relasi dan pengalaman. Ini juga ajang untuk saling bertukar ilmu dan pengalaman dari aliran bela diri lain untuk nanti diajarkan ke junior-junior di bela diri,” ujarnya.
Peserta kemudian mengikuti workshop So Kyokushin bersama Yohan Budiman Shihan dan tim.
Sesi ini membawa karakter latihan yang berbeda. Kyokushin menampilkan disiplin dan latihan fisik sebagai bagian penting dalam proses pembentukan seorang praktisi.
Yohan Budiman mengaku menikmati pertemuan tersebut meski tubuhnya ikut terkuras.
“Kesannya sangat senang dan cuma agak capek. Yang pasti sangat berkesan,” katanya.
Ia juga berharap panitia melanjutkan kegiatan tersebut ke gelaran berikutnya.
“Saya berharap nanti ada Cross Over Martial Arts 2, 3, dan selanjutnya,” tambahnya.
Yohan sekaligus menitipkan pesan kepada anak muda agar mengarahkan energi mereka ke kegiatan yang positif.
“Belajar bela diri agar belajar menghormati, disiplin, dan jangan gunakan energi muda kalian untuk kegiatan negatif. Gunakan untuk kegiatan positif,” jelasnya.
Aikido Menemukan Kesinambungan
Setelah Kyokushin, Aikido Hikaru Dojo mengambil giliran.
Alan Sarwono Sensei bersama tim memperkenalkan karakter Aikido melalui gerakan yang menekankan keseimbangan, pengendalian, dan respons terhadap gerakan lawan.
Sekilas, pendekatan Aikido terlihat berbeda dari Kyokushin dan MMA. Namun, pertemuan itu justru memperlihatkan adanya titik temu.
Alan mengakui panitia sempat memperkirakan acara tersebut tidak mudah.
Hasilnya berbeda. Seluruh rangkaian berjalan lancar dan membuka ruang silaturahmi.
“Acara ini berjalan dengan lancar. Tadinya kita pikir tidak mudah, namun akhirnya berjalan dengan lancar. Bisa bersilaturahmi dan saling belajar dari beberapa ilmu bela diri yang lain,” ujarnya.
Alan kemudian melihat adanya kesinambungan di antara berbagai aliran.
“Ternyata ada kesinambungan. Yang penting kita saling menghargai dan menghormati masing-masing bela diri yang ada,” jelasnya.
Pesan itu menjadi salah satu inti Cross Over Martial Arts. Setiap aliran tetap membawa identitasnya, tetapi identitas tersebut tidak menjadi penghalang untuk belajar dari aliran lain.
Silat Panglipur Membuka Perspektif
Giliran berikutnya jatuh kepada Silat Panglipur yang dipandu Rio Octaviano.
Rio membawa perspektif pencak silat ke tengah pertemuan empat aliran. Ia melihat kegiatan tersebut sebagai kesempatan untuk mengenal bela diri dari berbagai sisi.
“Kegiatan hari ini luar biasa bagus. Kalau saya lihat hari ini, kita bisa melihat bela diri dari beberapa macam perspektif,” katanya.
Menurut Rio, perbedaan aliran justru memperlihatkan sejumlah kesamaan.
“Ternyata bela diri dari bermacam-macam itu ada kesamaan dan ada hal yang bisa kita pelajari,” tambahnya.
Karena itu, Rio berharap Cross Over Martial Arts memiliki kelanjutan.
“Saya berharap acara ini, saya sampaikan ke panitia, ada lanjutan,” ujarnya.
Empat Demonstrasi, Empat Karakter
Setelah seluruh workshop, peserta menyaksikan rangkaian demonstrasi.
Rio Octaviano membuka demonstrasi melalui Silat Panglipur. Setelah itu, Alan Sarwono Sensei memperlihatkan karakter Aikido.
Demonstrasi berlanjut ke Yohan Budiman Shihan dengan So Kyokushin. Yohan Mulia Legowo bersama tim MMA kemudian menutup rangkaian tersebut.
Empat penampilan itu memperlihatkan karakter yang berbeda.
Silat Panglipur membawa tradisi pencak silat. Aikido menampilkan permainan gerak dan pengendalian. Kyokushin menunjukkan disiplin fisik. MMA mempertemukan berbagai disiplin pertarungan dalam satu sistem.
Beda teknik. Beda karakter. Namun, semuanya bertemu di satu ruang belajar.
Bukan Arena untuk Mencari yang Paling Unggul
Di balik seluruh rangkaian, ada satu gagasan yang terus muncul. Cross Over Martial Arts tidak hadir untuk menentukan aliran mana yang paling unggul.
Krisna Padmanegara, selaku inisiator, mengatakan gagasan itu lahir dari pengalamannya mempelajari lebih dari satu bela diri.
“Bela diri yang saya pelajari itu lebih dari satu bela diri. Ada satu passion dari diri saya sendiri untuk membuat workshop ini dengan tujuan untuk tidak menunjukkan siapa yang paling unggul, siapa paling efektif,” ujarnya.
Krisna menempatkan silaturahmi sebagai inti kegiatan.
“Di sini lebih kepada mengerucut kepada silaturahmi dan tidak mendiskreditkan aliran bela diri lain. Kita mari sama-sama belajar,” jelasnya.
Ia kemudian menggunakan perumpamaan tentang wadah yang kosong.
“Belajar seperti wadah yang kosong, cangkir yang kosong. Kita serap yang baik-baik dari kegiatan ini,” katanya.
Gagasan tersebut menjadi dasar Cross Over Martial Arts.
Acara ini tidak bertujuan membuat satu aliran berdiri lebih tinggi dari yang lain. Panitia juga tidak berusaha mencampur seluruh teknik menjadi satu.
Kegiatan ini membuka ruang agar para praktisi dapat melihat bela diri dari perspektif yang lebih luas.
Dari Matras, Lahir Ruang Silaturahmi
Cross Over Martial Arts 2026 meninggalkan lebih dari sekadar demonstrasi teknik.
Peserta membawa pulang relasi baru, pengalaman baru, dan pengetahuan yang bisa mereka bagikan kepada junior.
Yohan Mulia melihat pertukaran ilmu sebagai bagian penting dari pertemuan. Alan menemukan kesinambungan. Rio melihat kesamaan di balik perbedaan. Yohan Budiman berharap kegiatan terus berlanjut.
Krisna sendiri ingin menjadikan Cross Over sebagai wadah belajar yang terus berkembang.
Sudut pandang mereka berbeda. Namun, semuanya bertemu pada satu pesan saling menghormati.
Krisna bahkan memastikan rencana lanjutan sudah masuk dalam gagasan penyelenggara.
“Untuk ke depan, insyaallah pastinya akan dibuat kloter-kloter berikutnya. Ditunggu di Jakarta,” tambahnya.
Kang Yayan Hadir Lewat Video Call
Rangkaian Cross Over Martial Arts 2026 juga mendapat tambahan momen melalui video call bersama Yayan Ruhian, atau yang akrab disapa Kang Yayan.
Kang Yayan merupakan pesilat dan aktor laga asal Indonesia yang dikenal melalui kiprahnya di dunia bela diri dan perfilman laga.
Panitia menghadirkan sambungan video tersebut sebagai bagian dari rangkaian acara. Kehadirannya memperluas ruang pertemuan setelah peserta mengikuti workshop dan demonstrasi empat aliran.
Tidak ada lagi sekat perguruan dalam momen tersebut.
Yang tersisa adalah percakapan dan ruang untuk saling terhubung.
Cross Over Martial Arts 2026 akhirnya meninggalkan satu pesan sederhana.
Bela diri boleh berbeda.
Teknik boleh berbeda.
Tradisi boleh berbeda.
Namun, rasa hormat tidak perlu berbeda.
Sebab di atas matras, yang diuji bukan hanya kemampuan tubuh. Ego juga belajar menemukan batasnya. @dimas








