Cross Over Martial Arts 2026 mempertemukan Aikido, Kyokushin, MMA dan Silat Panglipur di Colomadu untuk belajar dan tumbuh bersama.
Tabooo.id: Surakarta – Di atas matras, setiap bela diri memiliki bahasa dan karakter sendiri. Aikido memiliki prinsip gerak yang khas. Kyokushin dikenal dengan latihan fisiknya. Sementara itu, MMA menggabungkan berbagai disiplin pertarungan, sedangkan Silat Panglipur membawa tradisi bela diri yang berbeda.
Perbedaan tersebut justru menjadi alasan Cross Over Martial Arts 2026 digelar.
Ajang ini mempertemukan Aikido Hikaru Dojo, So Kyokushin Dojo, MMA, dan Silat Panglipur dalam satu ruang. Para praktisi akan berbagi teknik, pengalaman, serta perspektif tanpa harus merendahkan aliran lain.

Kegiatan tersebut berlangsung pada Minggu, 27 September 2026, di Han Academy MMA Center, Colomadu, Karanganyar, Solo, Jawa Tengah. Agenda dimulai pukul 12.00 WIB dan dijadwalkan berlangsung hingga sekitar 17.30 WIB.
Bukan Mencari Bela Diri yang Paling Hebat
Perdebatan tentang efektivitas bela diri kerap muncul di tengah komunitas.
Satu aliran terkadang dianggap lebih unggul. Aliran lain bahkan mendapat stigma sebagai bela diri yang tidak efektif.
Cross Over Martial Arts 2026 mengambil jalan berbeda.
Alih-alih mempertemukan praktisi untuk mencari pemenang, kegiatan ini membuka ruang belajar bersama. Setiap peserta dapat mengenal teknik dan sudut pandang dari aliran yang berbeda.
Karena itu, penyelenggara menekankan pentingnya menghormati setiap cabang bela diri. Tidak boleh ada upaya mendiskreditkan atau memandang sebelah mata aliran lainnya.
Perbedaan bukan alasan untuk saling menjatuhkan. Sebaliknya, perbedaan bisa menjadi pintu untuk memperluas pengetahuan.
Empat Aliran, Satu Ruang Belajar
Cross Over Martial Arts menghadirkan empat aliran utama, yakni MMA, Karate atau Kyokushin, Aikido, dan Silat Panglipur.
Sesi MMA akan diisi Mas Yohan Mulia Legowo dan Charles Ebu dari Han Academy MMA Centre Solo. Keduanya akan berbagi materi bersama peserta di atas matras.
Selanjutnya, Yohan Budiman Shihan dari So Kyokushin Dojo Han Solo akan mengisi sesi Karate.
Setelah itu, giliran Alan Sarwono Sensei dari Aikido Hikaru Dojo Solo memberikan materi Aikido.
Sementara itu, sesi Silat akan dipandu Rio Octaviano dari Panglipur Jayakarta Penta.
Setiap sesi mendapat waktu sekitar 43 menit. Dengan format tersebut, peserta tidak hanya mendengar penjelasan, tetapi juga dapat mengikuti proses pembelajaran langsung di matras.
Belajar Tanpa Merendahkan
Setiap bela diri memiliki sejarah, teknik, metode latihan, dan filosofi masing-masing.
Karena itu, membandingkan semua aliran dengan satu ukuran tidak selalu menghasilkan gambaran yang utuh.
Efektivitas pun dapat bergantung pada tujuan latihan, kemampuan praktisi, konteks penggunaan, dan aturan yang berlaku.
Cross Over Martial Arts ingin menggeser perdebatan tersebut menjadi dialog.
Melalui technical sharing, peserta dapat melihat bagaimana praktisi dari aliran berbeda menjalankan latihan mereka. Di sisi lain, pengalaman itu juga membuka kesempatan untuk memahami karakter bela diri lain secara langsung.
Dengan begitu, belajar dari aliran lain tidak berarti meninggalkan identitas perguruan sendiri.
Aikido tetap Aikido. Kyokushin tetap Kyokushin. MMA tetap MMA. Silat Panglipur tetap membawa identitasnya.
Yang berubah adalah cara praktisi melihat perbedaan.
Membongkar Stigma “Tidak Efektif”
Label “tidak efektif” sering muncul ketika seseorang menilai bela diri hanya dari sudut pandang alirannya sendiri.
Padahal, setiap bela diri memiliki tujuan dan pendekatan yang berbeda. Sebuah teknik juga tidak bisa dilepaskan dari konteks latihan serta cara praktisi menggunakannya.
Oleh sebab itu, Cross Over Martial Arts membawa semangat untuk menganulir stigma tersebut.
Peserta tidak diarahkan untuk membuktikan satu aliran paling unggul. Sebaliknya, mereka mendapat kesempatan untuk belajar dan saling mendukung sebagai sesama insan bela diri.
Pertemuan menjadi lebih penting daripada perdebatan.
Ketika Matras Menjadi Tempat Silaturahmi
Bela diri memang berkaitan erat dengan kemampuan fisik. Namun, nilai yang dibangun di dalamnya tidak berhenti pada teknik.
Ada disiplin, ada rasa hormat dan ada persaudaraan.
Lebih dari itu, latihan juga mempertemukan manusia dengan latar belakang yang berbeda.
Semangat tersebut terlihat dalam tema Respect, Learn, Grow yang diusung Cross Over Martial Arts 2026.
Selain workshop, panitia juga menyiapkan demonstrasi dari masing-masing aliran. Sesi tersebut mencakup Silat, Aikido, Karate dan MMA.
Rangkaian acara kemudian ditutup dengan pesan dan kesan, doa, foto bersama, serta ramah tamah.
Dengan demikian, matras tidak hanya menjadi tempat menunjukkan kemampuan.
Matras juga menjadi ruang untuk membangun hubungan.
Ego yang Turun, Pengetahuan yang Bertambah
Ada satu hal menarik dari pertemuan berbagai aliran bela diri.
Semakin terbuka seorang praktisi untuk belajar, semakin banyak pula perspektif yang bisa ia temukan.
Sebaliknya, ego dapat membuat seseorang hanya melihat keunggulan kelompoknya sendiri. Akibatnya, ruang belajar menjadi semakin sempit.
Cross Over Martial Arts mencoba membuka ruang tersebut.
Peserta dapat membawa teknik dan pengalaman masing-masing. Pada saat yang sama, mereka juga diajak menerima pengetahuan dari praktisi lain.
Bukan untuk mengganti identitas, melainkan untuk memperkaya perspektif.
Bukan Sekadar Workshop Bela Diri
Cross Over Martial Arts 2026 pada akhirnya membawa pesan yang lebih luas daripada sekadar latihan bersama.
Kegiatan ini menjadi ruang untuk mempertemukan komunitas yang selama ini mungkin berlatih di lingkungan berbeda.
Di sana, mereka dapat bertukar pengalaman tanpa harus saling merendahkan. Mereka juga dapat membangun relasi melalui aktivitas yang sama-sama mereka cintai.
Itulah makna cross over yang ingin dibangun.
Bukan mencampur semua bela diri menjadi satu. Bukan pula menentukan siapa yang paling kuat.
Sebaliknya, kegiatan ini mempertemukan perbedaan tanpa menghilangkan identitas masing-masing.
Dalam dunia yang sering sibuk mencari siapa yang paling unggul, Cross Over Martial Arts menawarkan perspektif lain.
Kekuatan bukan hanya tentang kemampuan menjatuhkan lawan. Kekuatan juga terlihat dari kemampuan menghargai orang yang memilih jalan berbeda.
Saatnya Bertemu di Matras
Cross Over Martial Arts 2026 terbuka bagi praktisi maupun masyarakat yang ingin mengenal lebih dekat berbagai aliran bela diri.
Peserta dikenakan biaya Rp100.000 per orang. Mereka akan mengikuti rangkaian workshop, technical sharing, dan demonstrasi dari empat cabang bela diri.
Minggu, 27 September 2026
12.00-17.30 WIB
Han Academy MMA Center, Colomadu, Karanganyar, Solo, Jawa Tengah
Bagi yang ingin bergabung, pendaftaran dapat dilakukan melalui tautan resmi berikut:
Pendaftaran Cross Over Martial Arts 2026
Datang bukan untuk membuktikan aliran siapa yang paling hebat.
Datang untuk melihat, mencoba, bertanya, dan belajar.
Sebab, bela diri boleh berbeda. Namun, rasa hormat seharusnya tetap berada di satu matras. @dimas/ADV








