Tabooo.id: Deep – “Gue udah nggak butuh foto bagus lagi.”
Kalimat itu menyelinap pelan di kepala saat kaki berhenti di tengah Rotunda Galerius, Thessaloniki. Dari atas, cahaya menetes lewat oculus. Udara dingin menyentuh kulit. Ruangan terasa lengang tidak ada notifikasi, tidak ada filter. Bahkan dorongan untuk mengangkat kamera pun lenyap begitu saja.
Di satu titik kehidupan, traveling berhenti menjadi soal OOTD, boarding pass estetik, atau stiker lokasi di Instagram. Fase itu biasanya datang diam-diam. Seiring usia yang makin senior, koper justru terasa makin ringan. Pada momen seperti ini, perjalanan tidak lagi mengejar tampilan, melainkan berubah wujud menjadi catatan harian. Kadang rapi, sering berantakan, sesekali absurd. Namun justru di situ kejujurannya tinggal.
Di fase itulah Diary Gembel Internesyenel (DGI) menemukan tempat pulang.
Dalam catatan itu, Rotunda Galerius menjadi salah satu halaman paling sunyi.
Bangunan melingkar raksasa ini berdiri tanpa ekspresi. Batu menjadi inti tubuhnya, sementara waktu mengisi napasnya. Ia tidak sibuk menunggu siapa pun. Ia juga tidak mengejar simpati. Karena itu, Rotunda bukan bangunan yang meminta difoto. Sebaliknya, ia meminta direnungi.
Bangunan yang Terus Berganti Peran, Seperti Manusia
Pada awal abad ke-4, Kaisar Romawi Galerius memerintahkan pembangunan Rotunda sebagai bagian dari kompleks kekaisaran. Hingga kini, para sejarawan masih berdebat tentang fungsi awalnya. Ada yang menyebutnya mausoleum. Ada pula yang menganggapnya kuil atau simbol kuasa. Tidak satu pun teori benar-benar menang.
Namun, sejarah jarang peduli pada niat awal manusia.
Ketika Kekaisaran Romawi memeluk Kristen, Rotunda ikut menyesuaikan diri. Bangunan ini berubah menjadi basilika. Mosaik religius menghiasi dinding-dindingnya, menandai pergeseran iman sekaligus struktur kekuasaan. Akan tetapi, perubahan itu tidak berhenti di sana.
Berabad-abad kemudian, Ottoman menguasai Thessaloniki. Sekali lagi, Rotunda berganti peran. Ia berfungsi sebagai masjid. Sebuah menara adzan tumbuh di sisi selatan. Hingga hari ini, menara itu masih berdiri tidak diruntuhkan, tidak pula disembunyikan.
Setelah Yunani modern berdiri, Rotunda kembali menjalani fungsi baru sebagai gereja Kristen. Seiring waktu, perannya kembali bergeser menjadi situs arkeologi, monumen budaya, sekaligus objek wisata. Empat fungsi. Empat sistem kepercayaan. Satu bangunan.
Tidak semua bangunan sanggup menjalani hidup sepanjang itu tanpa kehilangan martabat. Seperti manusia, sebagian runtuh ketika dipaksa berubah. Namun Rotunda memilih jalan lain ia bertahan dengan cara menumpuk identitas, bukan menghapusnya.
Garis Negara, Visa, dan Rasa yang Tidak Pindah
Perjalanan dari Istanbul ke Thessaloniki menghadirkan sensasi yang aneh. Akrab, tetapi juga asing. Secara administratif, perbedaannya jelas. Turki ramah pada paspor Indonesia dengan kebijakan bebas visa. Sebaliknya, Yunani meminta visa Schengen yang mahal, rumit, dan selektif.
Meski begitu, tubuh tidak merasakan perpindahan yang drastis.
Lengkungan Romawi masih menyapa mata. Jejak Bizantium belum sepenuhnya hilang. Bayangan Ottoman tetap terasa di sudut-sudut kota. Karena itu, perjalanan ini lebih terasa seperti melanjutkan satu bab panjang, bukan membuka buku baru. Seolah garis negara hanya bekerja di meja imigrasi, bukan di jalanan, bangunan, dan ingatan kolektif.
Di tengah dunia yang sibuk menarik garis kami dan mereka, Timur dan Barat, benar dan salah kota seperti Thessaloniki justru mengacaukan logika tersebut. Ia membuktikan bahwa sejarah manusia jauh lebih cair daripada peta politik.

Perjalanan Risa Bluesaphier di Thessaloniki Yunani
Sistem yang Meminta Kita Memilih Satu Hal
Zaman sekarang sangat menyukai kejelasan. Bahkan, terlalu menyukainya. Sistem menuntut pilihan. Satu identitas. Satu kubu. Satu posisi. Media sosial mendorong bio singkat. Algoritma memuja kepastian.
Kamu siapa, Kamu percaya apa, Kamu di pihak mana?
Rotunda Galerius tidak menjawab satu pun pertanyaan itu.
Bangunan ini menolak untuk diringkas. Ia juga menolak memilih satu versi diri. Dengan caranya sendiri, Rotunda membuktikan bahwa kompleksitas bukan kelemahan, melainkan kekayaan. Bertahan hidup, dalam konteks ini, tidak selalu berarti setia pada satu bentuk.
Barangkali di situlah sistem merasa tidak nyaman. Sistem tidak suka sesuatu yang tidak bisa dikotakkan. Ia gelisah menghadapi identitas cair dan manusia yang berubah tanpa rasa bersalah.
Feed media sosial kita mencerminkan hal yang sama. Hari ini reflektif. Esok sarkastik. Lusa spiritual. Sistem menyebutnya tidak konsisten. Tubuh justru menyebutnya jujur.
Panggilan yang Tidak Pernah Punya Alasan Logis
Setiap kali berhadapan dengan peninggalan sejarah, rasa tertarik itu selalu muncul. Sulit dijelaskan. Bukan karena hafal tanggal. Bukan pula karena paham teori. Rasanya lebih seperti panggilan halus yang datang tanpa undangan.
Apakah ini sekadar suka?
Atau ada misi jiwa yang belum kita pahami?
Tidak ada jawaban pasti.
Yang jelas, perjalanan seperti ini jarang lahir dari rencana matang. Biasanya, ia berawal dari ketertarikan kecil. Pikiran lalu bekerja tanpa henti. Pencarian berlangsung hingga larut malam. Setelah itu, tidur berubah menjadi musuh.
Namun anehnya, jalan selalu terbuka. Tiket murah muncul. Undangan datang. Kesempatan terasa mendekat. Dengan budget minim bahkan nyaris gratis perjalanan tetap terjadi. Seolah semesta tidak pelit pada mereka yang mau berjalan ringan.
Empat puluh negara mungkin terdengar biasa. Bagi mereka yang sudah mencatat seratus negara, angka itu nyaris tidak berarti. Namun DGI tidak pernah bicara soal angka. Ia bicara tentang proses. Tentang keberanian untuk tetap berangkat, meski tidak selalu tahu alasannya.
Menjadi Senior, Tanpa Berhenti Bergerak
Di dalam Rotunda Galerius, usia terasa tidak relevan. Bangunan ini telah melewati kekaisaran, agama, dan ideologi. Ia menyaksikan manusia datang dengan keyakinan penuh, lalu pergi meninggalkan reruntuhan. Dibanding semua itu, usia manusia terasa kecil.
Karena itu, menjadi senior mungkin bukan tentang berhenti berjalan. Justru sebaliknya, ia tentang berjalan dengan lebih jujur. Tanpa kebutuhan untuk membuktikan apa pun. Tanpa dorongan untuk terlihat.
Pada akhirnya, DGI bukan tentang menjadi gembel. Ia tentang melepaskan beban yang tidak perlu. Tentang bergerak secukupnya. Tentang percaya bahwa hidup tidak harus lurus agar bermakna.
Di bawah oculus Rotunda, ketika cahaya jatuh perlahan, satu pertanyaan menggantung tanpa jawaban:
Apakah kita benar-benar perlu menjadi satu hal saja?
Ataukah cukup terus berjalan, menumpuk cerita, dan membiarkan waktu mengerjakan sisanya?
Jika suatu hari kita merasa seperti gembel di negeri orang, mungkin itu bukan kekurangan. Mungkin justru tanda bahwa kita masih hidup. Masih ingin tahu. Dan masih bersedia dipanggil oleh dunia meski tanpa jaminan apa pun.
Dan bukankah itu, pada akhirnya, bentuk kebebasan paling jujur?
Tabooo.id DEEP/ Naskah ini diadaptasi oleh redaksi Tabooo.id ( Risa Bluesaphier Jurnalis Travel Tabooo.id)




