Sabtu, Juni 6, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Bukan Sekadar Lagu Baru, Ini Cara ADA Band Bertahan Hampir 30 Tahun

by eko
Mei 8, 2026
in Culture, Musik
A A
Home Culture
Share on FacebookShare on Twitter

Tabooo.id: Musik – Ada fase ketika kita tidak lagi mencari lagu yang keras. Sebaliknya, kita mencari lagu yang terasa dekat. Di titik itu, ADA Band merilis video musik terbaru berjudul Selalu Ada. Menariknya, lagu ini tidak terasa seperti rilisan baru. Lagu ini justru terasa seperti memori lama yang kembali muncul.

Lagu Baru, Rasa yang Tidak Pernah Hilang

Pertama, lagu ini tidak mengejar tren.
Sebaliknya, lagu ini menunjukkan bahwa ADA Band paham identitasnya.

Tema yang mereka angkat terdengar sederhana: kehadiran.
Namun, maknanya terasa dalam karena mereka tidak membahas hadir secara fisik.

Mereka membahas hadir di ingatan.
Mereka membahas orang yang sudah tidak di samping kita, tetapi masih hidup di cerita kita.

Aransemen Baru, Karakter Lama Tetap Terasa

Secara musikal, mereka memilih aransemen yang lebih intim dan modern.
Meski begitu, karakter khas ADA Band tetap terasa jelas.

Ini Belum Selesai

Lirik Asli Genjer-Genjer: Lagu yang Dipaksa Memikul Dosa Politik

Film Jangan Buang Ibu: Kesepian di Balik Pengorbanan

Melodi hangat langsung menyapa pendengar.
Selain itu, lirik emosional mengikat perasaan sejak awal lagu.

Dika Satjadibrata menulis lagu ini dari banyak kisah nyata tentang pertemuan dan perpisahan. Karena itu, lagunya terasa jujur dan tidak dibuat-buat.

Pendengar lama merasa pulang.
Sementara itu, pendengar baru tetap bisa masuk tanpa merasa asing.

Lirik yang Lahir dari Pengalaman Nyata

Salah satu liriknya berbunyi:
“semua datang dan pergi, mewarnai cerita kita.”

Kalimat ini lahir dari pengalaman personal Naga saat berpisah dengan band sebelumnya.

Dari sana, ia tidak melihat perpisahan sebagai akhir.
Sebaliknya, ia melihatnya sebagai cara memahami arti kebersamaan.

Di titik itu, lagu ini berubah fungsi.
Lagu ini tidak lagi sekadar hiburan. Lagu ini menjadi refleksi.

Visual Sederhana, Emosi Tetap Kuat

Video klipnya tidak menampilkan cerita rumit.
Sebaliknya, mereka memilih pendekatan yang dekat dengan realitas.

Momen kecil tampil dominan. Gestur ringan terasa penting. Tatapan biasa berubah bermakna.

Justru lewat kesederhanaan itu, emosi terasa lebih nyata.

Bertahan di Tengah Industri yang Terus Berubah

Industri musik berubah sangat cepat dalam dua dekade terakhir.
Dari kaset, CD, unduhan digital, lalu masuk ke era streaming.

Banyak band berhenti di tengah jalan.
Sebaliknya, ADA Band terus berjalan.

Mereka tidak panik menghadapi tren.
Mereka menyesuaikan diri tanpa meninggalkan karakter.

Perilisan video musik ini pada 10 April 2026 di YouTube resmi mereka menegaskan satu hal: konsistensi masih relevan.

Ini Bukan Sekadar Lagu, Ini Tentang Memori

Pada akhirnya, “Selalu Ada” terasa seperti pengingat tentang hidup.
Setiap orang mungkin pergi.

Namun, setiap orang pasti meninggalkan cerita.

Karena itu, lagu seperti ini tetap dibutuhkan.

Ini Dampaknya Buat Kamu

Kalau kamu pernah kehilangan seseorang, lagu ini terasa sangat personal.
Selain itu, kalau kamu pernah bertahan dalam hubungan atau persahabatan, liriknya terasa seperti cermin.

Musik seperti ini sering menjadi tempat pulang bagi perasaan yang sulit kamu jelaskan.

Kenapa Lagu Seperti Ini Masih Penting

Sekarang, banyak lagu dibuat untuk viral cepat.
Akibatnya, banyak lagu lewat tanpa meninggalkan jejak.

Sebaliknya, “Selalu Ada” menawarkan kedalaman emosi.
Lagu ini memilih tinggal lama di kepala, bukan sekadar lewat di timeline.

Karena jujur saja, tidak semua lagu viral bisa kamu ingat besok pagi.

Closing

Di dunia yang bergerak cepat, kita mungkin tidak butuh lagu yang paling ramai.
Sebaliknya, kita butuh lagu yang paling dekat.

Jadi, masih adakah ruang untuk musik yang bertahan lama di era serba instan ini?@eko

Tags: Lagu Indonesia

Kamu Melewatkan Ini

“Apakah Selamanya Politik Itu Kejam?” Pertanyaan Lama yang Belum Dijawab Negeri Ini

Apakah Selamanya Politik Itu Kejam?

by eko
Mei 28, 2026

“Apakah selamanya politik itu kejam?” Iwan Fals menulis pertanyaan itu puluhan tahun lalu lewat lagu “Sumbang”. Namun sampai hari ini,...

Salah Timing, Bukan Salah Orang: Makna Lagu Waktu yang Salah

Salah Timing, Bukan Salah Orang: Makna Lagu Waktu yang Salah

by eko
Mei 8, 2026

Tabooo.id: Entertainment - Pernah nggak sih kamu merasa hidup ini jahat tapi elegan? Terutama urusan cinta. Kita sudah siap, sudah...

Belajar Hadir Lewat Sedia Aku Sebelum Hujan Idgitaf

Belajar Hadir: Sedia Aku Sebelum Hujan, Idgitaf

by eko
Januari 5, 2026

Tabooo.Id: Musik - Pernah nggak sih kamu merasa baik-baik saja di pagi hari, lalu sore-nya mendadak ingin diam? Kamu memutar...

Next Post
21 Jam Negosiasi Tanpa Hasil: Damai atau Sekadar Strategi Tekanan Baru?

Iran dan AS Kembali Gelar Perundingan Dua Hari Lagi: Damai atau Sekadar Jeda Ketegangan?

Madilog Series

Logika: Senjata Pembebasan yang Jarang Dipakai – Madilog Series #3.1

Logika: Senjata Pembebasan yang Jarang Dipakai – Madilog Series #3.1

Juni 2, 2026
Pemberontakan Tidak Selalu Berhenti Sebagai Pemberontakan – Madilog Series #2.5

Pemberontakan Tidak Selalu Berhenti Sebagai Pemberontakan – Madilog Series #2.5

Mei 27, 2026
Timeline Sejarah: Semua Perubahan Besar Selalu Dimulai dari Benturan – Madilog Series #2.4

Timeline Sejarah: Semua Perubahan Besar Selalu Dimulai dari Benturan – Madilog Series #2.4

Mei 25, 2026

Marx Series

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026

Uang Menjadi Kapital: Ketika Uang Berubah Jadi Mesin Penghisap – Marx Series #1.3

Mei 29, 2026

Fetisisme Komoditas: Saat Barang Terlihat Lebih Penting daripada Manusia – Marx Series #1.2

Mei 25, 2026

Komoditas: Cara Pasar Menyembunyikan Kerja Manusia – Marx Series #1.1

Mei 17, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id