Tabooo.id: Film – Ghost in The Cell bukan sekadar film seram, ini sinyal bahwa horor Indonesia sedang naik kelas. Buktinya, film horor yang biasanya cuma bikin takut, tapi yang satu ini malah bikin dunia melirik.
Film terbaru karya Joko Anwar ini sukses menembus pasar internasional bahkan sebelum tayang di dalam negeri. Film ini telah dibeli oleh distributor dari 86 negara, yang berarti akan diputar secara luas di berbagai wilayah dunia.
Capaian ini bukan angka kecil. Negara-negara yang terlibat mencakup kawasan Asia, Eropa, hingga Amerika, yang dikenal memiliki standar industri film yang ketat dan kompetitif.
Melalui unggahan di akun Instagram @jokoanwar, Joko Anwar mengonfirmasi bahwa film ini akan tayang di Indonesia mulai 16 April. Namun sebelumnya, akan ada tayangan terbatas pada 4 dan 5 April di 16 kota besar, termasuk Jakarta, Bandung, Surabaya, hingga Makassar.
Tiket untuk screening awal ini dijual melalui TixID dan bersifat terbatas. Artinya, tidak semua penonton bisa mendapatkan akses lebih dulu.
INI BUKAN SEKADAR HOROR
Ghost in The Cell bukan sekadar film horor yang mengandalkan jumpscare. Ini adalah bukti bahwa genre horor Indonesia sudah punya daya tarik global.
Selama ini, horor sering dianggap “pasar lokal”. Namun Ghost in The Cell menunjukkan bahwa cerita, atmosfer, dan kualitas produksi kini sudah bisa bersaing di level internasional.
Bukti Karya Indonesia Diapresiasi Dunia
Buat kamu yang sering meremehkan film lokal, ini jadi wake-up call. Karya Indonesia ternyata bisa lebih dulu diapresiasi dunia, bahkan sebelum kita sendiri benar-benar melihatnya.
Sekarang pilihan ada di kamu, mau jadi penonton yang ikut dari awal atau baru percaya setelah viral?
Evolusi Industri Film Indonesia
Keberhasilan Ghost in The Cell bukan kebetulan. Ini adalah hasil dari evolusi industri film Indonesia dalam beberapa tahun terakhir.
Dari sisi storytelling, produksi, hingga pemasaran, semuanya mulai bergerak ke arah global. Dan horor, yang dulu dianggap genre “murah”, sekarang justru menjadi pintu masuk ke pasar dunia.
Masalahnya, pola lama masih terasa. Kita sering menunggu pengakuan luar negeri sebelum benar-benar mengapresiasi karya sendiri.
Kalau horor Indonesia sudah bisa bikin dunia tertarik, lalu kenapa kita masih ragu untuk menonton? Atau mungkin… yang berubah bukan filmnya, tapi cara kita melihatnya?



