Senin, Oktober 19, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

BRIN 5 Tahun: Kita Serius Bangun Sains, atau Sekadar Suka Seremoni?

by teguh
April 28, 2026
in Deep
A A
Home Deep
Share on Facebook
Share on Twitter
Selasa, 28 April 2026, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) merayakan ulang tahun kelima dengan tema Inovasi untuk Negeri. Capaian dipamerkan, optimisme diumumkan, arah masa depan ditegaskan. Namun pertanyaan yang lebih penting justru belum selesai Indonesia sungguh membangun peradaban sains, atau hanya merapikan panggung seremoni?

Tabooo.id: Deep – Kepala BRIN, Arif Satria, menyebut lima tahun terakhir sebagai fase penting membangun ekosistem riset nasional yang lebih terintegrasi, kolaboratif, dan berorientasi solusi. Ia menegaskan BRIN bukan sekadar lembaga riset, melainkan “rumah besar inovasi nasional.”

Ucapan itu layak diapresiasi. Selama puluhan tahun, riset Indonesia berjalan terpencar. Kampus meneliti untuk jurnal, industri sibuk mengejar pasar, sementara pemerintah kerap datang terlambat.

Kini BRIN mencoba menyatukan ruang yang lama terpisah. Langkah tersebut penting. Tetapi rumah baru tidak otomatis melahirkan budaya kerja baru.

Persoalan utama negeri ini bukan semata kekurangan lembaga. Hambatan terbesar justru budaya riset yang belum tumbuh menjadi kebiasaan nasional.

Kenapa Inovasi Sering Mati di Seminar?

Indonesia rajin menggelar seminar, konferensi, forum inovasi, dan pameran teknologi. Sayangnya, terlalu banyak gagasan berhenti setelah sesi foto bersama.

Ini Belum Selesai

BBM Tersendat, ASN WFH Jadi Jawaban: Bagaimana dengan Akar Masalahnya?

Prabowo Bertemu Guterres di Hambalang: Diplomasi Akrab, Hasilnya Harus Terukur

Akar masalahnya cukup jelas. Riset kerap diperlakukan sebagai proyek administrasi, bukan kebutuhan strategis. Sebagian peneliti mengejar angka kredit. Banyak kampus memburu peringkat. Sejumlah birokrasi puas pada laporan. Akibatnya, dampak nyata sering tertinggal.

Ekonom Mariana Mazzucato berulang kali menekankan bahwa negara maju tumbuh karena berani membiayai inovasi jangka panjang. Amerika Serikat mendorong internet dan GPS. Korea Selatan membesarkan industri melalui investasi sains agresif.

Indonesia kerap ingin panen cepat, tetapi enggan menanam akar panjang.

Hilirisasi: Populer Diucap, Sulit Dijalankan

Arif Satria menegaskan BRIN akan mempercepat hilirisasi agar riset tidak berhenti di laboratorium. Arah ini tepat, tetapi hilirisasi bukan mantra ajaib.

Keberhasilan hilirisasi memerlukan tiga syarat utama:

  1. Industri yang mau menyerap teknologi lokal
  2. Regulasi yang cepat dan sederhana
  3. Pendanaan berani untuk tahap komersialisasi

Selama ini, banyak prototipe lokal menjanjikan, namun kalah oleh produk impor yang lebih murah dan mudah masuk pasar.

Sejumlah insinyur teknologi sering mengingatkan inovasi gagal bukan karena ide buruk, melainkan karena ekosistem enggan menjemput hasil riset.

Jadi, jangan buru-buru menyalahkan peneliti. Kadang pasar kita sendiri belum siap menghargai ilmu.

Negara Maju Dibangun dari Laboratorium

Jepang bangkit lewat manufaktur presisi. Jerman kokoh melalui rekayasa industri. Korea Selatan melesat dengan R&D. China mendorong AI, chip, dan energi masa depan lewat investasi besar. Mereka tidak menunggu isu viral untuk serius pada sains.

Indonesia memiliki bonus demografi, sumber daya alam, dan pasar besar. Namun tanpa fondasi ilmu pengetahuan, semua itu hanya modal mentah.

Sosiolog Daniel Bell pernah menggambarkan hadirnya knowledge society, yaitu masyarakat yang menjadikan pengetahuan sebagai mesin ekonomi. Jika itu benar, maka negara yang cuek pada riset sedang menyiapkan ketertinggalannya sendiri.

BRIN Bisa Jadi Titik Balik

Peluang BRIN terbuka lebar. Namun lembaga ini harus berani memutus kebiasaan lama:

  • seremoni lebih besar dari substansi
  • birokrasi lebih kuat dari kreativitas
  • laporan lebih penting dari hasil nyata

Tanpa perubahan itu, BRIN hanya menjadi gedung besar dengan jargon besar.

Sebaliknya, jika berhasil, BRIN bisa menyalakan pertanian cerdas, energi baru, layanan kesehatan murah, mitigasi bencana cepat, dan industri berbasis teknologi lokal.

Ini Bukan Soal Ulang Tahun

Lima tahun BRIN layak dicatat, tetapi usia bukan ukuran keberhasilan. Dampak nyata adalah ukuran sesungguhnya.

Rakyat tidak hidup dari slogan inovasi. Petani memerlukan benih unggul. Nelayan membutuhkan teknologi cuaca. UMKM perlu mesin efisien. Rumah sakit memerlukan alat murah. Anak muda membutuhkan ruang meneliti tanpa tenggelam dalam birokrasi.

Pertanyaannya sederhana ketika dunia berlari membangun masa depan lewat sains, Indonesia mau ikut melaju atau masih sibuk meniup lilin seremoni?. @teguh

Tags: brinDampakLaboratoriumSains

Kamu Melewatkan Ini

Karhutla Belum Padam, BRIN Uji Tepung Singkong Untuk Lawan Api

Karhutla Belum Padam, BRIN Uji Tepung Singkong Untuk Lawan Api

by dimas
Agustus 29, 2026

Karhutla belum padam di sejumlah wilayah Indonesia. BRIN dan Polri menguji tepung singkong atau ubi bombing untuk membantu memadamkan api....

Ketika Netizen Lebih Gercep dari Institusi Negara

Ketika Netizen Lebih Gercep dari Institusi Negara

by Waras
Juni 2, 2026

Hari Pancasila tahun ini malah memunculkan pertanyaan yang agak ironis:kenapa netizen justru lebih cepat sadar soal kesalahan simbol negara dibanding...

BRIN Salah Unggah Garuda: Ironi di Hari Pancasila

BRIN Salah Unggah Garuda: Ironi di Hari Pancasila

by Waras
Juni 2, 2026

Hari Pancasila biasanya dipenuhi ucapan nasionalisme, poster merah putih, dan kutipan tentang persatuan. Tapi tahun ini, perhatian publik justru tertuju...

Next Post
Kicau Mania: Lagu Viral, Realita “Cah Gantangan”

Kicau Mania: Saat Lagu Viral Mengungkap Filosofi Jawa

Madilog Series

Logika vs Emosi: Siapa yang Sebenarnya Mengendalikan Kamu? – Madilog Series #3.5

Logika vs Emosi: Siapa yang Sebenarnya Mengendalikan Kamu? – Madilog Series #3.5

Agustus 24, 2026
Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Juli 7, 2026
Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026

Marx Series

Mesin dan Industri Modern: Teknologi Membebaskan atau Membuat Pekerja Makin Mudah Diganti?

Mesin dan Industri Modern: Teknologi Membebaskan atau Membuat Pekerja Makin Mudah Diganti?

Agustus 25, 2026

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Juli 16, 2026

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Juni 20, 2026

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id