Tabooo.id: Nasional – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mendeteksi kemunculan Siklon Tropis Mitchell di kawasan selatan Indonesia. Informasi itu BMKG sampaikan melalui akun Instagram resmi @infobmkg pada Sabtu (7/2/2026).
BMKG mencatat, sistem ini berkembang dari Bibit Siklon Tropis 98P. Siklon Mitchell resmi mencapai intensitas siklon tropis pada Jumat (6/2/2026) pukul 19.00 WIB.
Pada Sabtu malam, BMKG memantau pusat siklon berada di perairan barat Australia. Sistem cuaca tersebut terus bergerak menjauhi wilayah Indonesia.
Sebagai badai bertekanan rendah di atas perairan hangat, siklon tropis biasanya memicu hujan lebat, angin kencang, dan gelombang tinggi. Karena itu, BMKG tetap mengantisipasi dampak tidak langsung meski pusat siklon berada di luar Indonesia.
Gelombang Tinggi Mengintai Perairan Selatan
BMKG menyebut dampak utama Siklon Tropis Mitchell terhadap Indonesia berupa peningkatan tinggi gelombang laut. Dampak ini berlangsung dalam 24 jam hingga Minggu (8/2/2026) pukul 19.00 WIB.
Di Laut Sawu dan Samudra Hindia selatan Nusa Tenggara Timur, tinggi gelombang diperkirakan mencapai 1,25 hingga 2,5 meter. Kondisi tersebut masuk kategori gelombang sedang.
Sementara itu, gelombang setinggi 2,5 hingga 4 meter berpotensi terjadi di Samudra Hindia selatan Jawa Barat hingga Nusa Tenggara Barat. BMKG mengategorikan kondisi ini sebagai rough sea.
Gelombang tinggi ini berisiko bagi masyarakat pesisir. Nelayan tradisional dan pelayaran skala kecil menjadi kelompok yang paling terdampak.
BMKG Imbau Nelayan Tingkatkan Kewaspadaan
BMKG mengimbau masyarakat pesisir dan pelaku aktivitas kelautan agar meningkatkan kewaspadaan. Gelombang tinggi dan arus kuat dapat membahayakan keselamatan pelayaran.
BMKG menilai kapal kecil dan perahu nelayan menghadapi risiko paling besar. Karena itu, BMKG meminta nelayan memantau informasi cuaca secara berkala.
BMKG juga menegaskan bahwa cuaca ekstrem bisa berubah cepat. Kondisi ini tetap berbahaya meski pusat siklon berada di luar wilayah Indonesia.
Siklon Bergerak Menjauh, Dampak Mulai Mereda
Perkembangan terbaru menunjukkan Siklon Tropis Mitchell terus menjauh dari Indonesia. Pada Minggu (8/2/2026), sistem ini sepenuhnya berada di perairan barat Australia.
Prakirawan Tropical Cyclone Warning Centre (TCWC) Jakarta BMKG, Afif Shalahuddin, menjelaskan bahwa siklon memiliki kecepatan angin maksimum sekitar 65 knot atau 120 kilometer per jam. Kecepatan ini masuk kategori siklon tropis kategori 3.
Namun, arah pergerakan ke barat hingga barat daya membuat siklon semakin menjauh dari wilayah Indonesia.
“Posisi siklon sudah berada di luar wilayah monitoring TCWC Jakarta dan tidak lagi memberikan dampak terhadap cuaca maupun perairan Indonesia,” ujar Afif.
Afif memprediksi intensitas Siklon Tropis Mitchell akan melemah dalam 24 jam ke depan. Sistem ini diperkirakan turun ke kategori 2 saat mendekati pesisir barat Australia.
Cuaca Ekstrem dan Pentingnya Kesiapsiagaan
Peristiwa ini kembali menegaskan pentingnya kesiapsiagaan publik terhadap cuaca ekstrem. Perubahan iklim global membuat pola siklon semakin sulit diprediksi.
Dampak cuaca ekstrem dapat meluas meski pusat badai berada jauh dari Indonesia. Kondisi ini menjadi tantangan serius bagi negara kepulauan.
Siklon memang bisa menjauh, tetapi kewaspadaan tidak boleh berkurang. Di Indonesia, cuaca ekstrem bukan sekadar soal alam, melainkan juga soal keselamatan dan keberlangsungan hidup banyak orang. @dimas




