Tabooo.id: Check – Pernah kebayang manusia digantikan mesin untuk hamil? Kedengarannya seperti film sci-fi. Tapi sekarang, narasi itu kembali viral—dan banyak orang langsung percaya tanpa cek ulang.
Unggahan dari akun X “KangManto123” muncul pada Senin (26/2/2026). Dalam postingannya, ia mengklaim China mengembangkan “robot hamil” yang bisa menggantikan peran ibu. Hingga Selasa, unggahan ini mengumpulkan 70 likes, 55 komentar, dan 18 kali dibagikan ulang. Meski angkanya tidak besar, efeknya tetap terasa karena informasi ini menyebar cepat.
Klaimnya Viral, Tapi Sumbernya Bermasalah
Namun, hasil cek fakta Tempo.co menunjukkan hal berbeda. Narasi ini sebenarnya sudah beredar sejak Agustus 2025.
Saat itu, cerita menyebut seorang ilmuwan bernama Zhang Qifeng dari Nanyang Technological University (NTU), Singapura. Ia diklaim mengembangkan robot kehamilan lewat perusahaan Kaiwa Technology.
Sayangnya, fakta tidak mendukung cerita ini.
Pihak NTU langsung memberi klarifikasi. Mereka tidak mengenal nama Zhang Qifeng. Mereka juga tidak menjalankan riset tentang robot kehamilan. Selain itu, mereka tidak pernah meluluskan doktor dengan nama tersebut.
Dengan kata lain, klaim ini runtuh sejak awal.
Faktanya Ada, Tapi Beda Jauh
Meski begitu, perkembangan teknologi di bidang ini memang ada. Namun, arah penelitiannya berbeda jauh dari klaim viral tadi.
Sebagai contoh, peneliti di Children’s Hospital of Philadelphia (CHOP) mengembangkan alat bernama Extend. Mereka merancang alat ini untuk membantu bayi prematur bertahan hidup di luar rahim.
Sistem ini bekerja dengan kantung berisi cairan mirip ketuban. Selain itu, alat oksigenator menggantikan fungsi plasenta agar bayi tetap mendapat suplai oksigen.
Pada 2017, tim peneliti menguji teknologi ini pada janin domba. Hasilnya cukup menjanjikan. Janin tersebut mampu bertahan hingga satu bulan dengan perkembangan yang mendekati kondisi alami.
Namun demikian, teknologi ini masih dalam tahap penelitian. Para ilmuwan belum menggunakannya secara luas pada manusia.
Di sisi lain, startup AquaWomb di Jerman juga mengembangkan konsep serupa. Mereka fokus menciptakan lingkungan aman bagi bayi prematur ekstrem. Meski begitu, para peneliti masih menghadapi tantangan besar, terutama dalam meniru fungsi paru-paru secara optimal.
Kenapa Hoaks Ini Mudah Dipercaya?
Pertama, narasinya terdengar canggih. Kedua, topiknya menyentuh masa depan manusia. Karena itu, banyak orang langsung tertarik tanpa berpikir panjang.
Selain itu, perkembangan AI dan robotik membuat batas antara fakta dan imajinasi terasa semakin tipis. Akibatnya, publik lebih mudah percaya pada klaim ekstrem.
Padahal, jika ditelusuri, logikanya sering tidak masuk akal.
Kesimpulan: Bukan Teknologi, Tapi Narasi Viral
Jadi, kita bisa simpulkan dengan jelas. Tidak ada robot hamil dari China. Tidak ada ilmuwan bernama Zhang Qifeng di NTU. Dan tidak ada teknologi yang mampu menggantikan peran ibu mengandung.
Sebaliknya, para ilmuwan justru fokus menyelamatkan bayi prematur melalui riset medis yang kompleks.
Karena itu, kamu perlu lebih kritis saat menerima informasi. Jangan langsung percaya hanya karena terdengar futuristik.
Sebelum kamu klik “share”, coba tanya satu hal sederhana: ini fakta, atau cuma cerita yang kebetulan viral?@eko



