Tabooo.id: Deep – Di setiap sudut dekat Pasar Klewer, seorang lelaki tua langsung merebahkan tubuhnya di atas becak yang seharian ia kayuh. Ia tidak menuju rumah, tidak membuka pintu, dan tidak menyalakan lampu. Sebaliknya, ia berhenti di tempat yang sama di jalan yang terus dilalui orang lain.
Saat siang berubah menjadi malam, suasana kota ikut berganti. Keramaian yang tadi terasa hangat mendadak menjauh, lalu menyisakan ruang asing yang dingin. Becak itu pun kehilangan fungsi utamanya. Ia tak lagi mengantar orang, melainkan menampung tubuh yang kelelahan. Besi dingin menggantikan kasur, sementara roda menjadi batas sempit yang memisahkan ruang pribadi dari kerasnya jalanan.
Di tengah kota yang terus bergerak maju, sebagian orang justru berhenti di tempat yang sama tanpa pilihan untuk pulang.

Siang yang Gemerlap, Malam yang Membuka Luka
Pada siang hari, Surakarta menampilkan wajah terbaiknya. Wisatawan memenuhi kawasan pasar, transaksi batik berlangsung cepat, dan geliat ekonomi terasa hidup. Kota tampak percaya diri sebagai pusat budaya yang terus berkembang.
Namun ketika malam turun, realitas yang berbeda perlahan muncul.
Setelah toko-toko menutup dan keramaian mereda, beberapa tukang becak tetap bertahan di lokasi yang sama. Mereka tidak pulang bukan karena memilih, melainkan karena tidak memiliki tempat untuk kembali. Selain itu, jarak kampung yang jauh dan ongkos yang mahal mempersempit pilihan. Di saat yang sama, penghasilan harian sering kali hanya cukup untuk makan, bukan untuk menyewa tempat tinggal.
Akibatnya, becak mengalami perubahan makna. Ia tidak lagi sekadar alat transportasi, tetapi menjadi ruang terakhir untuk bertahan hidup.
Rumah yang Rapuh di Atas Roda
Dalam kondisi seperti itu, becak berubah menjadi rumah darurat yang tidak pernah benar-benar aman. Tubuh harus menyesuaikan ruang sempit, kaki terlipat, dan punggung bersandar pada rangka besi. Sementara itu, barang-barang pribadi digantung seadanya, tanpa jaminan akan tetap utuh hingga pagi.
Ketika hujan turun, mereka mengandalkan terpal tipis sebagai pelindung. Namun air tetap merembes, angin tetap menembus, dan dingin tetap terasa. Tidak ada dinding yang kokoh, tidak ada atap yang benar-benar melindungi.
Akhirnya, mereka tidur di ruang terbuka di bawah lampu jalan, di antara suara kendaraan yang tak pernah benar-benar hilang. Di titik ini, ironi terasa begitu nyata: becak yang dulu mengantar orang menuju rumah kini justru menjadi rumah yang paling rentan.
Kota Bergerak Cepat, Sebagian Orang Tertinggal
Sementara itu, perubahan kota berlangsung cepat. Transportasi berbasis aplikasi mengambil alih jalan, kendaraan bermotor mendominasi ruang, dan efisiensi menjadi ukuran utama. Sekilas, semua tampak sebagai kemajuan.
Namun di balik percepatan tersebut, ada kelompok yang tidak ikut bergerak.
Tukang becak kehilangan peran dalam sistem baru. Mereka tidak terhubung dengan teknologi, tidak masuk dalam perencanaan transportasi modern, dan tidak memiliki cukup akses untuk beradaptasi. Akibatnya, ruang mereka semakin sempit, peluang semakin kecil, dan keberadaan mereka perlahan memudar.
Meski tidak ada penggusuran fisik, dampaknya tetap terasa. Sistem baru menggantikan yang lama tanpa menyediakan jembatan bagi mereka yang tertinggal. Dengan kata lain, kota memang bergerak maju, tetapi tidak semua orang diajak ikut.
Tubuh yang Terus Dipaksa Bertahan
Di sisi lain, usia menjadi tantangan yang tidak bisa dihindari. Sebagian besar tukang becak telah melewati masa produktif. Tubuh mereka menyimpan kelelahan panjang, sementara tenaga semakin berkurang.
Meski begitu, mereka tetap bekerja setiap hari. Mereka tidak memiliki banyak pilihan, sehingga bertahan menjadi satu-satunya jalan yang tersedia. Beralih pekerjaan membutuhkan keterampilan baru, sedangkan waktu dan kondisi tidak memberi ruang untuk memulai kembali.
Lebih jauh lagi, malam tidak benar-benar memberi istirahat. Tidur di atas becak membuat tubuh tetap siaga, sehingga rasa aman tidak pernah utuh. Akibatnya, kelelahan tidak pernah benar-benar hilang, melainkan terus terbawa ke hari berikutnya.
Tradisi Dijual, Pelaku Dilupakan
Di satu sisi, becak kerap ditampilkan sebagai simbol tradisi kota. Ia hadir dalam foto promosi, materi wisata, dan narasi tentang keaslian budaya. Kota memanfaatkan citra tersebut untuk memperkuat identitasnya.
Namun di sisi lain, para tukang becak tidak menikmati manfaat dari citra itu.
Mereka tetap berada di posisi paling rentan. Tidak ada integrasi yang kuat dengan sektor pariwisata, tidak ada perlindungan yang memadai, dan tidak ada sistem yang menjamin keberlanjutan hidup mereka. Dengan demikian, tradisi hanya dipertahankan sebagai simbol, sementara pelakunya dibiarkan berjuang sendiri.
Kebijakan yang Tidak Menjangkau Jalanan
Berbagai program pemberdayaan sebenarnya sering dibahas. Pemerintah mengangkat isu sektor informal dalam forum resmi, menawarkan pelatihan, bantuan sosial, hingga rencana integrasi transportasi tradisional.
Namun kenyataan di lapangan menunjukkan hal berbeda.
Tukang becak masih berada di posisi yang sama. Mereka jarang merasakan dampak nyata dari kebijakan tersebut. Selain itu, tidak tersedia ruang khusus yang benar-benar melindungi mereka, dan tidak ada sistem yang memasukkan mereka ke dalam solusi kota.
Akibatnya, kebijakan tampak hadir secara konsep, tetapi tidak terasa dalam kehidupan sehari-hari. Ketika kondisi ini terus berulang, masalah yang sama pun terus bertahan tanpa perubahan berarti.
Sikap Tabooo: Ketika Kota Kehilangan Rasa Malu
Fenomena ini seharusnya menjadi cermin yang mengganggu. Di kota yang terus mempercantik diri, keberadaan manusia yang tidur di atas alat kerjanya sendiri menunjukkan celah besar dalam pembangunan.
Masalah ini bukan sekadar ekonomi, melainkan soal cara pandang. Ketika becak berubah menjadi rumah, itu bukan tanda kreativitas, melainkan bukti bahwa sistem gagal melindungi semua warganya.
Karena itu, ukuran kemajuan tidak cukup dilihat dari infrastruktur atau jumlah wisatawan. Sebaliknya, kota harus dinilai dari bagaimana ia memperlakukan kelompok paling rentan. Tanpa ruang hidup yang layak, semua klaim kemajuan kehilangan makna.
Pertanyaan yang Terus Menggantung
Menjelang larut malam, kawasan sekitar Pasar Klewer kembali sunyi. Lampu jalan tetap menyala, tetapi kehidupan sebagian orang menyempit di atas roda yang sama.
Keesokan paginya, mereka akan bangun di tempat yang sama, lalu mengulang hari yang serupa. Sementara itu, kota kembali ramai, transaksi kembali berlangsung, dan wisatawan kembali berdatangan.
Namun satu pertanyaan tetap tertinggal dan sulit diabaikan, jika sebuah kota membiarkan warganya hidup dan tidur di atas roda, apakah kota itu benar-benar sedang bergerak maju? @dimas



