Tabooo.id: Health – Masih sering lihat bayi “dijemur” di pagi hari? Banyak orang tua masih percaya cara ini ampuh memenuhi vitamin D. Tapi sekarang, pertanyaannya berubah apakah cara itu masih relevan, atau justru menyimpan risiko?
Lewat unggahan resminya, Ikatan Dokter Anak Indonesia menegaskan satu hal penting “Cara memenuhi kebutuhan vitamin D anak kini tidak lagi bergantung pada paparan sinar matahari semata.”
Kebiasaan Lama, Tapi Nggak Selalu Akurat
Selama bertahun-tahun, orang tua mengandalkan sinar matahari untuk membantu tubuh bayi memproduksi vitamin D. Nutrisi ini memang berperan penting mulai dari memperkuat tulang, membantu penyerapan kalsium, hingga menjaga daya tahan tubuh.
Tapi sekarang, ilmu kesehatan memberi catatan baru. Produksi vitamin D dari matahari tidak bekerja secara konsisten. Banyak faktor ikut menentukan waktu, cuaca, lokasi, warna kulit, hingga luas kulit yang terpapar.
Akibatnya, orang tua tidak bisa memastikan hasilnya.
Melalui unggahan Instagram resmi @idai_ig pada Sabtu (04/04/2026), IDAI menegaskan bahwa cara memenuhi kebutuhan vitamin D anak kini tidak lagi bergantung pada paparan sinar matahari semata.
IDAI menyoroti masalah ini dengan jelas “Proses pembentukan vitamin D dari sinar matahari sangat dipengaruhi banyak faktor, sehingga hasilnya tidak selalu bisa dipastikan.”
Masalahnya: Nggak Semua Sinar Itu Aman
Tubuh memang membutuhkan sinar UVB. Tapi kulit bayi belum siap menerima paparan langsung.
Kulit mereka masih tipis dan sensitif. Paparan berlebih bisa merusak jaringan kulit dan meningkatkan risiko penyakit di masa depan.
IDAI bahkan mengingatkan secara tegas “Bayi di bawah enam bulan disarankan untuk tidak terkena sinar matahari langsung.”
Sebagai gantinya, orang tua bisa langsung melakukan langkah aman:
- memakaikan baju tertutup
- menambahkan topi pelindung
- menjaga bayi tetap di tempat teduh
Langkah sederhana ini langsung menurunkan risiko tanpa harus “mengandalkan” matahari.
Suplemen Jadi Solusi yang Lebih Pasti
Alih-alih menebak-nebak dari paparan sinar, IDAI mendorong orang tua menggunakan pendekatan yang lebih terukur.
Rekomendasinya jelas:
- Bayi di bawah 12 bulan: 400 IU vitamin D per hari
- Anak di atas 1 tahun: 600 IU per hari
IDAI juga menekankan bahwa semua bayi tetap membutuhkan tambahan ini, termasuk yang mengonsumsi ASI.
“Rekomendasi ini berlaku untuk semua bayi, termasuk yang mendapatkan ASI eksklusif maupun sebagian.”
Dengan suplemen, orang tua bisa memastikan kebutuhan terpenuhi tanpa bergantung pada kondisi lingkungan.
Kalau Terpapar Matahari, Harus Diatur
Matahari tetap punya manfaat. Tapi sekarang, orang tua perlu mengelola paparan, bukan sekadar mengejarnya.
Untuk bayi di atas enam bulan:
- oleskan sunscreen 15–30 menit sebelum keluar
- ulangi setiap dua jam atau setelah berkeringat
- pilih produk khusus kulit sensitif
Kalau muncul iritasi, orang tua sebaiknya langsung menghentikan pemakaian dan berkonsultasi.
Dari Tradisi ke Kesadaran Baru
Dulu, orang tua menjemur bayi karena percaya itu yang terbaik. Sekarang, pengetahuan berkembang dan cara merawat anak ikut berubah.
IDAI merangkum perubahan ini dengan tegas “Pendekatan yang lebih terukur seperti suplementasi menjadi pilihan yang lebih disarankan.”
Artinya jelas kita tidak lagi harus bergantung pada kebiasaan lama.
Closing Tabooo
Kamu mungkin tumbuh dengan kebiasaan “dijemur pagi”. Tapi sekarang, kamu punya pilihan yang lebih aman dan pasti untuk anakmu.
Jadi, pertanyaannya sederhana masih mau ikut tradisi, atau mulai percaya pada sains?. @teguh



