Sabtu, Juli 18, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Batukaras: Liburan yang Nggak Pamer, Tapi Diam-Diam Nyembuhin

by teguh
April 3, 2026
in Vibes
A A
Home Vibes
Share on FacebookShare on Twitter

Tabooo.id: Vibes – Dulu, orang liburan pakai checklist datang, foto, upload, lalu pulang. Sekarang, banyak orang mulai lelah terlihat bahagia terus-menerus.

Di tengah tren healing, staycation, dan digital detox, pola baru mulai terlihat. Akibatnya, banyak orang ingin hilang sebentar. Mereka tidak benar-benar kabur dari hidup, melainkan mencoba menurunkan tempo yang terasa terlalu cepat.

Menariknya, orang-orang tidak lagi melirik Bali atau Lombok. Sebaliknya, mereka memilih Batukaras tempat yang tidak semua orang kenal, tapi punya daya tarik yang sulit dijelaskan.

Slow Living: Tren atau Kebutuhan?

Kita sering menyebutnya slow living. Kedengarannya estetik. Namun, di Batukaras, orang benar-benar menjalaninya.

Pagi dimulai dengan suara ombak, bukan alarm. Lalu, siang berjalan tanpa tekanan berlebihan. Sementara itu, sore diisi obrolan santai tanpa agenda.

Ini Belum Selesai

Gerwis: Dari Medan Revolusi Menuju Perjuangan Kesetaraan

Peristiwa Madiun 1948: Sejarah yang Belum Selesai

Di sini, orang mengatur waktunya sendiri. Mereka tidak mengejar jam, melainkan menikmati ritme.

Karena itu, banyak pelancong memilih tinggal lebih lama. Mereka tidak sekadar liburan, tetapi juga mencari jeda. Mereka tetap bekerja, membuka laptop di pinggir pantai, namun tidak membawa beban yang sama seperti di kota. Alhasil, hidup terasa lebih ringantanpa perlombaan.

Generasi yang Capek Jadi Sibuk

Kalau kamu perhatikan, Batukaras tidak menarik turis yang terburu-buru. Sebaliknya, tempat ini menarik mereka yang ingin tinggal.

Freelancer, remote worker, sampai orang yang mengalami burnout datang dengan alasan yang sama: mereka ingin bernapas lebih lega. Karena itu, mereka memilih menetap lebih lama.

Mereka menyewa villa kayu, lalu mengikuti ritme desa. Pagi mereka surfing. Kemudian, siang mereka bekerja. Setelah itu, sore mereka berbincang santai.

Tidak ada yang berlebihan. Namun, justru itu yang terasa jujur. Pada akhirnya, kita sering tidak butuh tempat baru. Sebaliknya, kita hanya butuh cara hidup yang berbeda.

Batukaras: Liburan yang Nggak Pamer, Tapi Diam-Diam Nyembuhin
Batukaras memberi ruang untuk berhenti Tanpa tekanan dan tuntutan.

Kampung atau Justru Versi Jujur dari Liburan?

Seorang influencer sempat menyebut Batukaras sebagai “kampung” dan “tertinggal”. Komentar itu memicu reaksi, dan sekaligus membuka satu ironi.

Banyak orang masih mengukur liburan dari kemewahan dan keramaian. Padahal, tidak semua orang membutuhkan itu.

Warga lokal dan netizen langsung membela. Sebab, mereka memahami kesederhanaan Batukaras sebagai identitas, bukan kekurangan.

Seperti kata Laura Herwati, tempat ini memang bukan untuk semua orang. Justru karena itu, Batukaras terasa jujur.

Batukaras: Liburan yang Nggak Pamer, Tapi Diam-Diam Nyembuhin
Batukaras Menawarkan keindahan yang tidak kalah dengan Pangandaran

Kita Pergi untuk Pamer, atau untuk Pulang?

Sekarang, coba jawab. Kamu liburan untuk apa? Untuk mengisi galeri? Atau justru untuk mengosongkan kepala?

Batukaras tidak menawarkan resort mewah. Selain itu, tempat ini juga tidak menyediakan spot Instagramable di setiap sudut.

Namun, Batukaras memberi ruang untuk berhenti. Tanpa tekanan. Tanpa tuntutan.

Di dunia yang bergerak cepat, ruang seperti ini jadi semakin langka. Oleh karena itu, nilainya terasa lebih mahal.

Mungkin, yang Kita Butuh Bukan Liburan

Pada akhirnya, pertanyaannya berubah. Kita tidak selalu butuh perjalanan jauh. Sebaliknya, kita hanya butuh hidup yang tidak terlalu cepat.

Kalau kamu harus pergi untuk menyadari itu, Batukaras sudah menunggu.

Bukan dengan gemerlap. Melainkan dengan ketenangan yang apa adanya. Sekarang, pilihannya ada di kamu ingin pergi atau sebenarnya ingin pulang?. @teguh

Tags: desaHealingInfluencerLaptopLiburanSurfing

Kamu Melewatkan Ini

Rambut yang Gugur, Kehormatan yang Bangkit

Rambut yang Gugur, Kehormatan yang Bangkit

by teguh
Mei 5, 2026

Pagi itu tidak ada gemuruh meriam. Tidak ada teriakan perang yang memekakkan telinga. Yang ada hanya sunyi sunyi yang berat,...

Ketika Kepala Desa Pegang Miliaran, Tapi Negara Minim Membimbing

Ketika Kepala Desa Pegang Miliaran, Tapi Negara Minim Membimbing

by teguh
April 21, 2026

Jaksa Agung Sanitiar Burhanuddin mengirim pesan keras kepada jajarannya jangan mudah menetapkan kepala desa sebagai tersangka hanya karena salah administrasi....

AI Bisa Tambah PDB, Tapi Siapa yang Tertinggal?

AI Bisa Tambah PDB, Tapi Siapa yang Tertinggal?

by teguh
April 20, 2026

Sabtu, 18 April 2026, Bali menjadi panggung optimisme digital. Menteri Komunikasi dan Digital, Meutya Hafid, menyebut adopsi kecerdasan buatan atau...

Next Post
Scroll Stoppr: Solusi atau Sindiran?

Scroll Stoppr: Solusi atau Sindiran?

Madilog Series

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Juli 7, 2026
Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026
Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Juni 7, 2026

Marx Series

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Juli 16, 2026

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Juni 20, 2026

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026

Uang Menjadi Kapital: Ketika Uang Berubah Jadi Mesin Penghisap – Marx Series #1.3

Mei 29, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id