Tabooo.id: Bisnis – Konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran menimbulkan tekanan baru bagi bank sentral dunia. Lonjakan harga minyak dan risiko inflasi memaksa pembuat kebijakan meninjau ulang arah suku bunga di tengah ketidakpastian ekonomi global.
Harga Minyak Meroket, Pasokan Energi Terganggu
Serangan AS dan Israel ke Iran serta gangguan aliran minyak melalui Selat Hormuz jalur vital yang menghubungkan 20-30% pasokan energi dunia mendorong harga minyak mentah naik ke level tertinggi lebih dari setahun terakhir. Brent dan WTI mencerminkan kekhawatiran pasar akan gangguan pasokan energi. Lonjakan harga energi meningkatkan biaya produksi sekaligus menambah tekanan inflasi di berbagai negara.
Dilema Bank Sentral: Inflasi atau Pertumbuhan?
Bank-bank sentral kini menghadapi dilema besar. Mereka harus menahan inflasi yang meningkat tanpa menekan pertumbuhan ekonomi yang mulai melambat akibat gejolak geopolitik. Di Eropa, anggota dewan Bank Sentral Eropa Pierre Wunsch menegaskan bahwa mereka akan menilai data secara hati-hati sebelum memutuskan langkah kebijakan.
“Jika lonjakan harga energi berlangsung lama, kami akan menyesuaikan model dan strategi kami,” ujarnya, Kamis (5/3/2026).
Di Jepang, Gubernur Bank of Japan Kazuo Ueda menyatakan bahwa bank sentral akan mempertimbangkan kenaikan suku bunga lebih lanjut bila kondisi ekonomi mendukung. Ia menambahkan, harga energi yang tinggi bisa menekan atau mendorong inflasi, tergantung durasinya.
Amerika: Suku Bunga Tetap Tinggi
Di Amerika Serikat, Federal Reserve menahan laju penurunan suku bunga karena risiko inflasi yang tetap tinggi. Laporan “Beige Book” mengungkap bahwa ketidakpastian ekonomi dan tarif Presiden Trump membuat konsumen menahan pengeluaran, khususnya rumah tangga berpenghasilan rendah. Banyak perusahaan menyesuaikan harga untuk menutupi biaya tambahan akibat tarif, sehingga tekanan inflasi tetap terasa.
Dampak pada Negara Berkembang, Termasuk RI
Bank sentral di negara berkembang, termasuk Bank Indonesia, juga merasakan dampak konflik ini. BI memantau transmisi lonjakan harga minyak ke inflasi domestik melalui jalur harga komoditas, pasar keuangan, dan perdagangan internasional. Selain itu, BI terus mengawasi pergerakan nilai tukar Rupiah untuk mencegah gejolak ekonomi lebih luas.
Para analis menilai, jika konflik berkepanjangan dan gangguan pasokan energi terus berlangsung, tekanan inflasi bisa memaksa bank sentral memperpanjang siklus suku bunga tinggi. Di sisi lain, pertumbuhan ekonomi global menghadapi risiko melambat akibat kombinasi kenaikan biaya energi dan ketidakpastian geopolitik.
Bank Sentral Global Harus Berhati-hati
Situasi ini menempatkan bank sentral dalam posisi sulit. Setiap keputusan suku bunga harus menimbang risiko inflasi tinggi sekaligus melindungi pertumbuhan ekonomi. Gejolak geopolitik yang belum mereda membuat tekanan pada kebijakan moneter global semakin tajam, menegaskan bahwa ekonomi dunia tidak bisa lepas dari dinamika politik internasional. @dimas




