B.M. Diah menyelamatkan naskah Proklamasi yang nyaris terbuang. Simak kisah wartawan yang menjaga jejak sejarah kemerdekaan Indonesia.
Tabooo.id: Ada selembar kertas yang nyaris berakhir sebagai sampah. Kertas itu bukan catatan biasa. Di atasnya tertulis rancangan teks Proklamasi Kemerdekaan Indonesia.
Sejarah kemudian mengenal kertas itu sebagai naskah tulisan tangan Proklamasi. Di balik penyelamatannya, ada seorang wartawan bernama B.M. Diah.
Dari Banda Aceh ke Dunia Pers
B.M. Diah lahir di Kotaraja, Banda Aceh, pada 7 April 1917.
Nama lengkapnya Burhanuddin Mohammad Diah. Ia kemudian memilih dunia jurnalistik sebagai jalan hidup.
Pilihan itu membawanya masuk ke salah satu momen paling penting dalam sejarah Indonesia.
Pada 17 Agustus 1945, para tokoh pergerakan menyiapkan pengumuman kemerdekaan. Setelah teks Proklamasi selesai, kabar kemerdekaan harus segera menyebar.
B.M. Diah ikut mengambil peran dalam proses tersebut.
Mohammad Hatta meminta sejumlah anak muda dari kalangan pers untuk menyebarkan berita kemerdekaan. Diah termasuk di dalamnya.
Bagi seorang wartawan, tugas itu terdengar sederhana.
Sebarkan berita.
Namun, situasi saat itu jauh dari sederhana.
Indonesia baru saja menyatakan kemerdekaan. Informasi harus bergerak cepat. Setiap jaringan komunikasi punya arti penting.
Sebuah Kertas di Keranjang Sampah
Ada cerita lain yang membuat nama B.M. Diah semakin penting dalam sejarah.
Setelah Soekarno menulis rancangan Proklamasi, para tokoh kemudian menyepakati teks tersebut. Sayuti Melik lalu mengetik naskah final.
Proses itu meninggalkan satu benda penting.
Naskah tulisan tangan Soekarno.
Setelah Sayuti Melik mengetik teks Proklamasi, naskah tulisan tangan tersebut masuk ke keranjang sampah.
Diah melihatnya.
Ia kemudian mengambil kertas itu dan menyimpannya.
Keputusan tersebut mungkin terlihat kecil. Saat itu, tidak ada yang bisa memastikan nilai sejarahnya pada masa depan.
Namun, Diah memilih untuk tidak membuangnya.
Keputusan itu mengubah nasib sebuah dokumen.
46 Tahun Menjaga Ingatan
B.M. Diah menyimpan naskah tulisan tangan tersebut selama puluhan tahun.
Ia menjaganya sejak 1945 hingga 1992.
Selama waktu itu, Indonesia mengalami perubahan besar. Pemerintahan berganti. Generasi berganti. Banyak peristiwa datang dan pergi.
Namun, selembar kertas itu tetap bertahan.
Pada 19 Mei 1992, B.M. Diah menyerahkan naskah tulisan tangan Proklamasi kepada Presiden Soeharto.
Negara kemudian menyerahkan dokumen tersebut kepada Arsip Nasional Republik Indonesia atau ANRI.
Kini, naskah itu menjadi bagian penting dari arsip sejarah kemerdekaan Indonesia.
Wartawan Bukan Sekadar Pembawa Berita
Kisah B.M. Diah menunjukkan sisi lain profesi wartawan.
Wartawan memang bekerja dengan berita. Namun, pekerjaannya tidak selalu berhenti pada sebuah publikasi.
Dalam kondisi tertentu, wartawan juga berada dekat dengan momen sejarah.
Mereka melihat peristiwa, mereka mencatat dan mereka menyimpan informasi. Bahkan, keputusan kecil mereka bisa menentukan apakah sebuah jejak sejarah tetap ada atau hilang.
B.M. Diah mengalami situasi itu secara langsung.
Ia tidak hanya ikut menyebarkan kabar kemerdekaan. Ia juga menjaga salah satu bukti penting dari proses lahirnya Republik Indonesia.
Ketika Sejarah Hampir Menjadi Sampah
Ada ironi besar dalam kisah ini.
Salah satu dokumen paling penting dalam sejarah Indonesia pernah berada di tempat yang sama dengan kertas-kertas yang hendak dibuang.
Bedanya, seseorang memilih mengambilnya.
Dari sini kita bisa melihat bahwa sejarah tidak selalu hadir dalam bentuk monumen besar.
Kadang, sejarah hanya berupa selembar kertas.
Kadang, sejarah terselamatkan karena seseorang memilih untuk tidak membuang sesuatu yang dianggap tidak berguna.
Itulah yang membuat kisah B.M. Diah tetap relevan.
Kemerdekaan bukan hanya tentang siapa yang mengucapkan Proklamasi.
Kemerdekaan juga punya cerita tentang orang-orang yang menyebarkan kabarnya, menjaga buktinya, dan memastikan generasi berikutnya masih bisa melihat jejaknya.
Selembar kertas itu pernah hampir menjadi sampah.
B.M. Diah memilih menyimpannya.
Dan hari ini, kita masih bisa membicarakannya.
Karena kadang, menjaga sejarah dimulai dari keputusan sederhana jangan buang yang terlihat tidak penting.@eko







