Kamis, November 5, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
RADIO
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

B.M. Diah dan Naskah yang Nyaris Terbuang

by eko
September 8, 2026
in Vibes
A A
Home Vibes
B.M. Diah menyelamatkan naskah Proklamasi yang nyaris terbuang. Simak kisah wartawan yang menjaga jejak sejarah kemerdekaan Indonesia.

Tabooo.id: Ada selembar kertas yang nyaris berakhir sebagai sampah. Kertas itu bukan catatan biasa. Di atasnya tertulis rancangan teks Proklamasi Kemerdekaan Indonesia.

Sejarah kemudian mengenal kertas itu sebagai naskah tulisan tangan Proklamasi. Di balik penyelamatannya, ada seorang wartawan bernama B.M. Diah.

Dari Banda Aceh ke Dunia Pers

B.M. Diah lahir di Kotaraja, Banda Aceh, pada 7 April 1917.

Nama lengkapnya Burhanuddin Mohammad Diah. Ia kemudian memilih dunia jurnalistik sebagai jalan hidup.

Pilihan itu membawanya masuk ke salah satu momen paling penting dalam sejarah Indonesia.

Pada 17 Agustus 1945, para tokoh pergerakan menyiapkan pengumuman kemerdekaan. Setelah teks Proklamasi selesai, kabar kemerdekaan harus segera menyebar.

B.M. Diah ikut mengambil peran dalam proses tersebut.

Mohammad Hatta meminta sejumlah anak muda dari kalangan pers untuk menyebarkan berita kemerdekaan. Diah termasuk di dalamnya.

Bagi seorang wartawan, tugas itu terdengar sederhana.

Sebarkan berita.

Namun, situasi saat itu jauh dari sederhana.

Indonesia baru saja menyatakan kemerdekaan. Informasi harus bergerak cepat. Setiap jaringan komunikasi punya arti penting.

Sebuah Kertas di Keranjang Sampah

Ada cerita lain yang membuat nama B.M. Diah semakin penting dalam sejarah.

Setelah Soekarno menulis rancangan Proklamasi, para tokoh kemudian menyepakati teks tersebut. Sayuti Melik lalu mengetik naskah final.

Proses itu meninggalkan satu benda penting.

Naskah tulisan tangan Soekarno.

Setelah Sayuti Melik mengetik teks Proklamasi, naskah tulisan tangan tersebut masuk ke keranjang sampah.

Diah melihatnya.

Ia kemudian mengambil kertas itu dan menyimpannya.

Keputusan tersebut mungkin terlihat kecil. Saat itu, tidak ada yang bisa memastikan nilai sejarahnya pada masa depan.

Namun, Diah memilih untuk tidak membuangnya.

Keputusan itu mengubah nasib sebuah dokumen.

46 Tahun Menjaga Ingatan

B.M. Diah menyimpan naskah tulisan tangan tersebut selama puluhan tahun.

Ia menjaganya sejak 1945 hingga 1992.

Selama waktu itu, Indonesia mengalami perubahan besar. Pemerintahan berganti. Generasi berganti. Banyak peristiwa datang dan pergi.

Namun, selembar kertas itu tetap bertahan.

Pada 19 Mei 1992, B.M. Diah menyerahkan naskah tulisan tangan Proklamasi kepada Presiden Soeharto.

Negara kemudian menyerahkan dokumen tersebut kepada Arsip Nasional Republik Indonesia atau ANRI.

Kini, naskah itu menjadi bagian penting dari arsip sejarah kemerdekaan Indonesia.

Wartawan Bukan Sekadar Pembawa Berita

Kisah B.M. Diah menunjukkan sisi lain profesi wartawan.

Wartawan memang bekerja dengan berita. Namun, pekerjaannya tidak selalu berhenti pada sebuah publikasi.

Dalam kondisi tertentu, wartawan juga berada dekat dengan momen sejarah.

Mereka melihat peristiwa, mereka mencatat dan mereka menyimpan informasi. Bahkan, keputusan kecil mereka bisa menentukan apakah sebuah jejak sejarah tetap ada atau hilang.

B.M. Diah mengalami situasi itu secara langsung.

Ia tidak hanya ikut menyebarkan kabar kemerdekaan. Ia juga menjaga salah satu bukti penting dari proses lahirnya Republik Indonesia.

Ketika Sejarah Hampir Menjadi Sampah

Ada ironi besar dalam kisah ini.

Salah satu dokumen paling penting dalam sejarah Indonesia pernah berada di tempat yang sama dengan kertas-kertas yang hendak dibuang.

Bedanya, seseorang memilih mengambilnya.

Dari sini kita bisa melihat bahwa sejarah tidak selalu hadir dalam bentuk monumen besar.

Kadang, sejarah hanya berupa selembar kertas.

Kadang, sejarah terselamatkan karena seseorang memilih untuk tidak membuang sesuatu yang dianggap tidak berguna.

Itulah yang membuat kisah B.M. Diah tetap relevan.

Kemerdekaan bukan hanya tentang siapa yang mengucapkan Proklamasi.

Kemerdekaan juga punya cerita tentang orang-orang yang menyebarkan kabarnya, menjaga buktinya, dan memastikan generasi berikutnya masih bisa melihat jejaknya.

Selembar kertas itu pernah hampir menjadi sampah.

B.M. Diah memilih menyimpannya.

Dan hari ini, kita masih bisa membicarakannya.

Karena kadang, menjaga sejarah dimulai dari keputusan sederhana jangan buang yang terlihat tidak penting.@eko

Tags: BM DiahKemerdekaan IndonesiaProklamasiWartawan

Kamu Melewatkan Ini

Polda Minta Maaf, tetapi Siapa yang Menjamin Pers Tetap Bebas?

Polda Minta Maaf, tetapi Siapa yang Menjamin Pers Tetap Bebas?

by eko
Oktober 29, 2026

Polda Metro Jaya meminta maaf setelah wartawan terhalang meliput demonstrasi di Jakarta. Insiden ini memunculkan pertanyaan tentang batas pengamanan dan...

Mahasiswa Solo Raya Menagih Kemerdekaan yang Belum Merata

Mahasiswa Solo Raya Menagih Kemerdekaan yang Belum Merata

by dimas
Agustus 24, 2026

Mahasiswa Solo Raya menagih kemerdekaan yang belum merata, menyoroti korupsi, MBG, Koperasi Desa, pendidikan, kesehatan, dan kesejahteraan masyarakat. Tabooo.id -...

Merdeka karena Berbeda, Mengapa Kita Masih Tak Setara?

Merdeka karena Berbeda, Mengapa Kita Masih Tak Setara?

by dimas
Agustus 18, 2026

Merdeka karena berbeda, tetapi mengapa ketidakadilan masih membuat warga tak setara? Keberagaman, pembangunan, dan keadilan sosial kembali dipertanyakan. Tabooo.id -...

Madilog Series

Logika vs Emosi: Siapa yang Sebenarnya Mengendalikan Kamu? – Madilog Series #3.5

Logika vs Emosi: Siapa yang Sebenarnya Mengendalikan Kamu? – Madilog Series #3.5

Agustus 24, 2026
Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Juli 7, 2026
Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026

Marx Series

Mesin dan Industri Modern: Teknologi Membebaskan atau Membuat Pekerja Makin Mudah Diganti?

Mesin dan Industri Modern: Teknologi Membebaskan atau Membuat Pekerja Makin Mudah Diganti?

Agustus 25, 2026

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Juli 16, 2026

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Juni 20, 2026

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
    • Pattern
  • Figures
  • Radioverse

© 2026 Tabooo.id