Tabooo.id: Deep – Di sebuah kota kecil di Australia, seorang petani berdiri di depan SPBU kosong. Tangannya memegang jerigen, tapi isinya nihil. Mesin panennya diam. Ladangnya menunggu. Dan waktu tidak pernah mau kompromi.
Di sisi lain dunia, di Indonesia, antrean memang panjang. Tapi bensin masih ada. Motor masih jalan. Mudik tetap berlangsung.
Dua negara. Satu krisis global. Dua hasil yang sangat berbeda.
Pertanyaannya sederhana, tapi mengganggu, Ini kebetulan… atau ada yang memang dirancang berbeda sejak awal?
Ketika Dunia Kehilangan Arah Energi
Maret 2026 bukan bulan biasa. Penutupan Selat Hormuz, jalur yang mengalirkan hampir 20% minyak dunia, bukan sekadar berita internasional. Itu seperti mematikan satu jalur napas global. Harga minyak melonjak. Pasokan tersendat. Negara-negara mulai gelisah. Tapi dampaknya tidak merata.
Australia, negara maju dengan sistem pasar yang efisien, justru goyah. Ratusan SPBU kosong. Panic buying terjadi. Pemerintah sampai menurunkan standar kualitas bahan bakar demi menjaga pasokan.
Sementara Indonesia? Tidak ada kepanikan nasional. Distribusi tetap berjalan. Bahkan di tengah puncak arus mudik Lebaran. Ironisnya, negara yang sering dianggap “kurang efisien” justru terlihat lebih stabil.
Australia: Efisien, Tapi Rapuh
Selama bertahun-tahun, Australia bermain dengan logika pasar. Kilang ditutup satu per satu. Dari delapan, tersisa dua. Sisanya? Diserahkan ke impor. Lebih murah. Lebih praktis. Masalahnya, dunia tidak selalu stabil.
Ketika pasokan dari Asia terganggu, Australia tidak punya “plan B”. Tidak ada buffer cukup. Tidak ada fleksibilitas. Yang terjadi berikutnya bisa ditebak, SPBU kosong, distribusi kacau, masyarakat mulai panik Bahkan, untuk bertahan, mereka harus menurunkan standar bahan bakar, sebuah langkah yang sebelumnya dianggap tidak mungkin.
Efisiensi berubah jadi kerentanan. Di titik ini, satu hal terasa jelas, bahwa Pasar bisa cepat. Tapi tidak selalu siap menghadapi krisis.
Indonesia: Ribet, Tapi Tahan Banting
Indonesia tidak sempurna. Sistemnya sering dianggap lambat, birokratis, bahkan tidak efisien. Tapi dalam krisis, justru sistem itulah yang bekerja. Ada tiga lapisan yang diam-diam jadi “tameng nasional”:
1. Negara Masih Pegang Kendali
Distribusi BBM tidak sepenuhnya dilepas ke pasar. Ada Satgas RAFI dan ada kontrol distribusi. Ada intervensi saat panic buying mulai muncul. Artinya, negara masih punya “remote control”. Dan saat krisis datang, itu jadi pembeda.
2. Tidak Bergantung pada Satu Dunia
Ketika Timur Tengah terguncang, Indonesia tidak ikut tenggelam. Impor bisa dialihkan ke Amerika, Brasil, dan Afrika. Fleksibilitas ini bukan kebetulan. Ini hasil strategi. Karena dalam geopolitik energi, satu aturan berlaku, siapa yang punya banyak pintu, tidak mudah terjebak.
3. Biodiesel: Energi dari Dalam Negeri
Di saat Australia bergantung 90% pada impor, Indonesia mulai “menanam” energinya sendiri. Program B35, menuju B40 dan B50, bukan sekadar proyek ekonomi. Ini adalah strategi bertahan hidup.
Ketika harga diesel global naik gila-gilaan, Indonesia masih punya cadangan dari sawit. Bukan solusi sempurna. Tapi cukup untuk tidak panik.
APBN: Perisai yang Tidak Terlihat
Ada satu faktor yang sering tidak disadari publik, yakni psikologi harga. Di Australia, harga BBM mengikuti pasar. Naik cepat, turun lambat. Masyarakat bereaksi.
Di Indonesia, negara menahan harga lewat subsidi. Hasilnya? Tidak ada kepanikan massal, tidak ada panic buying ekstrem, tidak ada lonjakan psikologis. Karena dalam krisis, yang paling berbahaya bukan kekurangan barang, melainkan ketakutan.
Krisis Ini Mengungkap Satu Hal
Selama ini, dunia memuja efisiensi. Semua dibuat ramping, cepat, tanpa cadangan, tanpa redundansi. Tapi krisis 2026 menunjukkan sesuatu yang jarang dibicarakan, yaitu efisiensi tanpa ketahanan adalah ilusi.
Australia efisien, tapi goyah. Indonesia tidak efisien, tapi bertahan. Dan di titik ini, kita mulai melihat pola, bahwa negara bukan cuma soal ekonomi. Tapi soal bagaimana ia bersiap untuk hari terburuk.
Jadi… Kebetulan atau Strategi?
Jawabannya adalah bukan kebetulan. Ini adalah hasil dari pilihan panjang, yaitu memilih intervensi atau pasar bebas, memilih cadangan atau efisiensi, memilih kemandirian atau ketergantungan.
Indonesia tidak kebal krisis. Tapi kali ini, ia lebih siap. Dan mungkin, untuk pertama kalinya dalam waktu lama, kita melihat sesuatu yang jarang, bukan negara maju yang terlihat kuat, tapi negara yang tahu caranya bertahan.
Di dunia yang makin tidak pasti, pertanyaan sebenarnya bukan lagi “Siapa yang paling efisien?” melainkan “Siapa yang masih bisa berdiri saat sistem runtuh?”
Dan kalau krisis ini adalah ujian, maka jawabannya mulai terlihat.
Lalu, menurutmu, kita benar-benar aman, atau hanya belum diuji sepenuhnya? @tabooo



