Asap flare merah mengiringi aksi mahasiswa Trisakti di Jakarta yang menyuarakan kekecewaan melalui tiga tuntutan: pemulihan nasional, evaluasi pejabat, dan supremasi sipil.
Tabooo.id – Asap flare merah mengepul di Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta, Kamis (29/10/2026). Di tengah kepulan asap itu, mahasiswa Universitas Trisakti menyuarakan tiga tuntutan: pemulihan nasional, pemberantasan pejabat yang dinilai tidak kompeten, dan penegakan supremasi sipil.
Nyala merah mewarnai demonstrasi, tetapi pesan mahasiswa melampaui suasana aksi. Mereka membawa persoalan ekonomi, ekologi, politik, pendidikan, dan kesehatan ke ruang publik. Mereka juga mempertanyakan kualitas pejabat serta arah penyelenggaraan kekuasaan.
Arief Rizquna, Menteri Luar Negeri Kepresidenan Mahasiswa (Kepresma) Universitas Trisakti periode 2025/2026, memimpin pembacaan tiga tuntutan tersebut. Ia menyampaikan agenda mahasiswa di tengah berlangsungnya aksi.
“Tuntutan pertama adalah pemulihan ekonomi, ekologi, politik, pendidikan, dan kesehatan nasional. Kedua, pemberantasan pejabat yang dinilai tidak kompeten di bidangnya. Ketiga, penegakan supremasi sipil,” ujarnya dikutip dari IDN Times.
Tiga tuntutan itu menyentuh persoalan yang dekat dengan kehidupan masyarakat. Pemulihan ekonomi berkaitan dengan kesejahteraan warga. Sementara itu, ekologi, pendidikan, dan kesehatan menyangkut kualitas hidup serta akses masyarakat terhadap layanan dasar.
Mahasiswa juga menyoroti kompetensi pejabat publik. Tuntutan ini memunculkan pertanyaan tentang cara pemerintah mengukur kinerja, mengevaluasi tanggung jawab, dan memastikan setiap pejabat menjalankan tugasnya secara efektif.
Di sisi lain, tuntutan supremasi sipil membawa kritik ke ranah tata kelola demokrasi. Mahasiswa menempatkan hubungan antara kekuasaan dan masyarakat sipil sebagai persoalan penting dalam penyelenggaraan negara.
Simbol Kekecewaan dari Trisakti
Di tengah aksi, Arief mengajak mahasiswa mengangkat simbol yang mereka bawa dari Trisakti. Ia menyebut simbol tersebut sebagai gambaran kekecewaan dan kemuraman yang ingin mereka tunjukkan kepada masyarakat.
“Hari ini saya ingin menunjukkan kepada masyarakat sipil sekalian bahwa ada simbol kekecewaan, ada simbol kemirisan yang kami bawa dari Trisakti. Angkat semua, teman-teman! Bismillah! Ini adalah kegelapan,” kata Arief.
Kata kegelapan menjadi penekanan dalam pernyataan Arief. Melalui simbol dan orasi, mahasiswa menyampaikan emosi sekaligus mempertegas kritik mereka terhadap kondisi yang ingin mereka ubah.
Simbol menghadirkan ekspresi kekecewaan, sedangkan tiga tuntutan memberikan arah pada kritik tersebut. Keduanya bertemu dalam demonstrasi sebagai ruang untuk menyampaikan kegelisahan politik kepada publik.
Namun, ekspresi protes saja tidak menjawab persoalan yang mereka angkat. Pemulihan nasional membutuhkan kebijakan dengan target yang jelas. Evaluasi pejabat memerlukan indikator kinerja yang transparan. Sementara itu, supremasi sipil menuntut penghormatan terhadap prinsip dan batas kewenangan dalam penyelenggaraan negara.
Tuntutan di Jalan, Jawaban dari Pemerintah
Aksi mahasiswa Trisakti memperlihatkan bagaimana demonstrasi menjadi sarana untuk mengkritik kebijakan dan tata kelola pemerintahan. Melalui tiga tuntutan tersebut, mahasiswa meminta perhatian terhadap persoalan kesejahteraan, kualitas pejabat, dan hubungan kekuasaan dengan masyarakat sipil.
Pemerintah memiliki ruang untuk merespons kritik melalui penjelasan kebijakan, evaluasi kinerja, serta langkah konkret yang hasilnya dapat diperiksa masyarakat. Publik juga membutuhkan informasi terbuka agar dapat menilai tindak lanjut atas tuntutan tersebut.
Asap flare merah pada akhirnya akan menghilang dari jalanan. Namun, pertanyaan yang dibawa mahasiswa tetap relevan: apakah kekecewaan yang mereka suarakan akan mendorong evaluasi nyata, atau berhenti sebagai gema demonstrasi di tengah kota? @dimas








