Tabooo.id: Global – Iran tetap berdiri tegak di tengah tekanan. Ketika armada militer Amerika Serikat memperketat kepungan di kawasan, Teheran justru memperkeras sikap. Pemerintahan Presiden Donald Trump menuntut konsesi penuh. Iran menolak menyerah.
Ketegangan itu bukan sekadar adu pernyataan. Kedua negara kini bergerak di tepi jurang yang sama diplomasi yang rapuh dan risiko perang terbuka.
Teheran: Bertahan Lebih Penting dari Berkompromi
Bagi elite Iran, kompromi bukan jalan keluar. Mereka memandangnya sebagai ancaman eksistensial. Sejumlah pejabat AS bahkan mengaku kebingungan membaca kalkulasi politik Teheran.
Sasan Karimi, ilmuwan politik dari Universitas Teheran, menegaskan bahwa negaranya memang ingin menghindari perang. Namun Iran tidak akan membeli perdamaian dengan harga apa pun. Ia menyebut negara ideologis kerap menimbang warisan sejarah sama pentingnya dengan kelangsungan hidup jangka pendek.
Pandangan ini menjelaskan mengapa jurang persepsi antara Washington dan Teheran makin melebar. AS berbicara tentang stabilitas dan keamanan global. Iran berbicara tentang kedaulatan dan martabat revolusi.
Garis Merah yang Sulit Dipertemukan
Di meja perundingan, kebuntuan semakin jelas. Pemerintahan Trump bersikeras agar Iran menghentikan total pengayaan uranium untuk memastikan tidak ada pengembangan senjata nuklir. Washington juga menuntut pembatasan jangkauan rudal balistik serta penghentian dukungan terhadap kelompok milisi di Timur Tengah.
Sebaliknya, Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, menganggap pengayaan nuklir sebagai hak kedaulatan. Ia juga memandang program rudal sebagai tulang punggung pertahanan nasional.
Kedua pihak menjadwalkan pertemuan di Jenewa pada Kamis (26/2/2026). Banyak diplomat menyebut forum ini sebagai peluang terakhir sebelum Gedung Putih mengambil opsi militer.
Jika negosiasi gagal, eskalasi bisa terjadi dalam hitungan hari.
Strategi Perlawanan dan Hitung-Hitungan Risiko
Direktur Iran dari International Crisis Group, Ali Vaez, menilai Teheran tidak percaya bahwa menyerah pada tekanan AS akan menghentikan sanksi. Iran justru yakin konsesi akan membuka pintu tuntutan baru.
Ayatollah Khamenei berulang kali menuding Washington tidak sekadar menargetkan isu nuklir. Ia meyakini AS ingin menggulingkan sistem Republik Islam secara keseluruhan.
Jika konflik pecah, Iran kemungkinan menyerap serangan terbatas lalu membalas secara terukur ke pangkalan AS di Timur Tengah. Pola itu pernah terjadi sebelumnya. Namun jika Washington memilih eskalasi besar, AS dan Israel harus bergerak cepat melumpuhkan kemampuan militer Iran sebelum balasan yang lebih luas terjadi.
Analis juga memperkirakan Iran bisa mengadopsi taktik perang asimetris seperti yang dilakukan kelompok Houthi konflik berkepanjangan yang melelahkan dan mahal. Gangguan terhadap jalur pelayaran minyak di Selat Hormuz menjadi kartu strategis paling berbahaya. Langkah itu berpotensi mendorong lonjakan harga minyak global dan mengguncang ekonomi dunia.
Siapa yang Paling Terdampak?
Di atas kertas, ini pertarungan dua negara. Dalam kenyataan, dampaknya menjalar ke mana-mana.
Lonjakan harga minyak akan langsung memukul negara pengimpor energi, termasuk Indonesia. Harga BBM dan logistik bisa naik. Inflasi dapat terdorong. Masyarakat kelas menengah dan bawah menjadi pihak pertama yang merasakan tekanan.
Di Timur Tengah, warga sipil kembali hidup dalam bayang-bayang sirene dan rudal. Investor global pun bersiap menarik dana dari pasar negara berkembang jika risiko geopolitik melonjak.
Sementara itu, Teheran dikabarkan telah menyiapkan sistem kepemimpinan berlapis untuk memastikan pemerintahan tetap berjalan meski terjadi serangan besar. Iran tampak siap menghadapi skenario terburuk.
Konflik ini belum meledak. Tetapi suhu politiknya sudah cukup untuk menghangatkan pasar minyak dan mengguncang diplomasi global.
Kadang perang tidak dimulai oleh tembakan pertama, melainkan oleh keyakinan bahwa mundur adalah kelemahan. Dan ketika dua negara sama-sama menolak terlihat lemah, dunia biasanya ikut membayar harganya. @dimas





