Tabooo.id: Entertainment – Pernah dengar lagu cinta yang bukan cuma bikin senyum-senyum, tapi juga bikin mikir masa depan? Bukan mikir soal kencan romantis, melainkan soal hidup bareng. Tentang pulang, tentang bertahan di titik itulah “Kita Usahakan Rumah Itu” karya Sal Priadi berdiri dengan tenang dan diam-diam menampar kesadaran.
Di tengah gempuran lagu cinta instan yang manis di awal lalu cepat basi, Sal Priadi justru mengajak pendengarnya membahas hal yang jarang orang rayakan: cinta sebagai kerja jangka panjang. Bukan janji kosong, tapi komitmen yang diusahakan.
Dari Lagu Reflektif ke Soundtrack Keluarga
Sal Priadi merilis “Kita Usahakan Rumah Itu” pada 18 Maret 2022 sebagai bagian dari album MARKERS AND SUCH. Album ini juga memuat lagu-lagu bernuansa reflektif seperti “Mesra-mesraannya kecil-kecilan dulu” dan “Lewat sudah pukul dua, makin banyak kita bicara.” Dari judul-judul itu saja, Sal sudah memperlihatkan ketertarikannya pada cinta yang tenang, jujur, dan membumi.
Lagu ini tumbuh pelan, tapi kuat. Pendengar tidak sekadar memutarnya, mereka memeluk maknanya. Karena itu, pilihan lagu ini sebagai OST film 1 Kakak 7 Ponakan (2025) garapan Yandy Laurens terasa masuk akal. Film dan lagu ini berbagi napas yang sama: keluarga, tanggung jawab, dan relasi yang tumbuh lewat proses.
Keduanya tidak bertemu secara kebetulan, tapi lewat kesamaan nilai.
Rumah sebagai Kesepakatan, Bukan Pajangan
Alih-alih memaknai rumah sebagai bangunan fisik, lagu ini mengajak pendengar melihatnya sebagai visi bersama. Sal Priadi menggambarkan rumah yang tampak sederhana dari luar, namun kaya dari dalam. Ia tidak menjual kemewahan, tapi menawarkan kedalaman.
Lewat lirik-liriknya, Sal menekankan pentingnya pembagian peran dan sikap saling menghormati. Lagu ini tidak menempatkan satu pihak sebagai pahlawan. Ia juga tidak mengagungkan pengorbanan sepihak. Sebaliknya, lagu ini mendorong dua orang untuk berjalan beriringan, memikul beban bersama.
Dalam konteks sosial hari ini saat banyak pasangan sibuk memamerkan kebahagiaan di media sosial lagu ini terasa seperti pengingat halus. Cinta tidak cukup hanya terlihat manis. Isinya jauh lebih penting.
Romantis, Tapi Tetap Realistis
Menariknya, “Kita Usahakan Rumah Itu” tetap terasa romantis meski sangat realistis. Lagu ini tidak menjanjikan hidup tanpa konflik. Sal justru mengakui bahwa cinta akan melelahkan. Namun, ia menegaskan bahwa kelelahan itu layak jika dijalani bersama.
Bagi generasi yang mulai ragu pada pernikahan tapi masih mendambakan keintiman, lagu ini menawarkan ruang aman. Sal tidak menghakimi pilihan siapa pun. Ia juga tidak memaksa siapa pun untuk percaya pada akhir bahagia. Lagu ini hanya menyodorkan satu gagasan sederhana: cinta butuh kerja tim.
Dan seperti kerja tim lainnya, hasilnya bergantung pada komitmen semua pihak.
Cinta yang Diusahakan, Bukan Dituntut
Pada akhirnya, “Kita Usahakan Rumah Itu” bukan sekadar lagu cinta. Lagu ini berbicara tentang sikap hidup. Tentang memilih bertahan bukan karena segalanya mudah, tapi karena segalanya pantas diperjuangkan bersama.
Sekarang, pertanyaannya bukan lagi soal kamu suka lagunya atau tidak. Pertanyaannya jauh lebih jujur: kalau cinta memang perlu diusahakan, kamu siap ikut membangun rumahnya atau masih menunggu versi instan yang tinggal huni? @eko





