Tabooo.id: Teknologi – Kalau suatu hari kamu punya asisten pribadi yang tahu hampir semua hal tentang hidupmu dari kerjaan sampai kebiasaan kecil kamu bakal merasa terbantu atau justru mulai curiga?
Nyatanya, ini bukan lagi cerita fiksi. Dunia teknologi sudah bergerak ke arah sana.
CEO OpenAI, Sam Altman, bahkan memberi peringatan serius kepada pembuat kebijakan di Amerika Serikat. Dalam wawancara di kanal YouTube Axios pada Maret 2026, ia menegaskan bahwa era superintelligence semakin dekat fase di mana AI mampu melampaui kemampuan manusia dalam banyak aspek.
“AI akan membantu para ilmuwan membuat penemuan besar, dan memungkinkan seseorang menyelesaikan pekerjaan yang biasanya dilakukan oleh tim besar,” ujar Altman, Maret 2026.dikutip KompasTekno dari kanal YouTube Axios
Teknologi yang Memudahkan Tapi Diam-diam Mengikat
Saat ini, AI tidak lagi sekadar alat tambahan. Banyak orang sudah mengandalkannya sebagai partner kerja sehari-hari.
Misalnya, programmer kini bisa menyelesaikan coding lebih cepat. Selain itu, riset juga berjalan lebih efisien karena bantuan algoritma. Bahkan dalam beberapa kasus, satu individu mampu menggantikan peran satu tim penuh.
Namun, perubahan ini bukan tanpa konsekuensi. Ke depan, Altman memprediksi AI akan hadir seperti listrik selalu aktif dan sulit dipisahkan dari kehidupan.
“Anda akan memiliki asisten super personal yang berjalan di cloud,” kata Altman, Maret 2026.
Akibatnya, gaya hidup ikut bergeser. Cara kerja berubah. Bahkan, tanpa sadar, cara berpikir manusia mulai menyesuaikan diri dengan sistem yang serba otomatis.
Di titik ini, muncul pertanyaan penting apakah kita masih memegang kendali, atau justru mulai terbiasa bergantung?
Dari Lifestyle ke Geopolitik: AI Jadi Arena Perebutan Kuasa
Di satu sisi, AI menawarkan efisiensi. Namun di sisi lain, teknologi ini juga menjadi alat kekuasaan.
Altman melihat pengembangan superintelligence sebagai bagian dari persaingan global. Negara yang lebih dulu unggul berpotensi mengarahkan ekonomi dunia.
Meski begitu, ia tidak setuju jika pemerintah mengambil alih sepenuhnya.
“Kemungkinan besar tidak akan berhasil jika dijalankan sebagai proyek pemerintah,” tegas Altman, Maret 2026.
Sebagai alternatif, ia mendorong kolaborasi antara pemerintah dan sektor swasta. Dengan begitu, inovasi tetap berjalan cepat, tapi arah pengembangannya tetap bisa diawasi.
Sisi Gelap: Ketika AI Mempercepat Ancaman
Sayangnya, kemajuan teknologi selalu punya dua sisi. AI memang membantu banyak hal. Namun, pada saat yang sama, teknologi ini juga membuka peluang baru bagi penyalahgunaan.
Sebagai contoh, Altman mengingatkan bahwa AI bisa mempercepat eksperimen biologis berbahaya. Model open-source bahkan berpotensi memberi akses luas pada kemampuan yang sebelumnya sangat terbatas.
“Kita tidak lagi jauh dari dunia di mana model open-source memiliki kemampuan luar biasa di bidang biologi,” ungkapnya, Maret 2026.
Selain itu, ancaman di dunia siber juga meningkat drastis.
Menurut Charles Guillemet, CTO Ledger, AI membuat proses peretasan jauh lebih cepat dan efisien. Jika dulu hacker membutuhkan waktu berbulan-bulan, sekarang mereka bisa mengeksekusi serangan dalam hitungan detik.
Akibatnya, kerugian pun tidak kecil. Industri kripto tercatat kehilangan sekitar 1,4 miliar dolar AS (Rp 24 triliun) dalam satu tahun terakhir.
Jadi, Kita Sedang Membangun Masa Depan atau Risiko Baru?
Pada akhirnya, Altman menekankan satu hal yang tidak kalah penting.
“Sangat penting memastikan bahwa orang-orang yang membangun AI ini adalah mereka yang memiliki integritas tinggi dan dapat dipercaya,” pungkasnya, Maret 2026.
Artinya, secepat apa pun teknologi berkembang, arah akhirnya tetap bergantung pada manusia.
Namun, di tengah semua kemudahan ini, satu hal tidak boleh terlewat. Kalau AI terus berkembang tanpa batas, apakah kita ikut berkembang sebagai pengendali atau justru perlahan menyerahkan kendali tanpa sadar?. @teguh







