Minggu, September 20, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Satu Pena, Satu Nyawa, dan Sistem Pendidikan yang Gagal

by dimas
Februari 7, 2026
in Talk
A A
Home Talk
Share on Facebook
Share on Twitter

Tabooo.id: Talk – “Education is the most powerful weapon to change the world,” kata Nelson Mandela. Kalimat itu sering dikutip dengan penuh keyakinan. Ia menghiasi spanduk, pidato resmi, hingga unggahan media sosial para pejabat. Namun di Nusa Tenggara Timur, senjata bernama pendidikan bahkan tak sempat sampai ke tangan seorang anak. Ia kalah lebih dulu oleh kenyataan paling mendasar sang ibu tak mampu membeli buku dan pulpen.

Di titik ini, pertanyaannya menjadi sangat sederhana. Jika negara tidak mampu memastikan anak memiliki alat tulis, di mana letak kegagalannya?

Pendidikan Gratis yang Tersendat di Lapangan

Tragedi ini tidak berdiri sendiri. Ia bukan hanya soal satu keluarga atau satu desa terpencil. Sebaliknya, kasus ini mencerminkan sistem pendidikan yang bocor dari bawah. Negara rajin berbicara tentang kemajuan, tetapi sering abai memastikan fondasi paling dasar tetap kokoh.

Sementara elite sibuk membangun citra global, anak-anak di daerah tertinggal justru menghitung ulang kemungkinan mereka tetap bersekolah. Bagi mereka, pendidikan bukan jargon kebijakan. Pendidikan adalah persoalan bertahan hidup.

Beban Biaya Kecil yang Terasa Berat

Di ruang kelas desa, anak-anak tidak memikirkan diplomasi atau geopolitik. Yang mereka pikirkan jauh lebih konkret: apakah tas masih layak, apakah pulpen masih bertinta, dan apakah buku tulis bisa dibeli bulan ini. Sayangnya, kebutuhan sederhana itu sering luput dari perhatian kebijakan.

Ini Belum Selesai

E-Parkir Solo Diluncurkan, Pemkot Bidik Pengurangan Pungli

Raja Kecil dan Raja Besar: Berebut Kuasa di Birokrasi

Terlebih lagi, bagi keluarga dengan banyak anak, tekanan ekonomi semakin berlapis. Ketika satu pengeluaran naik, keseimbangan rumah tangga langsung terguncang. Akibatnya, sekolah perlahan berubah dari harapan menjadi beban.

Kemiskinan Mengunci Akses Pendidikan

Data Badan Pusat Statistik menunjukkan kemiskinan di NTT masih berada di angka 18,60 persen per Maret 2025, jauh di atas rata-rata nasional. Dengan garis kemiskinan sekitar Rp 549 ribu per kapita per bulan, membeli buku tulis bukan keputusan ringan. Bahkan pulpen pun menjadi barang yang harus dipertimbangkan matang.

Dalam kondisi ini, setiap rupiah memaksa keluarga memilih makan hari ini atau sekolah besok. Maka tak mengherankan jika pendidikan sering menjadi korban pertama.

Anggaran Besar, Dampak yang Tak Merata

Ironisnya, negara selalu menggaungkan pendidikan gratis. Konstitusi menjaminnya. Anggaran pendidikan mencapai 20 persen APBN, dengan nilai sekitar Rp 757 triliun pada 2026. Di atas kertas, semuanya tampak ideal.

Namun realitas berkata lain. Masalahnya bukan hanya SPP. Justru biaya tak langsung seragam, buku, alat tulis, sepatu, tas, hingga transportasi menjadi tembok tinggi bagi keluarga miskin. Tak heran jika Ombudsman dan BPMP NTT mencatat lebih dari 145 ribu anak tidak bersekolah. Penyebab utamanya bukan kemalasan, melainkan kemiskinan dan jarak.

Biaya Kecil yang Dianggap Remeh Negara

Dalam kajian kebijakan, hambatan ini dikenal sebagai indirect cost barrier. Secara nominal tampak kecil, tetapi dampaknya sangat besar. Sayangnya, perhatian negara lebih sering tersedot ke program berskala besar yang mudah dipromosikan.

Sebagai contoh, Program Makan Bergizi Gratis digadang-gadang sebagai solusi, meski menyedot anggaran jumbo. Sebaliknya, paket alat tulis nasional hampir tak terdengar. Padahal negara seperti Vietnam dan Thailand sudah lama menyediakan school starter kits bagi siswa miskin—program sederhana, murah, dan berdampak langsung.

Tekanan Ekonomi dan Luka Psikologis

Masalah ini tidak berhenti pada angka kemiskinan. Lebih jauh, tekanan ekonomi merembet ke kondisi psikologis anak. Rasa gagal, rasa bersalah, hingga anggapan diri sebagai beban kerap muncul secara perlahan.

Data Global School-based Student Health Survey mencatat peningkatan perilaku bunuh diri remaja di Indonesia hingga 8,6 persen. Bahkan, KPAI menyebut Indonesia berada dalam kondisi darurat bunuh diri anak pada Februari 2026. Namun setiap tragedi muncul, respons publik cenderung berulang: menyalahkan keluarga, memanggil psikolog, dan menyoroti faktor individu.

Yang jarang dilakukan adalah mengoreksi desain kebijakan.

Gagah di Panggung Global, Rapuh di Ruang Kelas

Pada saat yang sama, negara tampil percaya diri di luar negeri. Diplomasi berjalan aktif, pertemuan internasional berlangsung padat. Tentu, tak ada yang keliru dengan peran global itu. Masalah muncul ketika perhatian ke luar mengorbankan tanggung jawab ke dalam.

Negara terlihat kuat di forum dunia, tetapi rapuh di ruang kelas desa.

Padahal solusinya tidak rumit paket perlengkapan sekolah nasional, subsidi transportasi siswa miskin, data terpadu yang akurat, fleksibilitas anggaran sekolah, serta intervensi dini sebelum anak putus sekolah. Semua itu jauh lebih murah daripada memulihkan luka setelah tragedi terjadi.

Martabat Anak dan Tanggung Jawab Negara

Pendidikan bukan sekadar gedung dan kurikulum. Ia menyangkut rasa aman dan martabat. Anak tidak seharusnya bertanya, “Apakah aku pantas sekolah?” Negara wajib memastikan pertanyaan itu tak pernah muncul.

Malala Yousafzai pernah mengatakan bahwa satu buku dan satu pulpen bisa mengubah dunia. Namun di negeri ini, seorang anak bahkan tak sempat memegang keduanya. Jika negara gagal menyediakan hal sesederhana itu, mungkin yang perlu sekolah ulang bukan anaknya melainkan cara kita mengelola kekuasaan.

Kini, pertanyaannya tinggal satu ini tragedi keluarga, atau kegagalan negara? @dimas

Tags: AnakanggaranGratisHakKeadilanKebijakanKemiskinanNegaraPendidikanrakyatSekolahSosialSosial & PublikSuaraTalk

Kamu Melewatkan Ini

Kemhan Klarifikasi: 121 Pelajar Bela Negara, Bukan Komcad, Bukan Hukuman Demo, Lalu?

Kemhan Klarifikasi: 121 Pelajar Bela Negara, Bukan Komcad, Bukan Hukuman Demo, Lalu?

by teguh
September 11, 2026

Kementerian Pertahanan (Kemhan) Klarifikasi dan menegaskan program pembinaan Bela Negara bagi 121 pelajar bukan hukuman atas aksi demonstrasi 27/08/2026. Tabooo.id:...

Mahasiswa FK-UB Jatuh, Kampus Gagal Membaca Krisis?

Mahasiswa FK-UB Jatuh, Kampus Gagal Membaca Krisis?

by teguh
September 11, 2026

Kasus RR, mahasiswa FK-UB (Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya), membuka pertanyaan yang lebih besar seberapa jauh perguruan tinggi mampu mengenali tekanan...

Mahasiswa FK-UB Diduga Coba Bunuh Diri, Polisi Selidiki Motif

Mahasiswa FK-UB Diduga Coba Bunuh Diri, Polisi Selidiki Motif

by teguh
September 11, 2026

Seorang mahasiswa FK-UB (Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya) Malang berinisial RR (19) diduga mencoba bunuh diri dengan melompat dari lantai enam...

Next Post
Materi “Mens Rea” Disorot Hukum, Pandji Diperiksa Polda Metro Jaya

Materi “Mens Rea” Disorot Hukum, Pandji Diperiksa Polda Metro Jaya

Madilog Series

Logika vs Emosi: Siapa yang Sebenarnya Mengendalikan Kamu? – Madilog Series #3.5

Logika vs Emosi: Siapa yang Sebenarnya Mengendalikan Kamu? – Madilog Series #3.5

Agustus 24, 2026
Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Juli 7, 2026
Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026

Marx Series

Mesin dan Industri Modern: Teknologi Membebaskan atau Membuat Pekerja Makin Mudah Diganti?

Mesin dan Industri Modern: Teknologi Membebaskan atau Membuat Pekerja Makin Mudah Diganti?

Agustus 25, 2026

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Juli 16, 2026

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Juni 20, 2026

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id