Tabooo.id: Check – Sebuah unggahan Facebook ramai beredar karena menarasikan Presiden Prabowo mengubah program Makan Bergizi Gratis (MBG) menjadi bantuan uang tunai Rp350 ribu per hari per siswa yang orang tua terima langsung. Unggahan itu menyebut orang tua bisa memakai uang tersebut untuk membeli makanan bergizi, menambah biaya sekolah, hingga membayar listrik rumah. Narasinya panjang, emosional, dan seolah berpihak pada rakyat kecil, sehingga banyak orang langsung percaya lalu ikut menyebarkannya.
Fakta Sebenarnya: Pemerintah Tidak Pernah Mengumumkan Skema Uang Tunai
Namun, klaim itu tidak benar. Hingga kini, Presiden Prabowo dan kementerian terkait belum pernah menyampaikan pernyataan soal penggantian MBG dengan uang tunai. Sebelumnya, Kementerian Keuangan juga sudah membantah isu serupa dan menyebutnya sebagai disinformasi. Pemerintah menegaskan MBG tetap berjalan sebagai program penyediaan makanan bergizi, bukan bantuan cash.
Presiden Prabowo bahkan menargetkan perluasan MBG agar menjangkau seluruh desa di Indonesia paling lambat Desember 2026. Program ini menyasar anak-anak, ibu hamil, dan lansia. Dengan begitu, pemerintah tetap memprioritaskan pemenuhan gizi masyarakat, bukan pembagian amplop berisi uang.
Kenapa Klaim Ini Mudah Bikin Orang Percaya?
Kalau pakai logika sederhana, angka Rp350 ribu per hari per siswa sudah terasa janggal. Dalam sebulan, satu anak bisa menerima lebih dari Rp10 juta. Saat jutaan siswa menerima dana serupa, anggaran negara tentu langsung megap-megap.
Di titik ini, hoaks mulai bekerja. Ia memancing emosi publik, menumpuk harapan ekonomi, lalu membungkusnya dengan kalimat panjang yang terdengar peduli. Sekilas tampak masuk akal, padahal banyak celah.
Ibaratnya, MBG itu seperti bekal sekolah agar anak makan sehat. Hoaks ini malah mengubah bekal jadi koper uang, seolah negara siap menjadi ATM berjalan.
Kesimpulan: Jangan Sampai Ketipu Narasi Manis
Kesimpulannya jelas, klaim MBG berubah menjadi bantuan Rp350 ribu per hari tidak benar.
Yuk biasakan cek sumber sebelum percaya, karena di era media sosial hoaks menyebar lebih cepat daripada aroma gorengan panas. Sebelum share, cek dulu—biar gak ikut dosa digital. @eko





