Kamis, Mei 14, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Mengurai Budaya Toxic Positivity di Media Sosial

by jeje
Oktober 15, 2025
in Talk
A A
Home Talk
Share on FacebookShare on Twitter

Tabooo: Talk – Media sosial sering kali terasa seperti ruang kompetisi kebahagiaan. Setiap unggahan terlihat cerah, penuh senyum, dan diselimuti kalimat motivasi. Seolah-olah, hidup yang baik hanya milik mereka yang terus berpikir positif. Namun di balik semua itu, ada satu budaya yang perlahan tumbuh dan berbahaya toxic positivity.

Positif Tidak Selalu Menyembuhkan

Kita terbiasa mendengar kalimat seperti “Jangan sedih, semua akan baik-baik saja,” atau “Bersyukur aja, masih banyak yang lebih susah.” Niatnya memang baik, tapi sering kali kalimat seperti itu justru menutup ruang untuk berduka dan memproses emosi.
Banyak orang akhirnya belajar menyembunyikan kesedihan mereka karena takut dianggap lemah atau tidak cukup bersyukur. Padahal, berpikir positif tanpa ruang untuk jujur pada diri sendiri bisa membuat seseorang semakin lelah.

Selain itu, budaya ini menciptakan tekanan sosial baru. Orang-orang merasa harus tampil bahagia setiap saat agar diterima. Di dunia maya, emosi negatif seperti marah, kecewa, atau sedih dianggap tanda kegagalan dalam mengontrol diri. Akibatnya, media sosial menjadi tempat penuh senyum palsu, bukan empati.

Antara Motivasi dan Penyangkalan

Tidak salah ingin melihat sisi baik dari hidup. Tapi ketika “selalu positif” menjadi satu-satunya cara yang dianggap benar, kita mulai kehilangan keseimbangan. Emosi negatif punya peran penting—mereka memberi sinyal bahwa ada sesuatu yang perlu diperbaiki.
Sebaliknya, menolak perasaan sedih justru menumpuk luka yang tak terselesaikan. Saat seseorang berkata, “Aku lelah,” lalu dibalas dengan “Kamu harus semangat dong!”, itu bukan motivasi, tapi bentuk penyangkalan halus terhadap perasaan manusia.

Selain itu, budaya ini juga memperkuat ilusi kesempurnaan. Banyak orang membandingkan diri dengan kebahagiaan yang mereka lihat di layar. Padahal, tidak ada yang benar-benar bahagia setiap waktu. Kesehatan mental justru tumbuh dari keberanian untuk jujur bukan dari menutup rasa sakit dengan kalimat manis.

Ini Belum Selesai

Demokrasi Tidak Mati Karena Kritik, Tapi Karena Fanatisme Politik

Kreativitas Tidak Selalu Tenang, Kadang Datang Saat Hidup Berantakan

Belajar Menjadi Manusia yang Seutuhnya

Sudah saatnya kita berhenti menuntut diri untuk selalu bahagia. Tidak apa-apa merasa sedih. Tidak apa-apa kecewa. Karena justru dari perasaan itu, kita belajar memahami diri sendiri.
Media sosial bisa menjadi ruang yang lebih sehat bila digunakan untuk berbagi kisah nyata, bukan hanya pencitraan. Ketika seseorang berani menulis tentang hari buruknya dan mendapatkan dukungan tulus, di situlah empati tumbuh.

Kita tidak perlu terus menutupi luka dengan kata “semangat.” Kadang, yang dibutuhkan hanyalah ruang aman untuk berkata, “Aku tidak baik-baik saja.” Dan itu tidak membuat kita lemah itu membuat kita manusia. @jeje

Kamu Melewatkan Ini

VOC Runtuh karena Korupsi, Kenapa Indonesia Mengulang Pola yang Sama?

VOC Runtuh karena Korupsi, Kenapa Indonesia Mengulang Pola yang Sama?

by dimas
Mei 13, 2026

VOC runtuh karena korupsi besar, penggelapan uang, dan permainan elite kekuasaan. Dua abad berlalu, Indonesia masih menghadapi pola lama jabatan...

Kenapa Kucumbu Tubuh Indahku Membuat Banyak Orang Tidak Nyaman?

Kenapa Kucumbu Tubuh Indahku Membuat Banyak Orang Tidak Nyaman?

by eko
Mei 13, 2026

Kucumbu Tubuh Indahku bukan sekadar film yang memancing kontroversi. Film karya Garin Nugroho itu berubah menjadi simbol benturan besar antara...

Reformasi 1998: Luka yang Masih Menunggu Keadilan

Reformasi 1998: Luka yang Masih Menunggu Keadilan

by Naysa
Mei 13, 2026

Reformasi 1998 tidak hanya menjatuhkan rezim Orde Baru, tapi juga membuka janji besar tentang demokrasi, hukum, dan hak asasi manusia....

Next Post
On the Edge of Change: Revolusi Gaya Hidup Digital

On the Edge of Change: Revolusi Gaya Hidup Digital

Pilihan Tabooo

Saat Kehilangan Jadi Awal Perjalanan Baru

Peristiwa Yesus Naik Ke Surga: Saat Kehilangan Jadi Awal Perjalanan Baru

Mei 10, 2026

Realita Hari Ini

Pajak Kendaraan Diganti Jalan Berbayar: Terobosan Berani atau Eksperimen Berisiko?

Pajak Kendaraan Diganti Jalan Berbayar: Terobosan Berani atau Eksperimen Berisiko?

Mei 13, 2026

MPR RI Nonaktifkan Juri dan MC LCC Kalbar Usai Polemik Jawaban DPD Viral

Mei 12, 2026

Rapat Stunting atau Waktu Main? DPRD Jember Kini Disorot Publik

Mei 13, 2026

MBG Bisa Ditolak, Prabowo Persilakan Anak Orang Kaya Mundur

Mei 12, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Figures

© 2026 Tabooo.id