Tabooo.id: Vibes – Ada satu ritual kecil yang diam-diam mulai digemari warga Surabaya belakangan ini. Pertama, mereka berjalan pelan di bawah lampion merah. Lalu, mereka menghirup aroma bakpao panas yang bercampur sate usus. Setelah itu, mereka berhenti sejenak hanya untuk memotret gerbang bergaya Tionghoa yang menyala di malam hari. Ritual ini tidak terjadi di luar negeri. Ritual ini juga bukan bagian dari taman hiburan. Sebaliknya, warga menemukan pengalaman itu di Kya-Kya Kembang Jepun sebuah ruas jalan yang kini kembali hidup setelah lama menyimpan cerita.
Di media sosial, Kya-Kya semakin sering muncul sebagai latar foto estetik. Lampu temaram membingkai suasana, papan nama beraksara Mandarin memperkuat karakter visual, sementara keramaian menciptakan kesan hangat dan akrab. Namun demikian, di balik tampilan yang ramah kamera, kawasan ini menyimpan lapisan sejarah panjang. Oleh karena itu, Kya-Kya tidak sekadar menawarkan makan malam. Kawasan ini menghadirkan potongan memori kota yang kini kembali bernapas.
Dari Jalan Dagang ke Ruang Nongkrong
Kya-Kya menempati Jalan Kembang Jepun, salah satu ruas tertua di Surabaya. Bahkan jauh sebelum kafe dan lapak jajanan memenuhi trotoarnya, jalan ini sudah menggerakkan roda perdagangan kota pelabuhan. Pada masa kolonial Belanda, masyarakat mengenal kawasan ini sebagai Handelstraat atau jalan perdagangan. Di titik ini, para pedagang bertemu, bertransaksi, sekaligus menetap.
Selanjutnya, sejarah mencatat Kembang Jepun sebagai kawasan Pecinan resmi. Di sinilah komunitas Tionghoa membangun rumah, membuka toko, dan merajut jejaring ekonomi. Pada saat yang sama, mereka hidup berdampingan dengan kawasan Arab dan Melayu di utara serta permukiman Eropa di barat. Dengan kondisi itu, Surabaya tumbuh sebagai kota kosmopolitan. Tak heran, Kembang Jepun kemudian berperan sebagai titik temu lintas budaya.
Sementara itu, nama “Kembang Jepun” mulai dikenal luas pada masa pendudukan Jepang. Seiring berjalannya waktu, kawasan ini terus berganti wajah. Awalnya, aktivitas grosir mendominasi kawasan. Kemudian, fungsi kawasan bergeser menjadi pusat pertokoan dan deretan restoran legendaris. Namun ketika denyut ekonomi berubah, pamor Kembang Jepun pun perlahan meredup.
Kya-Kya: Jalan-Jalan yang Jadi Konsep
Pada 31 Mei 2003, bertepatan dengan hari jadi Kota Surabaya, pemerintah kota meresmikan Kya-Kya sebagai kawasan wisata kuliner malam. Pemerintah memilih nama “kya-kya” dari dialek Tionghoa yang berarti “jalan-jalan”. Menariknya, istilah sederhana ini langsung menggambarkan pengalaman utama para pengunjung.
Di Kya-Kya, orang datang bukan hanya untuk makan. Sebaliknya, mereka datang untuk bergerak. Mereka melangkah dari satu lapak ke lapak lain, menawar jajanan, menyapa pedagang, lalu duduk santai bersama teman atau keluarga. Dengan cara itu, Kya-Kya mengajak orang memperlambat langkah di tengah kota yang biasanya berlari cepat.
Meski demikian, kawasan ini sempat meredup selama beberapa tahun. Akan tetapi, denyutnya tidak pernah benar-benar berhenti. Pada akhirnya, Kya-Kya hanya menunggu momentum untuk kembali hidup.
Kebangkitan Kota Tua dan Identitas yang Kembali
Momentum itu akhirnya datang pada 2022. Saat itu, Pemerintah Kota Surabaya menghidupkan kembali Kya-Kya sebagai bagian dari pengembangan kawasan Kota Tua. Program revitalisasi ini tidak hanya menyentuh bangunan dan tata ruang. Lebih jauh lagi, upaya ini memperkuat kembali identitas kawasan.
Kini, Kya-Kya tampil lebih terbuka dan inklusif. Para pengelola menghadirkan kuliner khas Tionghoa yang halal. Dengan langkah ini, lebih banyak pengunjung dapat menikmati cita rasa yang sebelumnya dianggap terbatas. Karena itu, kawasan ini berhasil menciptakan ruang temu baru antara tradisi dan kebutuhan masyarakat urban masa kini.
Selain itu, nuansa Tionghoa tampil lebih berani. Papan nama beraksara Mandarin kembali menghiasi kawasan. Meski tampak sederhana, simbol ini membawa makna besar. Kehadirannya mengingatkan bahwa identitas budaya yang dulu sempat ditekan kini dapat hadir tanpa rasa takut.
Lebih dari Sekadar Makan Malam
Saat berjalan di Kya-Kya hari ini, pengunjung seolah membuka album lama dengan desain baru. Gerbang khas Tionghoa berdiri sebagai penanda ruang. Di sekitarnya, bangunan tua terus menyimpan jejak perubahan zaman.
Namun, pengalaman di Kya-Kya tidak berhenti pada urusan perut. Pada waktu-waktu tertentu, kawasan ini berubah menjadi panggung budaya. Musik keroncong mengalun berdampingan dengan instrumen klasik Tiongkok. Pada saat yang sama, barongsai menari di antara kerumunan, disambut tepuk tangan dan ponsel yang terangkat serempak.
Dalam momen seperti itu, batas antara wisatawan dan warga lokal perlahan menghilang. Akhirnya, semua orang larut sebagai penikmat dan menjadi bagian dari suasana yang sama.
Kya-Kya dan Kita Hari Ini
Di tengah tren urban yang gemar membangun ruang baru lalu melupakan yang lama, Kya-Kya menawarkan pendekatan berbeda. Alih-alih menghapus sejarah, kawasan ini justru mengemas ulang warisan lama agar generasi sekarang dapat membacanya dengan cara yang lebih segar.
Lebih dari itu, Kya-Kya mencerminkan cara kota berdamai dengan masa lalunya. Kawasan ini mengakui bahwa Surabaya tumbuh dari banyak tangan dan banyak budaya. Dengan demikian, keberagaman tidak berhenti sebagai jargon. Keberagaman hadir sebagai pengalaman nyata yang bisa dirasakan bahkan dicicipi.
Di era digital, ketika orang sering mencari pengalaman “otentik” lewat layar, Kya-Kya justru mengajak orang hadir secara fisik. Pengunjung menyusuri jalan, menghirup aroma masakan, dan mendengar riuh suara manusia. Semua itu menghadirkan pengalaman analog di tengah kehidupan yang kian digital.
Jalan yang Terus Berjalan
Pada akhirnya, Kya-Kya Kembang Jepun membuktikan bahwa sejarah tidak harus berdiam di museum. Sebaliknya, sejarah dapat hidup sebagai ruang publik, sebagai tempat berkumpul, dan sebagai latar cerita baru yang terus lahir setiap malam.
Di jalan ini, masa lalu dan masa kini berjalan berdampingan. Lampion menyala bukan hanya untuk menerangi langkah, tetapi juga untuk mengingatkan: kota yang besar adalah kota yang mau mengingat, lalu merayakannya bersama.
Dan mungkin, di sanalah makna Kya-Kya hari ini sebuah ajakan sederhana untuk berjalan pelan, menoleh ke belakang, sambil tetap melangkah ke depan. @Sabrina Fidhi-Surabaya





