Minggu, Juni 28, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Rotunda Galerius: Situs Tua dengan Jiwa yang Terus Berubah

by sigit
Januari 23, 2026
in Vibes
A A
Home Vibes
Share on FacebookShare on Twitter

Tabooo.id: Vibes – Ada bangunan yang, dari sudut mana pun kamu memotretnya, tetap terasa “berat”. Berat oleh sejarah, Berat oleh lapisan waktu, Berat oleh doa-doa yang pernah melayang di dalamnya. Rotunda Galerius di Thessaloniki adalah salah satunya. Struktur melingkar masif dengan oculus di puncaknya sekilas mengingatkan pada Pantheon di Roma diam-diam memancing satu pertanyaan sederhana tapi mengganggu, ini sebenarnya bangunan apa?

Kuil? Makam? Gereja? Masjid? Atau sekadar penanda bahwa manusia dari berbagai zaman pernah singgah di titik yang sama, lalu pergi tanpa benar-benar pamit.

Di tengah budaya meme dan kebiasaan swipe cepat, Rotunda justru berdiri sebagai anomali. Bangunan ini tidak buru-buru menjelaskan dirinya. Ia juga menolak satu identitas tunggal. Anehnya, justru di situlah daya tariknya tumbuh pelan-pelan.

Awal Mula: Kekuasaan yang Mencari Keabadian

Pada awal abad ke-4, Kaisar Romawi Galerius membangun Rotunda sebagai bagian dari kompleks istananya di Thessaloniki. Para sejarawan masih berdebat soal fungsi awalnya. Sebagian menduga Galerius menyiapkannya sebagai mausoleum pribadi. Sementara itu, teori lain menyebut bangunan ini sebagai kuil untuk dewa-dewa Romawi.

Namun satu hal jelas Rotunda berdiri sebagai simbol kekuasaan. Thessaloniki saat itu bukan kota sembarangan. Letaknya strategis, menjadi simpul penting antara Timur dan Barat. Karena itu, Rotunda tidak sekadar bangunan ia adalah pernyataan politik dalam bentuk batu dan lengkungan.

Ini Belum Selesai

Raden Ronggo Prawirodirjo III: Api Perlawanan dari Madiun

Kirab Pusaka PSHW-TM: Langkah Sunyi yang Menyatukan Persaudaraan

Sejarah yang Gemar Bermain Remix

Seiring waktu, sejarah mulai memainkan remix-nya. Ketika Kekaisaran Romawi memeluk Kristen, Rotunda ikut berganti peran. Bangunan ini berubah menjadi basilika Kristen, lengkap dengan mosaik megah yang hingga kini masih memantulkan cahaya zaman lampau.

Kemudian, berabad-abad setelahnya, Ottoman datang dan membawa perubahan lain. Rotunda kembali berganti fungsi, kali ini sebagai masjid. Pada masa itu, orang-orang menambahkan sebuah menara adzan di sisi selatan. Menariknya, menara tersebut masih berdiri sampai sekarang. Alih-alih menghapusnya, kota memilih merawatnya sebagai jejak sejarah.

Setelah Thessaloniki kembali menjadi bagian dari Yunani modern, Rotunda kembali berfungsi sebagai gereja Kristen. Selanjutnya, waktu mendorongnya ke peran baru situs arkeologi dan monumen budaya. Empat fungsi besar, Empat sistem kepercayaan, Satu bangunan. Jika Rotunda bisa bicara, mungkin ia akan tersenyum kecil melihat manusia yang masih suka ribut soal perbedaan.

Kota yang Terasa Familiar Tanpa Alasan Jelas

Pengalaman berada di Thessaloniki menghadirkan rasa familiar yang aneh. Perjalanan dari Istanbul ke Thessaloniki tidak terasa seperti melintasi dunia yang sepenuhnya berbeda. Secara visual, ritmenya serupa. Lengkungan Romawi menyapa mata. Mosaik Bizantium muncul di sudut-sudut kota. Jejak Ottoman ikut membayang.

Padahal secara administratif, perbedaannya tegas. Turki bebas visa bagi paspor Indonesia, Yunani menuntut visa Schengen. Namun budaya sering kali cuek pada garis politik, Ia mengalir, menyelinap, dan bertahan di antara celah-celah sejarah.

Rotunda Galerius: Situs Tua dengan Jiwa yang Terus Berubah

Alun alun terbesar di Yunani Utara dan pusat kehidupan kota di rancang oleh arsitek Prancis Ernest Hebrard pada Tahun 1917, Lapangan Aristotelous di Thessaloniki, Yunani.

Identitas, Feed Media Sosial, dan Bangunan Tua

Rotunda berdiri sebagai pengingat bahwa peradaban tidak pernah benar-benar dimulai dari nol. Manusia selalu meneruskan, mengubah, dan menafsir ulang. Pola ini terasa akrab. Kita melihatnya setiap hari di feed media sosial satu platform, banyak identitas. Hari ini kita aktivis, Besok kita estetik. Lusa kita spiritual. Tidak konsisten, tapi sangat manusiawi.

Karena itu, di konteks masa kini, bangunan seperti Rotunda terasa semakin relevan. Ia menolak simplifikasi. Di dunia yang gemar mengotak-ngotakkan identitas agama, bangsa, ideologi Rotunda menunjukkan bahwa sejarah manusia jauh lebih berlapis. Ia tidak menghapus yang lama saat yang baru datang. Sebaliknya, ia menumpuk makna, lapis demi lapis.

Panggilan Sunyi dan Perjalanan Pribadi

Mungkin itulah sebabnya banyak orang merasa tertarik pada situs-situs bersejarah tanpa alasan rasional. Ada semacam panggilan sunyi. Bukan karena kita hafal kronologinya, melainkan karena sesuatu di dalam diri ikut beresonansi. Jiwa seolah mengenali pola lama perubahan, pencarian, pengulangan.

Bagi sebagian orang, traveling identik dengan checklist negara. Angka, Statistik namun bagi yang lain, perjalanan sering dimulai dari ketertarikan kecil. Awalnya cuma rasa penasaran. Lalu berlanjut ke pencarian larut malam. Setelah itu, tidur jadi susah. Anehnya, semesta sering ikut campur. Tiket murah muncul, Teman menawarkan tumpangan jalan tiba-tiba terbuka. Budget minim, pengalaman maksimal.

Mengunjungi sekitar 40 negara mungkin terdengar biasa bagi traveler yang sudah menembus angka tiga digit. Namun angka tidak selalu bicara soal jarak. Yang lebih penting justru kedalaman pertemuan dengan tempat, dengan sejarah, dan dengan diri sendiri. Dalam konteks itu, Rotunda Galerius kerap berperan sebagai cermin diam yang jujur.

Penutup: Pertanyaan yang Tetap Menggantung

Di dalam bangunan melingkar itu, ketika cahaya jatuh dari oculus di atas, kita kembali diingatkan manusia selalu mencari makna. Entah lewat kekuasaan, iman, atau perjalanan. Fungsi bisa berubah nama bisa berganti namun dorongan untuk meninggalkan jejak tidak pernah benar-benar hilang.

Mungkin Rotunda memang tidak ditakdirkan menjadi satu hal saja. Mungkin justru misinya adalah menampung banyak cerita. Seperti kita, yang terus berganti peran sepanjang hidup, Seperti kota-kota yang tumbuh di atas reruntuhan masa lalu, Seperti perjalanan yang sering berawal dari rasa suka yang tidak bisa dijelaskan.

Dan pada akhirnya, saat kita berdiri di hadapan bangunan setua itu, pertanyaannya pun ikut bergeser. Bukan lagi, “Ini tempat apa?”
Melainkan, “Bagian mana dari diriku yang sedang ia panggil?”

Tabooo.id Vibes / Perjalanan Risa Bluesaphier dari Istanbul Turki Menyusuri Jejak Sejarah Mediterania Timur. (Risa Bluesaphier adalah Jurnalis Travel Tabooo.id)

Tags: Sejarah

Kamu Melewatkan Ini

Ki Ngabehi Soerodiwirjo dan Rahasia di Balik Lahirnya Setia Hati

Ki Ngabehi Soerodiwirjo dan Rahasia di Balik Lahirnya Setia Hati

by dimas
Juni 21, 2026

Ki Ngabehi Soerodiwirjo menempuh perjalanan panjang melintasi Nusantara untuk mencari jati diri. Dari pencarian itulah lahir Persaudaraan Setia Hati, warisan...

Bersih Desa: Tradisi Jawa yang Lahir dari Wabah, Kehilangan, dan Harapan

Bersih Desa: Tradisi Jawa yang Lahir dari Wabah, Kehilangan, dan Harapan

by dimas
Juni 14, 2026

Tradisi Bersih Desa ternyata berakar dari legenda wabah Kerajaan Gilingaya, kisah kehilangan seorang ibu, dan harapan yang menyatukan masyarakat Jawa....

Malam 1 Suro dan Jejak Sultan Agung Menyatukan Peradaban Jawa

Malam 1 Suro dan Jejak Sultan Agung Menyatukan Peradaban Jawa

by dimas
Juni 13, 2026

Malam 1 Suro bukan sekadar kisah mistis. Di baliknya tersimpan sejarah Sultan Agung menyatukan Jawa melalui budaya, tradisi, dan kalender...

Next Post
Rotunda Galerius dan Perjalanan yang Tak Lagi Mengejar Tujuan

Catatan Perjalanan DGI: Satu Halaman Paling Sunyi dalam Diary Gembel

Madilog Series

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026
Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Juni 7, 2026
Logika: Senjata Pembebasan yang Jarang Dipakai – Madilog Series #3.1

Logika: Senjata Pembebasan yang Jarang Dipakai – Madilog Series #3.1

Juni 2, 2026

Marx Series

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Juni 20, 2026

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026

Uang Menjadi Kapital: Ketika Uang Berubah Jadi Mesin Penghisap – Marx Series #1.3

Mei 29, 2026

Fetisisme Komoditas: Saat Barang Terlihat Lebih Penting daripada Manusia – Marx Series #1.2

Mei 25, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id