Kamis, September 17, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

PDI-P Angkat Isu Ekologi dan Pilkada dalam Rakernas di Ancol

by dimas
Januari 10, 2026
in Nasional, Reality
A A
Home Reality Nasional
Share on Facebook
Share on Twitter

Tabooo.id: Nasional – Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) menggelar peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-53 yang dirangkai dengan rapat kerja nasional (Rakernas) pada Sabtu (10/1/2026) hingga Senin (12/1/2026). Agenda ini berlangsung di Beach City International Stadium (BCIA), Ancol, Jakarta, dan menjadi momentum penting konsolidasi partai di awal tahun politik 2026.

Rakernas kali ini tidak berhenti pada seremoni ulang tahun. PDI-P memanfaatkan forum tersebut untuk merumuskan sikap politik dan membedah isu strategis yang berdampak langsung pada kehidupan publik. Isu krisis ekologis, wacana perubahan mekanisme pemilihan kepala daerah, hingga arah politik nasional dan global masuk dalam daftar pembahasan utama.

Krisis Lingkungan Menguatkan Alarm Politik

PDI-P menempatkan isu kerusakan lingkungan sebagai sorotan utama Rakernas. Sekretaris Jenderal PDI-P Hasto Kristiyanto menyebut krisis ekologis telah memicu bencana beruntun di berbagai daerah. Banjir dan longsor di sejumlah wilayah Sumatera menjadi contoh paling nyata.

Hasto mengungkapkan bahwa partainya menerima banyak masukan agar pemerintah menetapkan status bencana nasional di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Ia menilai langkah tersebut dapat mempercepat penanganan sekaligus membuka kesadaran publik bahwa bencana tidak hadir secara tiba-tiba. Menurutnya, kebijakan konversi hutan selama bertahun-tahun ikut memperparah kerentanan lingkungan.

Sebagai respons politik, PDI-P berencana membentuk subkomisi khusus yang fokus menangani isu ekologi dan lingkungan hidup. Hasto menegaskan langkah ini sejalan dengan perhatian Ketua Umum PDI-P Megawati Soekarnoputri terhadap isu perubahan iklim global. Ia juga menyinggung pertemuan Megawati dengan mantan Wakil Presiden Amerika Serikat Al Gore sebagai bagian dari dialog lintas negara soal krisis iklim.

Ini Belum Selesai

Warung Mi dan Babi Sukoharjo Dibakar, 12 Saksi Diperiksa Polisi

TPNPB Klaim Tembak Sopir di Wamena-Nduga: Jalur Publik Jadi Zona Ancaman

Pilkada Lewat DPRD Kembali Diperbincangkan

Selain isu lingkungan, Rakernas membuka kembali diskusi soal mekanisme pemilihan kepala daerah melalui DPRD. Wacana ini mencuat setelah sejumlah kader daerah menyuarakan evaluasi terhadap pilkada langsung. Mereka menilai sistem tersebut menyedot biaya besar dan kerap memicu konflik politik di tingkat lokal.

Ketua DPP PDI-P Andreas Hugo Pareira menegaskan bahwa partai belum mengambil keputusan resmi. Ia menyatakan sikap final baru akan muncul setelah Rakernas menyepakati arah politiknya. Pernyataan ini menunjukkan PDI-P masih menghitung dampak perubahan sistem pilkada terhadap demokrasi, partisipasi publik, dan stabilitas pemerintahan daerah.

Bagi masyarakat, wacana ini bukan sekadar perdebatan elite. Mekanisme pilkada menyentuh langsung hak memilih warga dan menentukan relasi kekuasaan di tingkat lokal.

Menentukan Sikap di Tengah Tekanan Nasional dan Global

Rakernas juga menjadi ruang bagi PDI-P untuk menetapkan sikap politik terhadap berbagai isu strategis lain. Hasto menyebut partai akan membahas persoalan geopolitik, tekanan ekonomi global, penegakan hukum, hingga agenda pemberantasan korupsi. Semua isu tersebut, kata dia, berkaitan langsung dengan tanggung jawab kerakyatan partai.

Melalui forum ini, PDI-P ingin menegaskan perannya sebagai partai penyeimbang di tengah dinamika kekuasaan nasional. Hasto menekankan bahwa partainya memilih fokus pada kerja nyata di tengah masyarakat, terutama saat publik masih menghadapi tekanan ekonomi dan dampak bencana alam.

Tema Ideologis dan Konsolidasi Internal

Rakernas PDI-P tahun ini mengusung tema “Satyam Eva Jayate” dengan subtema “Di Sanalah Aku Berdiri untuk Selama-lamanya”. Hasto menjelaskan tema tersebut menegaskan komitmen partai pada nilai kebenaran, keberpihakan kepada rakyat, dan keberanian bersikap kritis di tengah pragmatisme politik.

Agenda dimulai dengan perayaan HUT ke-53 PDI-P pada Sabtu (10/1/2026), lalu berlanjut dengan Rakernas hingga Senin (12/1/2026). Forum ini dihadiri jajaran pengurus pusat dan daerah, anggota DPR dan DPRD Fraksi PDI-P, serta kepala dan wakil kepala daerah yang diusung partai.

Rakernas ini juga menindaklanjuti hasil Kongres ke-VI PDI-P yang digelar pada Agustus 2025. Karena itu, keputusan yang lahir dari Ancol diharapkan menjadi panduan arah politik partai dalam menghadapi kontestasi dan tantangan ke depan.

Di tengah sorotan publik terhadap isu lingkungan, pilkada, dan ekonomi, Rakernas PDI-P tidak lagi sekadar agenda internal. Forum ini akan menguji apakah konsolidasi politik mampu menjawab keresahan rakyat. Di dalam stadion, arah disusun rapi. Namun di luar Ancol, publik menunggu satu hal sederhana: keputusan yang benar-benar berpihak, bukan sekadar slogan ulang tahun. @dimas

Tags: DemokrasiIsuKebijakanKonsolidasiLingkunganPartaipdipPilkadaPolitik IndonesiaRakernasSosial & Publik

Kamu Melewatkan Ini

Demonstran Dibenturkan dengan Warga, Siapa yang Diuntungkan?

Demonstran Dibenturkan dengan Warga, Siapa yang Diuntungkan?

by dimas
September 4, 2026

Demonstran dibenturkan dengan warga dalam sejumlah aksi. Simak pola konflik horizontal, krisis kepercayaan, dan pihak yang berpotensi diuntungkan. Tabooo.id -...

Karhutla Lahap 100 Hektare Tahura Bukit Soeharto di IKN

Karhutla Lahap 100 Hektare Tahura Bukit Soeharto di IKN

by dimas
September 2, 2026

Karhutla melahap sekitar 100 hektare Tahura Bukit Soeharto di kawasan IKN. Petugas menghadapi medan sulit dan keterbatasan akses saat memadamkan...

Kalau Tan Malaka Melihat Demo 27 Agustus: Massa Besar Tidak Perlu Rusuh

Kalau Tan Malaka Melihat Demo 27 Agustus: Massa Besar Tidak Perlu Rusuh

by Tabooo
Agustus 29, 2026

Tan Malaka mungkin membela hak rakyat untuk turun ke jalan. Namun, Aksi Massa dan MADILOG menunjukkan bahwa ia juga akan...

Next Post
Indonesia dan Turki Sepakati Perluasan Kerja Sama Pertahanan Jangka Panjang

Indonesia dan Turki Sepakati Perluasan Kerja Sama Pertahanan Jangka Panjang

Madilog Series

Logika vs Emosi: Siapa yang Sebenarnya Mengendalikan Kamu? – Madilog Series #3.5

Logika vs Emosi: Siapa yang Sebenarnya Mengendalikan Kamu? – Madilog Series #3.5

Agustus 24, 2026
Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Juli 7, 2026
Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026

Marx Series

Mesin dan Industri Modern: Teknologi Membebaskan atau Membuat Pekerja Makin Mudah Diganti?

Mesin dan Industri Modern: Teknologi Membebaskan atau Membuat Pekerja Makin Mudah Diganti?

Agustus 25, 2026

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Juli 16, 2026

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Juni 20, 2026

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id