Selasa, Oktober 20, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Gereja Santo Antonius Purbayan, Gereja Katolik Pertama di Solo

by Anisa
Desember 25, 2025
in Vibes
A A
Home Vibes
Share on Facebook
Share on Twitter

Tabooo.id: Vibes – Di tengah hiruk pikuk Kota Solo tempat becak, batik, dan warung kopi berbaur dengan notifikasi ponsel berdiri sebuah bangunan yang memilih tenang. Gereja Santo Antonius Purbayan hadir seperti jeda di antara scroll media sosial yang tak berujung. Dindingnya tak berteriak minta difoto. Menaranya pun tak mengejar viral. Justru karena diam itulah, ia menyimpan banyak cerita.

Bagi generasi hari ini, gereja mungkin sekadar titik di Google Maps atau latar foto prewedding. Namun Purbayan lebih dari bangunan ibadah. Ia menjadi arsip hidup. Di ruang ini, doa, kolonialisme, perjumpaan budaya, dan nasionalisme pernah saling bersinggungan.

Gereja Pertama, Jejak Awal Katolik di Solo

Gereja Santo Antonius Purbayan tercatat sebagai gereja Katolik pertama di Kota Solo. Ia berdiri pada November 1916 di Jalan Arifin No. 1, Surakarta. Sejak awal, gereja ini berfungsi sebagai tempat ibadah umat Katolik. Hingga kini, peran itu tetap bertahan.

Namun sejarah Purbayan bergerak jauh melampaui bangku misa dan dentang lonceng. Jejak Katolik di Surakarta sudah muncul sejak awal abad ke-19. Sekitar tahun 1827, pemerintah kolonial Belanda mengutus Lambertus Prisen, seorang imam Katolik, untuk melayani umat di Jawa Tengah.

Diplomasi Budaya dan Jalan Pelan Misi

Pastor Prisen tidak datang sendirian. Tiga imam sekuler mendampinginya, termasuk Pastor Yakobus Sholten. Mereka memilih jalan yang tak konfrontatif. Alih-alih berkhotbah di ruang terbuka, mereka membangun relasi. Mereka menginap di Kasunanan Surakarta, membaca situasi, dan memahami karakter masyarakat Jawa yang menghormati pemimpinnya.

Ini Belum Selesai

De Tjolomadoe: Dari Pabrik Gula ke Ruang Sejarah

Pameran Keris Keluar dari Museum, Solo Mengajak Wisatawan Menyentuh Ingatan

Pendekatan dari atas ke bawah pun berjalan. Strategi ini menunjukkan hasil. Sebanyak 59 orang tertarik menjadi umat Katolik. Meski begitu, Surakarta belum berstatus stasi tetap. Baru pada 1896, ketika Ambarawa menjadi paroki, Surakarta ikut berada di bawah naungannya.

Langkah besar muncul pada 1905. Romo Cornelis Stiphout, SJ, mengusulkan pendirian Pastoran Surakarta. Prosesnya tidak instan. Dana tidak datang tiba-tiba. Romo Stiphout menggalang biaya lewat cara kreatif: undian berhadiah.

Umat dan simpatisan membeli tiket. Dana terkumpul sedikit demi sedikit, seperti doa yang dirapal berulang. Usaha itu berbuah hasil. Pada 22 Desember 1907, misa suci pertama berlangsung di pastoran. Romo Stiphout juga mengirim surat ke Belanda untuk meminta bantuan. Dukungan pun mengalir.

Akhirnya, pada November 1916, Gereja Santo Antonius Purbayan resmi berdiri. Romo Stiphout menjadi pastor pertama Paroki Purbayan.

Baptisan Sunyi Seorang Pahlawan

Purbayan tidak hanya menyimpan kisah iman. Gereja ini juga mencatat sejarah bangsa. Pada 1949, Brigadir Jenderal Slamet Riyadi menerima baptisan di tempat ini. Nama baptisnya: Ignatius. Sebuah peristiwa sederhana, namun beresonansi besar dalam perjalanan Indonesia.

Makna di Tengah Zaman Digital

Hari ini, kisah Purbayan terasa relevan. Di tengah perdebatan identitas, agama, dan politik, gereja ini menunjukkan bahwa Indonesia lahir dari perjumpaan panjang. Sejarah bangsa tidak bergerak lurus. Ia tumbuh dari kolonialisme, berdialog dengan budaya lokal, lalu berkontribusi pada perjuangan kemerdekaan.

Di era digital, ketika makna sering diringkas jadi caption, Purbayan menawarkan pelajaran berbeda. Makna butuh waktu. Gereja ini berdiri lebih dari seabad. Ia melewati rezim, perang, dan perubahan sosial. Fungsinya tetap sama, tetapi tafsirnya terus bergerak.

Refleksi Tabooo: Kota dan Ingatan

Mungkin di sinilah pentingnya bangunan tua di kota-kota kita. Mereka bukan sekadar peninggalan. Mereka pengingat. Iman bisa berjalan berdampingan dengan nasionalisme. Sejarah tidak selalu lahir di medan perang. Kadang ia tumbuh dari baptisan, undian berhadiah, dan kesabaran membangun komunitas.

Di tengah Solo yang terus berlari mengejar masa depan, Gereja Santo Antonius Purbayan memilih melangkah pelan. Ia mengingatkan kita bahwa kota bukan hanya soal gedung tinggi dan Wi-Fi cepat. Kota juga tentang ingatan tentang ruang yang menyimpan doa-doa lama.

Dan mungkin, di sanalah keindahannya: sebuah gereja tua yang tetap diam, sementara zaman terus bergerak. (red)

Referensi:

Yunani, Ahmad. (2016). Gereja Santo Antonius Purbayan: Sejarah Awal Gereja Katolik Belanda di Solo. Jurnal Lektur Keagamaan, Vol. 14, No.1, 2016.

Tanjung, Anita Chairul. (2013). Pesona Solo. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.

Tags: PertamaSejarahSoloSurakarta

Kamu Melewatkan Ini

Museum ke Hotel: Budaya Solo atau Pajangan Wisata?

Museum ke Hotel: Budaya Solo atau Pajangan Wisata?

by teguh
Oktober 13, 2026

Museum tak harus menunggu pengunjung datang. Kali ini, koleksi sejarah dan budaya Solo yang biasanya tersimpan di gedung museum justru...

Patriot Bengawan Bidik Posisi Kedua PORPROV Jateng

Patriot Bengawan Bidik Posisi Kedua PORPROV Jateng

by eko
Oktober 8, 2026

Patriot Bengawan siap berlaga di PORPROV Jateng 2026. Kontingen Surakarta membidik posisi kedua dengan target 95 medali emas. Tabooo.id: Surakarta...

Api Padam, Panas Belum Pergi: Apa yang Sebenarnya Terjadi di TPA Putri Cempo?

Api Padam, Panas Belum Pergi: Apa yang Sebenarnya Terjadi di TPA Putri Cempo?

by teguh
September 25, 2026

Api kembali muncul di TPA Putri Cempo, Solo, Kamis 24/9/2026. Petugas sebelumnya terus membasahi titik panas setelah kebakaran besar melanda...

Next Post
Hoaks! Video Panglima TNI soal Kemerdekaan Papua Barat

Hoaks! Video Panglima TNI soal Kemerdekaan Papua Barat

Madilog Series

Logika vs Emosi: Siapa yang Sebenarnya Mengendalikan Kamu? – Madilog Series #3.5

Logika vs Emosi: Siapa yang Sebenarnya Mengendalikan Kamu? – Madilog Series #3.5

Agustus 24, 2026
Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Juli 7, 2026
Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026

Marx Series

Mesin dan Industri Modern: Teknologi Membebaskan atau Membuat Pekerja Makin Mudah Diganti?

Mesin dan Industri Modern: Teknologi Membebaskan atau Membuat Pekerja Makin Mudah Diganti?

Agustus 25, 2026

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Juli 16, 2026

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Juni 20, 2026

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id