Minggu, Juni 28, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Gereja Santo Antonius Purbayan, Gereja Katolik Pertama di Solo

by sigit
Desember 25, 2025
in Vibes
A A
Home Vibes
Share on FacebookShare on Twitter

Tabooo.id: Vibes – Di tengah hiruk pikuk Kota Solo tempat becak, batik, dan warung kopi berbaur dengan notifikasi ponsel berdiri sebuah bangunan yang memilih tenang. Gereja Santo Antonius Purbayan hadir seperti jeda di antara scroll media sosial yang tak berujung. Dindingnya tak berteriak minta difoto. Menaranya pun tak mengejar viral. Justru karena diam itulah, ia menyimpan banyak cerita.

Bagi generasi hari ini, gereja mungkin sekadar titik di Google Maps atau latar foto prewedding. Namun Purbayan lebih dari bangunan ibadah. Ia menjadi arsip hidup. Di ruang ini, doa, kolonialisme, perjumpaan budaya, dan nasionalisme pernah saling bersinggungan.

Gereja Pertama, Jejak Awal Katolik di Solo

Gereja Santo Antonius Purbayan tercatat sebagai gereja Katolik pertama di Kota Solo. Ia berdiri pada November 1916 di Jalan Arifin No. 1, Surakarta. Sejak awal, gereja ini berfungsi sebagai tempat ibadah umat Katolik. Hingga kini, peran itu tetap bertahan.

Namun sejarah Purbayan bergerak jauh melampaui bangku misa dan dentang lonceng. Jejak Katolik di Surakarta sudah muncul sejak awal abad ke-19. Sekitar tahun 1827, pemerintah kolonial Belanda mengutus Lambertus Prisen, seorang imam Katolik, untuk melayani umat di Jawa Tengah.

Diplomasi Budaya dan Jalan Pelan Misi

Pastor Prisen tidak datang sendirian. Tiga imam sekuler mendampinginya, termasuk Pastor Yakobus Sholten. Mereka memilih jalan yang tak konfrontatif. Alih-alih berkhotbah di ruang terbuka, mereka membangun relasi. Mereka menginap di Kasunanan Surakarta, membaca situasi, dan memahami karakter masyarakat Jawa yang menghormati pemimpinnya.

Ini Belum Selesai

Raden Ronggo Prawirodirjo III: Api Perlawanan dari Madiun

Kirab Pusaka PSHW-TM: Langkah Sunyi yang Menyatukan Persaudaraan

Pendekatan dari atas ke bawah pun berjalan. Strategi ini menunjukkan hasil. Sebanyak 59 orang tertarik menjadi umat Katolik. Meski begitu, Surakarta belum berstatus stasi tetap. Baru pada 1896, ketika Ambarawa menjadi paroki, Surakarta ikut berada di bawah naungannya.

Langkah besar muncul pada 1905. Romo Cornelis Stiphout, SJ, mengusulkan pendirian Pastoran Surakarta. Prosesnya tidak instan. Dana tidak datang tiba-tiba. Romo Stiphout menggalang biaya lewat cara kreatif: undian berhadiah.

Umat dan simpatisan membeli tiket. Dana terkumpul sedikit demi sedikit, seperti doa yang dirapal berulang. Usaha itu berbuah hasil. Pada 22 Desember 1907, misa suci pertama berlangsung di pastoran. Romo Stiphout juga mengirim surat ke Belanda untuk meminta bantuan. Dukungan pun mengalir.

Akhirnya, pada November 1916, Gereja Santo Antonius Purbayan resmi berdiri. Romo Stiphout menjadi pastor pertama Paroki Purbayan.

Baptisan Sunyi Seorang Pahlawan

Purbayan tidak hanya menyimpan kisah iman. Gereja ini juga mencatat sejarah bangsa. Pada 1949, Brigadir Jenderal Slamet Riyadi menerima baptisan di tempat ini. Nama baptisnya: Ignatius. Sebuah peristiwa sederhana, namun beresonansi besar dalam perjalanan Indonesia.

Makna di Tengah Zaman Digital

Hari ini, kisah Purbayan terasa relevan. Di tengah perdebatan identitas, agama, dan politik, gereja ini menunjukkan bahwa Indonesia lahir dari perjumpaan panjang. Sejarah bangsa tidak bergerak lurus. Ia tumbuh dari kolonialisme, berdialog dengan budaya lokal, lalu berkontribusi pada perjuangan kemerdekaan.

Di era digital, ketika makna sering diringkas jadi caption, Purbayan menawarkan pelajaran berbeda. Makna butuh waktu. Gereja ini berdiri lebih dari seabad. Ia melewati rezim, perang, dan perubahan sosial. Fungsinya tetap sama, tetapi tafsirnya terus bergerak.

Refleksi Tabooo: Kota dan Ingatan

Mungkin di sinilah pentingnya bangunan tua di kota-kota kita. Mereka bukan sekadar peninggalan. Mereka pengingat. Iman bisa berjalan berdampingan dengan nasionalisme. Sejarah tidak selalu lahir di medan perang. Kadang ia tumbuh dari baptisan, undian berhadiah, dan kesabaran membangun komunitas.

Di tengah Solo yang terus berlari mengejar masa depan, Gereja Santo Antonius Purbayan memilih melangkah pelan. Ia mengingatkan kita bahwa kota bukan hanya soal gedung tinggi dan Wi-Fi cepat. Kota juga tentang ingatan tentang ruang yang menyimpan doa-doa lama.

Dan mungkin, di sanalah keindahannya: sebuah gereja tua yang tetap diam, sementara zaman terus bergerak. (red)

Referensi:

Yunani, Ahmad. (2016). Gereja Santo Antonius Purbayan: Sejarah Awal Gereja Katolik Belanda di Solo. Jurnal Lektur Keagamaan, Vol. 14, No.1, 2016.

Tanjung, Anita Chairul. (2013). Pesona Solo. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.

Tags: PertamaSejarahSoloSurakarta

Kamu Melewatkan Ini

Ki Ngabehi Soerodiwirjo dan Rahasia di Balik Lahirnya Setia Hati

Ki Ngabehi Soerodiwirjo dan Rahasia di Balik Lahirnya Setia Hati

by dimas
Juni 21, 2026

Ki Ngabehi Soerodiwirjo menempuh perjalanan panjang melintasi Nusantara untuk mencari jati diri. Dari pencarian itulah lahir Persaudaraan Setia Hati, warisan...

Bersih Desa: Tradisi Jawa yang Lahir dari Wabah, Kehilangan, dan Harapan

Bersih Desa: Tradisi Jawa yang Lahir dari Wabah, Kehilangan, dan Harapan

by dimas
Juni 14, 2026

Tradisi Bersih Desa ternyata berakar dari legenda wabah Kerajaan Gilingaya, kisah kehilangan seorang ibu, dan harapan yang menyatukan masyarakat Jawa....

Malam 1 Suro dan Jejak Sultan Agung Menyatukan Peradaban Jawa

Malam 1 Suro dan Jejak Sultan Agung Menyatukan Peradaban Jawa

by dimas
Juni 13, 2026

Malam 1 Suro bukan sekadar kisah mistis. Di baliknya tersimpan sejarah Sultan Agung menyatukan Jawa melalui budaya, tradisi, dan kalender...

Next Post
Hoaks! Video Panglima TNI soal Kemerdekaan Papua Barat

Hoaks! Video Panglima TNI soal Kemerdekaan Papua Barat

Madilog Series

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026
Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Juni 7, 2026
Logika: Senjata Pembebasan yang Jarang Dipakai – Madilog Series #3.1

Logika: Senjata Pembebasan yang Jarang Dipakai – Madilog Series #3.1

Juni 2, 2026

Marx Series

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Juni 20, 2026

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026

Uang Menjadi Kapital: Ketika Uang Berubah Jadi Mesin Penghisap – Marx Series #1.3

Mei 29, 2026

Fetisisme Komoditas: Saat Barang Terlihat Lebih Penting daripada Manusia – Marx Series #1.2

Mei 25, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id