• Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy
  • Sitemap
Minggu, Maret 22, 2026
  • Login
No Result
View All Result
tabooo.id
  • Tabooo
  • News
  • Check
  • Deep
  • Edge
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Tabooo
  • News
  • Check
  • Deep
  • Edge
  • Life
  • Talk
  • Vibes
No Result
View All Result
tabooo.id
No Result
View All Result
Home News Nasional

Natal di Katedral Jakarta: Kardinal Suharyo Ingatkan Bahaya Korupsi

Desember 25, 2025
in Nasional, News
A A
Natal di Katedral Jakarta: Kardinal Suharyo Ingatkan Bahaya Korupsi

Kardinal Ignatius Suharyo menyampaikan khotbah Misa Pontifikal Natal 2025 di Gereja Katedral Jakarta, Kamis (25/12/2025). (Foto: Tangkapan Layar/Youtube Gereja Katedral Jakarta)

Share on FacebookShare on Twitter

Tabooo.id: Nasional – Wakil suara Gereja Katolik Indonesia menggema dari altar Gereja Katedral Jakarta pada Hari Natal 2025. Dalam khotbah Misa Pontifikal, Kamis (25/12/2025), Uskup Keuskupan Agung Jakarta Ignatius Kardinal Suharyo menyampaikan pesan tegas mendiang Paus Fransiskus tentang bahaya ketidakadilan, pemujaan uang, dan korupsi yang terus merusak martabat manusia.

Di hadapan jemaat yang memadati katedral, Kardinal Suharyo menegaskan bahwa Paus Fransiskus sejak lama mengkritik praktik-praktik yang menggerogoti masa depan bersama. Ia mengingatkan bahwa tindakan tidak adil, pemujaan uang, dan korupsi bukan sekadar pelanggaran hukum. Praktik-praktik itu meninggalkan luka moral yang dalam bagi kemanusiaan.

Korupsi dan Hancurnya Harapan Kaum Lemah

Kardinal Suharyo mengutip Paus Fransiskus yang menyebut korupsi sebagai “skandal publik yang berat”. Menurutnya, korupsi merampas kemampuan manusia untuk memandang masa depan dengan harapan.

RelatedPosts

Jubir IRGC Tewas Diserang AS-Israel, Konflik Iran Kian Memanas

Lebaran 2026: Prabowo Undang Ribuan Warga ke Istana Kepresidenan

Ia menjelaskan bahwa keserakahan yang lahir dari korupsi menghancurkan harapan kaum lemah. Praktik itu juga menindas mereka yang paling miskin di antara kaum miskin. Dalam situasi seperti ini, kelompok tanpa kuasa menanggung luka paling dalam, sementara para pemegang kekuasaan kerap memilih bersikap acuh tak acuh.

“Di dunia saat ini, terlalu banyak orang menanggung luka karena mereka tidak memiliki suara,” jelas Kardinal Suharyo. Ia menilai ketidakpedulian sosial terus memperlebar ketimpangan yang sudah ada.

Ilusi Kebahagiaan Berbasis Uang

Kardinal Suharyo kemudian mengingatkan jemaat agar tidak terjebak pada anggapan bahwa uang menjadi sumber utama kebaikan dan kebahagiaan. Ia mengutip Paus Fransiskus yang menyebut pola pikir tersebut sebagai sesuatu yang mengerikan dan merendahkan martabat manusia.

Menurut Paus Fransiskus, kebahagiaan yang bergantung pada uang akan menyingkirkan nilai kemanusiaan. Ketika uang menjadi ukuran segalanya, kebaikan dan martabat manusia kehilangan ruang.

Kardinal Suharyo juga menegaskan pandangan Paus Fransiskus tentang kekayaan yang diperoleh secara tidak bermoral. Kekayaan semacam itu, kata Paus, tidak akan melahirkan kekuasaan yang langgeng. Penumpukan harta yang “berlumuran darah” tidak akan membuat siapa pun berkuasa selamanya atau terhindar dari kematian.

Natal, Pengharapan, dan Tantangan Sosial

Di penghujung khotbah, Kardinal Suharyo mengajak umat menjadikan Natal 2025 sebagai momentum untuk memperbanyak perbuatan baik. Ia menekankan bahwa semakin banyak ragam kebaikan, semakin kuat pula tanda-tanda pengharapan di tengah masyarakat.

Pesan ini menyentuh realitas sosial yang dihadapi banyak orang. Tekanan ekonomi, ketimpangan sosial, dan praktik korupsi masih membayangi ruang publik. Masyarakat kecil menjadi kelompok yang paling terdampak, karena suara mereka kerap kalah oleh kepentingan uang dan kekuasaan.

Kardinal Suharyo menutup khotbah dengan ucapan selamat Natal dan harapan agar tahun 2026 membawa pengharapan serta berkat bagi semua.

Natal kembali hadir dengan pesan damai. Namun di balik nyala lilin dan lantunan pujian, peringatan itu terasa tegas selama uang terus dipuja dan korupsi dibiarkan, harapan berisiko tinggal menjadi hiasan tahunan indah terdengar, tetapi rapuh dalam kenyataan. @dimas

Tags: GerejaImanKardinal SuharyoKatedral JakartakorupsiManusiaMartabatNatalNatal 2025Pesan
Next Post
Royalti Musik dan Seni Menghilang Tanpa Pamit

Royalti Musik dan Seni Menghilang Tanpa Pamit

Recommended

Check Fakta: Supermoon Bikin Gempa?

Check Fakta: Supermoon Bikin Gempa?

6 bulan ago
Surabaya Siaga Bantu Korban Banjir dan Longsor Sumatera

Surabaya Siaga Bantu Korban Banjir dan Longsor Sumatera

4 bulan ago

Popular News

  • Legian: Ketika Malam Tidak Pernah Tidur

    Legian: Ketika Malam Tidak Pernah Tidur

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Legian: Jalan yang Tidak Pernah Benar-Benar Tidur

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Sedap Malam: Ketika Ogoh-Ogoh Tidak Lagi Sekadar Dibakar, Tapi Mengingatkan Luka yang Belum Selesai

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kiamat Tidak Menunggu Zona Waktu

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pantai yang Kita Banggakan, atau yang Kita Abaikan?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy
  • Sitemap
PT Tabooo Network Indonesia

© 2025 Tabooo.id - Bicara Tabu, Itu Tabooo! @TaboooNetwork.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • News
  • Entertainment
  • Lifestyle
  • Life
  • Check
  • Deep
  • Edge
  • Talk
  • Vibes

© 2025 Tabooo.id - Bicara Tabu, Itu Tabooo! @TaboooNetwork.