Tabooo.id – Life: Di sebuah rumah besar di Batavia, lampu minyak bergoyang pelan, memantulkan cahaya ke dinding-dinding kayu jati yang berbau laut dan rempah.
Di bawah cahaya itu, seorang perempuan pribumi menuang teh hangat untuk tuannya, seorang lelaki Belanda dengan mata sebiru laut utara dan hati yang tertambat pada tanah yang bukan miliknya.
Ia memanggilnya lembut, “Tuan.”
Tapi lelaki itu tak pernah memanggil namanya.
Bagi dunia, ia hanya Nyai, sebutan tanpa kasih, tanpa kehormatan. Ia mencintai dalam diam, dicintai dalam kuasa. Dan setiap malam, ketika pintu kamar tertutup, sejarah menulis dirinya dengan tinta orang lain.
Namun tanpa Nyai, rumah kolonial itu takkan hidup. Dan tanpa Nyai, sejarah Hindia Belanda takkan punya denyut manusiawi.
Tubuh yang Menjadi Rumah bagi Dua Dunia
Nyai bukan sekadar kisah erotik kolonial; ia adalah sistem sosial yang dibangun atas dasar kebutuhan dan ketimpangan.
Ketika para pegawai VOC tiba di Nusantara sekitar 1600, mereka datang tanpa perempuan, tanpa bahasa, tanpa arah. Di tengah kekosongan itu, para perempuan pribumi diambil. Sebagian karena cinta, sebagian karena terpaksa, untuk mengurus rumah tangga orang kolonial, tidur dengannya, bahkan melahirkan anak-anaknya.
Menurut penelitian FX. Domini BB Hera dan Daya Negri Wijaya dalam kajian berjudul “Terasing dalam Budaya Barat dan Timur: Potret ‘Nyai’ Hindia Belanda, Abad XVII–XX” (2014), Nyai tidak hanya menjadi objek nafsu seksual semata, tetapi juga memiliki peran sosial dan kultural. Mereka membantu menyatukan dua dunia yang saling curiga, Barat dan Timur, meskipun hidup dalam penghinaan dan kerja berat.
Dengan kata lain, Nyai bukan hanya perempuan yang “diambil,” tapi juga pondasi peradaban kolonial. Mereka yang mengajarkan bahasa lokal, menjaga rumah, menata kehidupan domestik, dan menumbuhkan generasi Indo-Eropa yang kelak jadi penghubung dua ras.
Dari Reggie Baay: Ketika Dosa Menjadi Sistem
Penulis sejarah kolonial asal Belanda, Reggie Baay, dalam bukunya “Nyai dan Pergundikan di Hindia Belanda”, menulis bahwa keputusan seorang lelaki kolonial untuk “mengambil” Nyai bukanlah penyimpangan, tapi kebiasaan yang dianggap wajar.
“Ketika para pegawai VOC tiba di Nusantara sekitar 1600, dimulailah kemunculan para nyai… hal itu bukanlah hal baru pada abad ke-17. Namun kedatangan VOC membuatnya berangsur-angsur menjadi ciri dan sifat sebuah sistem yang cukup kekal dalam kehidupan masyarakat Eropa di Hindia Belanda.” (“Nyai dan Pergundikan di Hindia Belanda” – Reggie Bay)
Dengan kata lain, kolonialisme tak hanya menaklukkan tanah, tapi juga tubuh. Dan tubuh Nyai menjadi teritori paling senyap dari sejarah yang disetubuhi kekuasaan.
Di tengah sistem yang diciptakan lelaki dan moralitas yang dikendalikan agama, Nyai harus memainkan peran ganda: pelayan dan ibu, pelipur dan mediator budaya, cinta dan aib dalam satu tubuh yang sama.

Cinta yang Tak Pernah Sah
Beberapa Nyai jatuh cinta — cinta yang tumbuh dari rutinitas sederhana: menyiapkan air hangat, menulis surat, menatap laut dari jendela bambu. Namun cinta itu tak pernah diundang ke pesta dansa kolonial.
Bagi pria Eropa, Nyai adalah kenyamanan tropis, bukan pasangan sejati. Bagi masyarakat pribumi, ia adalah pengkhianat darah sendiri.Ia hidup di antara dua dunia yang saling menolak: terlalu halus untuk disebut pribumi, terlalu gelap untuk disebut Eropa.
Ketika kapal dari Amsterdam datang membawa perempuan totok berkulit pucat, Nyai tahu: cinta sudah tamat. Tuan pergi, anaknya dibawa, dan ia tertinggal bersama bayang-bayang rumah yang pernah menjadi hidupnya.
Antara Dosa dan Jasa
Ironi terbesar sejarah kolonial adalah ini: yang dihina justru yang menjaga keseimbangan. Nyai dianggap aib, tapi sistem bergantung padanya.
Militer kolonial bahkan pernah menulis bahwa “pergundikan menjaga moral tentara dari dosa yang lebih besar.” Dan dosa yang dimaksud bukan eksploitasi perempuan, tapi homoseksualitas, sebuah justifikasi moral yang mengubah Nyai menjadi obat moral kolonial.
Mereka dianggap penyelamat, tapi tak pernah diselamatkan. Ketika sistem pergundikan akhirnya dihapus pada 1928, alasannya bukan kemanusiaan, melainkan gengsi moral Eropa.
Dan ketika sistem itu hilang, Nyai pun hilang dari perlindungan hukum, ekonomi, bahkan eksistensi sosialnya.
Romantika yang Tak Pernah Ditulis
Namun di balik semua itu, romantika Nyai adalah paradoks yang lembut sekaligus menyakitkan. Mereka mencintai di ruang yang tak diizinkan untuk mencinta. Mereka mendidik anak-anak Indo yang kelak menjadi pejabat dan pengarang, tapi tak diakui sebagai ibu. Mereka mengajarkan bahasa dan etika lokal ke dalam rumah kolonial, tapi namanya tak pernah tercatat di arsip resmi.
Romantika mereka bukan kisah asmara, tapi kisah tentang keberanian bertahan hidup di tengah dunia yang hanya memberi dua pilihan: tunduk atau hilang.
Mengembalikan Nyai ke Panggung Sejarah
Bagi Tabooo, kisah Nyai bukanlah nostalgia erotik masa lalu, tapi potret sistem patriarki yang masih hidup dalam bentuk berbeda hari ini.
Nyai adalah perempuan yang menolak diam.
Ia adalah simbol dari generasi perempuan yang memeluk dua dunia, dan membayar harga yang terlalu mahal untuk cinta dan kelangsungan hidup.
Kita hidup di masa ketika perempuan masih diukur lewat moral, bukan peran. Dan Nyai mengingatkan, “Moralitas bisa berganti, tapi luka karena penghapusan selalu diwariskan”.
Nama yang Harus Diucapkan Ulang
Jika sejarah ditulis oleh yang berkuasa, maka kisah Nyai adalah bab yang disobek dengan sengaja. Namun di antara reruntuhan rumah kolonial dan bahasa yang masih kita pakai, mereka sebenarnya belum pernah benar-benar hilang.
Mungkin mereka tak punya tugu, tapi mereka ada di setiap napas budaya yang kita hirup: Dalam cara kita menyeduh teh, dalam kata-kata campuran Belanda–Melayu, dalam cara cinta dan kekuasaan masih saling berkelindan di negeri ini.
Mereka disetubuhi oleh sejarah, dihapus oleh moral, tapi tetap hidup di darah Nusantara. Malam ini, mungkin satu-satunya penghormatan yang bisa kita berikan adalah dengan menyebut mereka dengan lembut, bukan sebagai dosa, tapi sebagai ibu dari peradaban. @tabooo




