Tabooo.id – Life: Di sebuah rumah kayu di Banyumas tempo dulu, seorang perempuan duduk di depan pawon yang tak pernah ia nyalakan. Api di tungku bukan miliknya, karena dapur, bagi perempuan sepertinya, adalah batas moral. Ia bukan istri, bukan kekasih. Ia adalah Gowok: guru kehidupan bagi laki-laki muda yang akan menikah.
Di kamar sebelah, sang murid menunggu dengan gugup. Bukan untuk bercinta, tapi belajar. Belajar tentang tubuh, tanggung jawab, dan rasa malu yang harus dijinakkan sebelum malam pengantin tiba.
Dalam masyarakat yang menjunjung kesopanan Jawa, pemandangan itu dulu bukan skandal. Itu bagian dari pendidikan. Ironisnya, hari ini, bahkan menyebutnya saja bisa membuat ruang obrolan mendadak senyap.
Ketika Seksualitas Masih Dikenal Sebagai Ilmu
Banyumas pernah punya sistem pendidikan unik, bukan akademi, bukan pesantren, tapi pergowokan: sekolah seksualitas dan rumah tangga yang diatur oleh adat.
Gowok bukan pelacur, tapi profesional. Ia perempuan matang, sering kali mantan ronggeng, mereka yang terbiasa menari di antara batas: sakral dan sensual, dihormati sekaligus dicibir.
Tugasnya bukan sekadar “mengajari laki-laki bercinta,” tapi menanamkan pemahaman tentang keharmonisan. Dalam catatan etnografi, pendidikan ini berlangsung dengan restu kedua keluarga, lengkap dengan mahar dan bebungah, tanda bahwa hubungan ini sah secara sosial dan sakral secara simbolik.
Di masa ketika pembicaraan tentang tubuh dianggap aib, masyarakat Banyumas memilih jalan yang berani—mengakui bahwa keintiman bukan dosa, tapi keterampilan hidup yang perlu dipelajari.
Antara Ritual dan Skandal
Namun ketika pandangan kolonial dan moralitas modern datang, Gowok tiba-tiba berubah status, dari guru menjadi “perempuan cabul.” Pemerintah Hindia Belanda menuduhnya sebagai bentuk prostitusi terstruktur. Ironisnya, justru para bangsawan Jawa-lah yang paling rajin memanggil Gowok sebelum pernikahan anak lelaki mereka.
Di sinilah paradoks itu hidup:
Dalam moral publik, Gowok adalah dosa.
Dalam moral domestik, ia penyelamat keluarga.
Peneliti Dyah Siti Septiningsih menyebutnya sistem moral ganda: antara fungsi dan kesucian. Masyarakat Banyumas tahu bahwa rumah tangga yang bahagia lebih penting dari ilusi kepatutan. Maka mereka mengizinkan “pelatihan pra-nikah” ini. Bukan untuk memuaskan nafsu, tapi untuk memastikan kesiapan.
Dapur yang Terpisah, Etika yang Tegas
Satu hal yang paling menarik dari tradisi ini: selama pergowokan berlangsung, Gowok dan Gowokan harus punya dapur terpisah. Dalam budaya Jawa, dapur adalah simbol rumah tangga sejati. Artinya, meski mereka hidup seperti pasangan, mereka tidak boleh “serumah.”
Pemisahan itu adalah garis batas etis. Bahwa pelajaran boleh intim, tapi tidak boleh menjadi cinta. Bahwa tubuh boleh disentuh, tapi hati tetap dijaga di tempatnya.
Ada semacam keanggunan dalam kontradiksi itu, yakni cara masyarakat menjaga moral tanpa menutup realitas biologis. Bandingkan dengan zaman sekarang, ketika kita pura-pura suci di depan umum tapi belajar seks diam-diam dari internet yang lebih kejam daripada guru mana pun.
Dari Sastra ke Stigma
Gowok pernah hidup abadi lewat sastra. Liem Khing Hoo menulis Gowok (1936) di masa kolonial. Ahmad Tohari lewat Ronggeng Dukuh Paruk (1982) memberi wajah manusiawi pada sosok Srintil, perempuan yang mencintai, tapi juga dikorbankan oleh moral publik.
Budi Sardjono menulis Nyai Gowok (2014) sebagai upaya merehabilitasi ingatan kolektif kita, tapi kalah oleh moral digital yang lebih cepat menghakimi.
Sastra yang awalnya dimaksudkan sebagai arsip budaya berubah menjadi ruang sensasi. Gowok tak lagi dibaca sebagai guru, tapi sebagai erotika. Ia dikurung di antara halaman yang dibisikkan diam-diam, seolah cerita tentang pendidikan tubuh tak layak duduk di ruang tamu peradaban.
Ketika Kita Kehilangan Kejujuran Tubuh
Kini tak ada lagi rumah pergowokan. Tak ada perempuan yang mendapat mahar untuk mengajarkan kesadaran tubuh. Yang tersisa hanya kebingungan generasi. Anak muda yang tumbuh dengan smartphone di tangan, tapi tanpa ruang aman untuk bicara tentang seksualitas, relasi, atau tanggung jawab.
Kita mungkin merasa lebih modern, tapi sebenarnya lebih takut dari leluhur kita.
Dulu, mereka mengatur seksualitas lewat ritual. Sekarang, kita menyerahkannya pada algoritma.
Dulu, mereka punya guru. Sekarang, kita punya mesin pencari.
Dan entah sejak kapan, kita lebih percaya sensor daripada kearifan.
Mengembalikan Hak untuk Penasaran
Bagi Tabooo, tradisi Gowok bukan tentang nostalgia erotik. Ia tentang keberanian mengakui sisi manusiawi, bahwa seks bukan sekadar aktivitas, tapi bahasa cinta, tanggung jawab, dan pengetahuan yang terlalu lama disensor.
Mungkin yang perlu kita pelajari bukan praktiknya, tapi kejujurannya. Bahwa masyarakat Banyumas pernah sedewasa itu: membicarakan tubuh tanpa rasa malu, membedakan antara pendidikan dan eksploitasi, dan memahami bahwa moral sejati bukan tentang menutup mata, tapi tahu kapan harus membuka hati.
Ilmu yang Kini Kita Takuti
Di negeri yang konon modern ini, kita kehilangan ruang belajar yang paling purba: Memahami diri sendiri. Sementara nenek moyang kita sudah lebih dulu tahu—bahwa ilmu tidak selalu diajarkan di sekolah, dan pelajaran paling suci kadang lahir dari hal yang dianggap cabul.
Mungkin pertanyaan akhirnya bukan “Apakah Gowok itu dosa,”
tapi: kenapa kita begitu takut pada ilmu yang membuat kita lebih manusia? @tabooo
(Tabooo.id – Karena bicara tabu bukan soal menggoda, tapi soal menyembuhkan diam.)





