Tabooo.id: Life – Pagi itu, udara Sejong terasa dingin dan bersih. Di antara bangunan modern dan pepohonan musim dingin yang meranggas, seorang perempuan asal Surabaya melangkah masuk ke ruang konferensi dengan tas kerja sederhana di pundaknya. Tidak ada sorotan kamera, tidak ada karpet merah. Namun, di balik langkah tenangnya, ia membawa sesuatu yang jauh lebih besar: cerita ruang kelas Indonesia.
Namanya Uswatun Khasanah, guru Bahasa Inggris SMPN 22 Surabaya. Hari itu, ia duduk sejajar dengan para pendidik dari Amerika Serikat, Prancis, Turkiye, Jepang, hingga Korea Selatan dalam 4th International Conference on Education 2025. Ia tidak datang sebagai turis akademik. Ia hadir sebagai suara dari ruang kelas yang sering luput dari peta global.
Undangan yang Datang dari Konsistensi, Bukan Kebetulan
Keikutsertaan Uswatun dalam konferensi internasional ini bukan hasil keberuntungan sesaat. Ia lahir dari perjalanan panjang yang sunyi, penuh dedikasi, dan sering kali berjalan jauh dari sorotan publik.
Selama beberapa tahun terakhir, Uswatun membangun jejaring pendidikan lintas negara dengan Korea Selatan. Ia tidak sekadar mengirim email atau menghadiri forum daring. Ia mendampingi siswa, merancang proyek kolaboratif, dan menempatkan isu global ke dalam konteks lokal ruang kelas Surabaya.
Upaya itu akhirnya berbuah pengakuan. Dari puluhan pendidik dunia yang hadir, Indonesia hanya mengirim dua nama. Salah satunya adalah Uswatun.
Kepala Dinas Pendidikan Kota Surabaya, Yusuf Masruh, menyebut undangan ini sebagai bentuk kepercayaan internasional terhadap kualitas guru Indonesia. Sekitar 20 pendidik dari berbagai negara berkumpul dalam forum yang mengusung tema besar “Global Education and Solidarity for the Next Generation”.
Tema yang terdengar megah. Namun bagi Uswatun, maknanya sangat sederhana bagaimana pendidikan tetap manusiawi di dunia yang kian tidak pasti.
Menyusuri Sekolah, Menyusuri Cara Pandang
Konferensi ini tidak berhenti di ruang diskusi. Para peserta mengunjungi Boram Elementary School, Geulbeot Middle School, hingga Haemil Elementary School. Mereka masuk ke kelas, mengamati interaksi guru dan murid, serta berdialog tentang kurikulum yang terus beradaptasi dengan perubahan global.
Bagi Uswatun, pengalaman ini bukan tentang membandingkan siapa lebih maju. Ia justru melihat persamaan yang jarang disadari kecemasan guru menghadapi masa depan murid-muridnya.
Di Sejong, seperti di Surabaya, para guru bertanya hal yang sama: bagaimana menyiapkan generasi yang hidup di dunia krisis iklim, disrupsi teknologi, dan polarisasi sosial?
Jawabannya tidak tunggal. Namun dialog lintas negara membuat satu hal terasa jelas pendidikan tidak bisa berjalan sendiri.
Guru, Globalisasi, dan Jalan Sunyi Kolaborasi
Sejak 2022, Uswatun aktif mendampingi siswa dalam berbagai program internasional. Ia terlibat dalam Korea-ASEAN Youth Ambassadors Virtual Leadership Program, pertukaran daring Indonesia-Korea, hingga mengajar langsung selama tiga bulan di Geulbeot Middle School melalui Indonesian-Korean Teacher Exchange 2023.
Ia juga berperan dalam konferensi siswa Indonesia-Korea yang mengangkat isu perubahan iklim berbasis Sustainable Development Goals. Baginya, isu global tidak harus menunggu siswa kuliah di luar negeri. Isu itu bisa dibicarakan sejak SMP, selama guru berani membuka jendela dunia.
Namun, perjalanan ini bukan tanpa paradoks. Di satu sisi, dunia internasional membuka pintu lebar. Di sisi lain, tantangan pendidikan di dalam negeri masih begitu mendasar: kesenjangan fasilitas, beban administrasi guru, hingga persepsi bahwa kolaborasi global adalah kemewahan.
Uswatun memilih berjalan di tengah paradoks itu. Ia percaya perubahan tidak selalu datang dari sistem besar, tetapi dari guru yang konsisten memperluas horizon muridnya.
Dukungan Negara dan Harapan yang Menyertainya
Uswatun menegaskan bahwa seluruh keterlibatannya berjalan resmi dengan dukungan Pemerintah Kota Surabaya. Ia mengajar di Sejong dengan izin dan kerja sama formal, yang bahkan ditandatangani langsung oleh wali kota.
Dukungan ini penting. Ia menunjukkan bahwa negara bisa hadir bukan hanya lewat kebijakan, tetapi juga kepercayaan pada guru.
Bagi Dispendik Surabaya, partisipasi Uswatun menjadi bukti bahwa guru daerah mampu bersaing di tingkat global. Lebih dari itu, kehadirannya membawa pulang praktik pendidikan yang relevan dengan tantangan masa depan.
Refleksi Tabooo: Pendidikan, Global tapi Tetap Membumi
Kisah Uswatun Khasanah bukan cerita tentang satu guru yang pergi jauh. Ini cerita tentang ruang kelas Surabaya yang diam-diam berbicara ke dunia.
Di saat pendidikan sering terjebak angka dan peringkat, Uswatun menunjukkan sisi lain pendidikan sebagai jembatan empati lintas bangsa. Ia tidak membawa slogan besar. Ia membawa pengalaman nyata, dialog, dan keberanian membuka ruang kolaborasi.
Pertanyaannya kini bukan lagi apakah guru Indonesia mampu bersaing di panggung global. Jawabannya sudah jelas: mampu.
Pertanyaan sesungguhnya adalah, apakah sistem pendidikan kita siap memberi lebih banyak ruang bagi guru-guru seperti Uswatun guru yang percaya bahwa mendidik bukan hanya soal kurikulum, tetapi tentang membangun solidaritas manusia di dunia yang terus berubah.
Karena mungkin, masa depan pendidikan tidak lahir dari gedung megah atau konferensi elite, melainkan dari guru yang berani bermimpi melampaui batas ruang kelasnya. @dimas




