Minggu, Juni 28, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Tambora 1815: Letusan yang Menghapus Dua Kerajaan dari Peta

by dimas
Desember 17, 2025
in Vibes
A A
Home Vibes
Share on FacebookShare on Twitter

Tabooo.id: Vibes – Subuh itu tak pernah benar-benar datang.
Langit di atas Semenanjung Sanggar masih gelap ketika bumi tiba-tiba bergetar lalu meledak. Suaranya tidak menyerupai petir, melainkan dentuman meriam perang yang dilepaskan berulang-ulang. Dari perut tanah Bima, batuan dan abu menyembur tanpa jeda. Selama tiga hari dua malam, langit seolah runtuh dan tak memberi ruang bernapas.

April 1815 Gunung Tambora tidak sekadar meletus. Ia menghapus segalanya.

Ketika matahari akhirnya muncul, kehancuran manusia terpampang tanpa ampun. Rumah-rumah roboh. Ladang hancur. Pohon-pohon mati berdiri seperti tiang hitam yang terbakar. Dua kerajaan Tambora dan Pekat hilang dari peta kehidupan, seolah tak pernah menjejak sejarah.

Kiamat Versi Lokal yang Nyaris Terlupa

Naskah kuno Bo’ Sangaji Kai merekam letusan Tambora sebagai kiamat kecil yang datang sebelum doa selesai dipanjatkan. Dalam kisah itu, masyarakat memaknai bencana sebagai hukuman atas tindakan jahat Sultan Tambora, Abdul Gafur. Malapetaka baru mereda setelah orang-orang bersujud dan bersembahyang.

Namun doa tidak serta-merta menyelamatkan segalanya.

Ini Belum Selesai

Raden Ronggo Prawirodirjo III: Api Perlawanan dari Madiun

Kirab Pusaka PSHW-TM: Langkah Sunyi yang Menyatukan Persaudaraan

Kelaparan datang lebih kejam daripada abu. Penyakit menyusul tanpa kompromi. Mayat-mayat tergeletak di jalan tanpa kubur dan tanpa doa. Burung, babi, serta anjing menggerogoti tubuh-tubuh yang dahulu bernama manusia. Kehidupan runtuh bukan dalam satu ledakan, melainkan perlahan dalam sunyi yang panjang dan kejam.

Tanpa kehadiran pedagang dari luar pulau, Tambora barangkali benar-benar berakhir. Orang Arab, Tionghoa, dan Belanda datang membawa beras, gula, susu, jagung, serta kacang kedelai. Namun harga bertahan hidup kala itu mahal piring, kain tenun, emas, perak, bahkan manusia budak ditukar demi menyambung nyawa.

Ketika Ilmu Pengetahuan Mengonfirmasi Luka Sejarah

Berabad kemudian, sains datang membawa konfirmasi yang dingin. Penelitian geologi memastikan letusan Tambora terjadi pada April 1815. Igan Sutawidjaja dari Ikatan Ahli Geologi Indonesia menjelaskan bahwa awan panas pertama menghantam kawasan sekitar pada 10 April dengan suhu mencapai 800 derajat Celsius.

Wilayah barat, selatan, dan utara gunung menerima terjangan terkeras. Tambora, Pekat, dan Sanggar luluh lantak. Sementara itu, ke arah timur, kehancuran sedikit berkurang. Raja Sanggar masih sempat menyelamatkan diri sebelum membangun kehidupan baru di wilayah yang kini dikenal sebagai Sanggar modern.

Alam memilih secara brutal siapa yang bertahan, siapa yang hanya tersisa dalam catatan sejarah.

Sebelum Abu, Ada Peradaban

Yang kerap terlupakan, sebelum menjadi kuburan massal, Tambora merupakan rumah peradaban. Penelitian arkeologi menunjukkan masyarakat di kawasan ini telah membangun sistem sosial dan budaya yang maju. I Made Geria dari Pusat Penelitian Arkeologi Nasional menyebut wilayah Tambora pernah makmur, tertata, dan aktif dalam jaringan perdagangan Nusantara.

Nama Tambora, Pekat, dan Sanggar bahkan tercatat dalam Negarakertagama, naskah era Majapahit. Pengaruh Majapahit dan kemudian Kesultanan Gowa-Tallo membentuk dinamika politik dan ekonomi di wilayah Sumbawa.

Tambora bukan kerajaan kecil yang terisolasi. Ia terhubung dengan dunia.

Jalur Dagang, Jalur Kuasa

Letak geografis Tambora memberi keuntungan strategis. Kedekatannya dengan Teluk Saleh, Labuhan Kenanga, dan jalur pelayaran internasional menjadikannya tempat singgah kapal dari Jawa, Malaka, hingga Maluku. Tome Pires mencatat Bima sebagai bandar penting dan Tambora berada dalam lingkar pengaruhnya.

Perdagangan mengalir deras. Kain tenun, hasil bumi, hingga tenaga manusia menjadi komoditas. Namun, di balik kemakmuran itu, bayang-bayang kuasa ikut menyusup. Makassar menuntut upeti. Belanda mengincar kendali. Politik adu domba pun dimainkan hingga melahirkan Perjanjian Bongaya.

Namun sebelum manusia benar-benar menaklukkan Tambora, alam lebih dulu turun tangan.

Setelah Letusan, Ingatan yang Terpendam

Catatan Residen Tobias menunjukkan bahwa sebelum letusan, sekitar 40.000 jiwa mendiami Tambora. Setelah bencana, lebih dari 30.000 orang tewas. Sisa penduduk yang bertahan akhirnya kembali kehilangan nyawa akibat banjir bandang dan lahar pada 1816. Sebuah kerajaan tidak sekadar runtuh ia lenyap.

Wilayah bekas Kerajaan Tambora kemudian bergabung dengan Dompu. Namanya tetap hidup, tetapi manusianya hilang.

Ironisnya, setelah bencana, para pedagang kembali berdatangan. Abu memang mengubur masa lalu, tetapi juga membuka ladang baru. Pada awal abad ke-20, penduduk kembali menghuni kawasan ini. Artefak Belanda, pabrik kopi, rangka manusia, serta sisa bangunan muncul ke permukaan menjadi bukti bisu bahwa peradaban pernah hidup, lalu menghilang.

Tambora Hari Ini: Antara Sejarah dan Amnesia

Di era digital, publik lebih sering mengenal Tambora sebagai “gunung dengan letusan terbesar di dunia” ketimbang sebagai rumah kerajaan yang musnah. Angka lebih mudah diingat daripada manusia.

Padahal, Tambora bukan sekadar kisah geologi. Ia merupakan cerita tentang bagaimana alam dapat menghapus kekuasaan, perdagangan, dan kebudayaan dalam hitungan hari. Lebih dari itu, ia mengingatkan bahwa kemajuan betapapun mapannya selalu rapuh di hadapan bumi.

Mungkin itulah pelajaran paling relevan hari ini.

Ketika dunia modern merasa terlalu percaya diri pada teknologi, Tambora berbisik dari masa lalu peradaban bisa runtuh tanpa aba-aba. Dan ketika manusia lalai merawat ingatan, sejarah pun ikut terkubur seperti kerajaan di bawah abu.

Tambora tidak hanya meletus.
Ia mengajarkan manusia untuk kembali rendah hati. @dimas

Tags: Sejarah IndonesiaSejarah Nusantara

Kamu Melewatkan Ini

Tan Malaka: Seorang Komunis yang Menentang Komunisme?

Tan Malaka: Seorang Komunis yang Menentang Komunisme?

by dimas
Juni 13, 2026

Tan Malaka kerap dicap komunis dan antiagama. Namun benarkah demikian? Menelusuri gagasan, Islam, sosialisme, dan stigma yang melekat pada dirinya....

G30S, PKI dan Ingatan yang Dibentuk Kekuasaan

G30S, PKI dan Ingatan yang Dibentuk Kekuasaan

by dimas
Juni 13, 2026

G30S dan PKI bukan hanya soal tragedi 1965. Ini adalah kisah tentang bagaimana kekuasaan membentuk sejarah, mengelola ketakutan, dan mengarahkan...

Tjidurian 19: Ketika Rumah Budaya Hilang dari Peta Jakarta

Tjidurian 19: Ketika Rumah Budaya Hilang dari Peta Jakarta

by Anisa
Juni 11, 2026

Tjidurian 19 pernah menjadi rumah bagi mimpi, perdebatan, dan semangat kebudayaan yang tumbuh di Indonesia pada awal 1960-an. Kini bangunannya...

Next Post
Menatap Balik Sejarah: Monumen Kresek dan Bayang-Bayang PKI 1948

Menatap Balik Sejarah: Monumen Kresek dan Bayang-Bayang PKI 1948

Madilog Series

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026
Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Juni 7, 2026
Logika: Senjata Pembebasan yang Jarang Dipakai – Madilog Series #3.1

Logika: Senjata Pembebasan yang Jarang Dipakai – Madilog Series #3.1

Juni 2, 2026

Marx Series

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Juni 20, 2026

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026

Uang Menjadi Kapital: Ketika Uang Berubah Jadi Mesin Penghisap – Marx Series #1.3

Mei 29, 2026

Fetisisme Komoditas: Saat Barang Terlihat Lebih Penting daripada Manusia – Marx Series #1.2

Mei 25, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id