Selasa, Oktober 20, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Siapa Berhak Menulis Sejarah?

by Anisa
Desember 15, 2025
in Talk
A A
Home Talk
Share on Facebook
Share on Twitter

Tabooo.id: Talk – Mari kita mulai dengan pertanyaan yang sering bikin alis naik sebelah: siapa sebenarnya yang berhak menulis sejarah? Negara? Akademisi? Atau netizen yang rajin bikin utas panjang jam dua pagi? Pertanyaan itu langsung muncul ketika Menteri Kebudayaan Fadli Zon menegaskan bahwa buku Sejarah Indonesia: Dinamika Kebangsaan dalam Arus Global tidak ditulis oleh pemerintah. Publik pun bereaksi cepat. Sebagian orang mengangguk setuju, sebagian lain nyengir sinis, dan sisanya refleks mengetik, “Ah, paling juga pesanan.”

Tenang dulu. Kita ngopi dulu. Soal sejarah memang selalu panas bahkan sebelum kopinya dingin.

Negara Memfasilitasi, Akademisi Menulis

Fadli Zon menjelaskan bahwa 123 sejarawan dari 34 perguruan tinggi menulis buku ini. Pemerintah, menurut dia, hanya memfasilitasi prosesnya melalui Direktorat Sejarah yang kembali dihidupkan. Dengan kata lain, negara menyediakan ruang, dukungan, dan anggaran; para akademisi tetap menulis, berdebat, dan menyusun narasi.

Secara konsep, pendekatan ini terdengar ideal. Sejarah lahir dari tangan ahlinya, bukan dari meja pejabat. Namun di Indonesia, frasa “difasilitasi negara” kerap memicu kecurigaan. Banyak orang otomatis mengernyitkan dahi. Reaksi itu wajar. Bahkan sangat wajar.

Ini Belum Selesai

Langit Oranye, Napas Terancam: Kabut Asap Uji Tanggung Jawab Negara

Mengapa Publik Makin Skeptis terhadap Janji Pejabat?

Kenapa Publik Selalu Curiga?

Pengalaman sosial kita mengajarkan satu hal penting: ketika negara ikut masuk, publik segera mencium potensi narasi yang dirapikan. Kecurigaan itu tidak lahir tanpa sebab. Kita pernah hidup dengan buku pelajaran satu versi, satu suara, dan satu tafsir. Polemik istilah “G30S/PKI” menjadi contoh paling nyata betapa sejarah bisa berjalan satu arah.

Karena itu, saat Fadli berkata, “Ini bukan buku pemerintah,” sebagian publik langsung menimpali, “Baik, tapi siapa yang pegang setir?” Nada pertanyaan ini terdengar sinis, tetapi ia tumbuh dari memori kolektif yang panjang.

Menulis Sejarah Bukan Kerjaan Ringan

Di sisi lain, kita juga perlu bersikap jujur dan adil. Menulis sejarah nasional jelas bukan pekerjaan ringan. Proses ini bukan seperti membuat thread X atau caption Instagram yang selesai dalam satu malam. Ini proyek besar. Buku ini terbit dalam sepuluh jilid, mencakup perjalanan panjang dari akar peradaban Nusantara hingga era Reformasi 1998–2024.

Fadli bahkan menyebut, jika sejarah Indonesia ditulis secara lengkap, jumlahnya bisa mencapai 100 jilid. Pernyataan ini masuk akal. Sejarah Indonesia panjang, kompleks, dan sarat konflik tafsir. Karena itu, ketika buku ini disebut sebagai highlight, bukan kitab suci sejarah, pernyataan tersebut justru terdengar cukup rendah hati.

Masalah Utamanya: Kepercayaan Publik

Namun persoalan utamanya bukan soal jumlah jilid atau ketebalan buku. Persoalan utamanya tetap kepercayaan publik. Kita hidup di zaman ketika banyak orang lebih percaya potongan video 30 detik daripada buku setebal ribuan halaman. Dalam konteks ini, kekhawatiran publik terasa masuk akal.

  • Apakah penulisan era Prabowo-Gibran akan terasa terlalu manis?
  • Lalu Apa konflik tertentu akan dipelankan volumenya?
  • dan Apakah ada bab yang sengaja ditulis dengan nada “yang penting rukun”?

Di titik inilah perdebatan mulai memanas.

Pro dan Kontra yang Sama-Sama Masuk Akal

Kelompok yang mendukung akan berkata, “Ini ditulis oleh sejarawan. Ada standar akademik. Ada perdebatan internal. Ini jelas bukan monolog.” Argumen ini masuk akal. Keterlibatan banyak penulis dari berbagai kampus justru membantu mencegah lahirnya satu narasi tunggal. Dalam versi ini, sejarah tumbuh dari tawar-menawar intelektual.

Sebaliknya, kelompok skeptis akan menimpali, “Sejarawan juga hidup di dunia nyata. Ada dana, ada institusi, ada konteks politik.” Argumen ini pun tidak keliru. Objektivitas absolut memang mitos. Bahkan sejarawan paling jujur tetap membawa sudut pandang dan keterbatasannya sendiri.

Sikap Tabooo: Jangan Malas Baca, Jangan Takut Kritik

Di titik ini, Tabooo mengambil posisi tegas. Publik yang malas membaca dan enggan mengkritik menghadirkan bahaya terbesar, bukan buku sejarah yang difasilitasi negara. Buku ini seharusnya memicu diskusi, bukan menjadi dogma. Jika kita menemukan kejanggalan, mari kita bedah. Jika kita melihat kekurangan, mari kita lengkapi dengan riset lain, buku lain, dan suara lain.

Lagipula, Fadli sendiri mengakui bahwa buku ini tidak sempurna. Ia juga menegaskan bahwa perbedaan pendapat merupakan hal wajar dalam demokrasi. Bahkan, sebagian orang meminta agar penulisan sejarah dihentikan, dan Fadli menganggap pendapat itu sah. Poin ini penting, karena sejarah yang sehat bukan sejarah yang sunyi, melainkan sejarah yang terus diperdebatkan.

Sejarah dan Cara Kita Membacanya

Mungkin persoalan kita bukan pada siapa yang menulis sejarah, melainkan cara kita membacanya. Apakah kita membaca untuk memahami, atau sekadar mencari amunisi debat? Apakah kita siap menerima bahwa sejarah tidak selalu hitam-putih, dan para pahlawan pun memiliki sisi abu-abu?

Pada akhirnya, buku ini akan beredar. Kita boleh memilih untuk membaca atau mengabaikannya. Kita juga bebas memilih untuk menerima atau mengkritisinya. Namun satu hal tetap jelas: sejarah bukan milik menteri, bukan milik sejarawan, dan bukan milik negara semata. Sejarah adalah milik publik yang berani bertanya.

Sekarang giliran kamu.
Apakah kamu berada di kubu “beri kesempatan dulu, baru kritik”?
Atau di kubu “curiga itu sehat sejak awal”?

Lalu, kamu di kubu mana? (red)

Tags: pemerintahSejarahsejarawan

Kamu Melewatkan Ini

Kaltim Tertekan dari Asap, Air hingga BBM: Ke Mana Pemerintah?

Kaltim Tertekan dari Asap, Air hingga BBM: Ke Mana Pemerintah?

by dimas
September 18, 2026

Kaltim tertekan oleh asap karhutla, ancaman krisis air, dan antrean BBM. Warga menanti kehadiran pemerintah menyelesaikan masalah. Tabooo.id - Pagi...

Anggaran BGN 2027 Turun Rp30 Triliun, MBG Tetap Dominan

Anggaran BGN 2027 Turun Rp30 Triliun, MBG Tetap Dominan

by dimas
September 17, 2026

Anggaran BGN 2027 turun Rp30 triliun menjadi Rp240,2 triliun, tetapi MBG tetap dominan dengan alokasi Rp232,5 triliun. Tabooo.id - Rp240,2...

SD Negeri Tanggirejo Grobogan: Ketika Sekolah Harus Viral Agar Negara Bergerak

SD Negeri Tanggirejo Grobogan: Ketika Sekolah Harus Viral Agar Negara Bergerak

by teguh
Juli 30, 2026

Di SD Negeri Tanggirejo, Grobogan, gotong royong para orang tua menjadi simbol kepedulian sekaligus cermin persoalan yang lebih besar. Ketika...

Next Post
Hoaks: Bahlil Dicopot Gara-Gara Listrik Aceh?

Hoaks: Bahlil Dicopot Gara-Gara Listrik Aceh?

Madilog Series

Logika vs Emosi: Siapa yang Sebenarnya Mengendalikan Kamu? – Madilog Series #3.5

Logika vs Emosi: Siapa yang Sebenarnya Mengendalikan Kamu? – Madilog Series #3.5

Agustus 24, 2026
Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Juli 7, 2026
Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026

Marx Series

Mesin dan Industri Modern: Teknologi Membebaskan atau Membuat Pekerja Makin Mudah Diganti?

Mesin dan Industri Modern: Teknologi Membebaskan atau Membuat Pekerja Makin Mudah Diganti?

Agustus 25, 2026

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Juli 16, 2026

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Juni 20, 2026

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id