Tabooo.id: Global – Ribuan drone menari di langit Bangkok. Mereka membentuk logo SEA Games 2025, ilustrasi atlet, dan total cabang olahraga yang dipertandingkan. Di Stadion Rajamangala, lampu sorot menembus malam, musik bergemuruh, dan penonton bersorak.
Meski beberapa cabang olahraga sudah digulirkan sebelumnya, malam itu SEA Games 2025 resmi dibuka. Ribuan atlet dari 11 negara Asia Tenggara berkumpul, dengan Thailand sebagai tuan rumah.
“Green SEA Games” dan Hiburan Megah
Panitia menyajikan konsep “Green SEA Games”. Mereka menampilkan segmen artistik dengan tokoh nasional dan internasional, atlet masa kini dan masa lalu, serta hiburan musik dari musisi lokal.
Masyarakat umum menyaksikan kemeriahan melalui layar raksasa di sekitar stadion. Mereka berdatangan, tidak hanya untuk melihat defile atlet, tetapi juga menikmati hiburan dan kuliner yang tersedia.
Kontingen Indonesia: Simbol Budaya dan Target Ambisius
Kontingen Indonesia menunjuk Megawati Hangestri (voli putri) dan Robi Syianturi (atletik) sebagai pembawa bendera. Robi mengenakan setelan formal hitam dengan ulos dan ikat kepala Sumatra Utara, sedangkan Megawati memakai kebaya merah berpadu kain tapis dan mahkota siger Lampung. Kostum mereka menonjolkan identitas nasional dan adat.
Kontingen Indonesia menampilkan 69 atlet dalam defile opening ceremony. Secara keseluruhan, Indonesia mengirim 1.021 atlet untuk bertanding di enam cabang olahraga. Kemenpora menargetkan 80 medali emas agar Indonesia finis di peringkat tiga klasemen akhir SEA Games 2025.
Target Medali Turun, Realitas Kompetisi Berubah
Target 80 medali emas lebih rendah dibanding SEA Games 2023 di Kamboja, di mana Indonesia meraih 87 emas. Panitia menghapus sejumlah nomor andalan Indonesia, sehingga peluang meraih emas menyusut.
Siapa yang Diuntungkan, Pemerintah Indonesia tetap bisa menampilkan kontingen besar dan simbol budaya kuat. Media memperoleh tayangan visual yang gemerlap.
Siapa yang Dirugikan, Atlet menanggung tekanan target tinggi di tengah berkurangnya nomor andalan. Masyarakat juga menantikan raihan prestasi setara SEA Games sebelumnya.
Dampak Sosial dan Ekonomi
SEA Games 2025 memberi dampak langsung pada masyarakat Bangkok. Warga menikmati hiburan gratis, kuliner, dan kesempatan melihat atlet secara langsung. Namun, kerumunan meningkatkan risiko kemacetan dan kebutuhan keamanan tambahan.
Bagi Indonesia, ajang ini menjadi barometer persiapan menghadapi kompetisi internasional lebih besar. Ajang ini juga memberi kesempatan menampilkan simbol budaya di panggung global.
Refleksi Tabooo
Di balik lampu sorot dan drone, ada ironi yang tak terlihat. Pemerintah menjadikan olahraga panggung diplomasi dan hiburan, tetapi tekanan pada atlet tetap tinggi. Target emas, pertunjukan budaya, dan layar raksasa menutupi fakta bahwa beberapa cabang andalan dihapus. Peluang prestasi otomatis menurun.
Yang terlihat di layar hanyalah gemerlap, sementara perjuangan, kecemasan, dan ambisi individu tersembunyi di balik panggung megah.
Penutup: Lampu Tetap Menyala, Suara Tangis Tak Terdengar
Malam pembukaan SEA Games 2025 berlangsung meriah. Raja dan Ratu hadir, bendera berkibar, musik membahana. Atlet tersenyum, kamera merekam, dunia menonton. Namun, di sisi lain kota, orang menangis karena kehilangan, takut karena peperangan, dan cemas menunggu kabar.
Apakah gemerlap bisa menutupi duka? Apakah olahraga menenangkan hati yang terus bergetar? Atau kita hanya belajar satu hal manusia tetap rapuh di balik panggung megah sistem yang ingin terlihat aman dan damai?
Di Bangkok malam itu, lampu sorot tetap menyala, tetapi suara tangis tidak pernah terdengar di siaran resmi. @dimas





