Tabooo.id: Deep – Di layar ponsel, rekaman drone memperlihatkan hamparan air coklat yang menelan jalanan Aceh dan Sumatera Utara. Rumah-rumah tampak seperti titik-titik kecil yang mencoba bertahan di tengah luapan sungai. Namun di balik gambar dramatis itu, ada realitas lain yang tak tertangkap kamera tenaga kesehatan yang kelelahan, ruang perawatan darurat yang tak berhenti menerima pasien, dan sistem kesehatan daerah yang pelan-pelan merapuh di bawah beban bencana.
Kementerian Kesehatan menyebut butuh “sebanyak mungkin” tenaga kesehatan untuk menangani krisis ini. Kalimat itu terdengar generik halus, diplomatis tapi sejatinya adalah kode darurat stok tenaga medis kita kritis, bahkan sebelum bencana benar-benar mencapai puncak.
Direktur Surveilans dan Kekarantinaan Kesehatan, Sumarjaya, menjelaskan bahwa rotasi nakes tak lagi berjalan mulus. Jam kerja memanjang, rehat makin pendek, dan tak ada cukup orang untuk menggantikan. Ini bukan sekadar masalah shift, ini soal stamina sebuah sistem yang dipaksa berlari maraton di atas tanah yang berguncang.
Di lima kabupaten Aceh, Aceh Tamiang, Aceh Utara, Langsa, Aceh Tengah, hingga Bener Meriah laporan kekurangan dokter dan perawat datang berbarengan. Dokter spesialis menipis. Dokter umum terbatas. Tenaga farmasi, bidan, perawat kesehatan lingkungan, semua kurang. Bahkan ambulans pun tak cukup. Bencana bukan hanya mengetuk pintu, tapi menyingkap semua retak yang selama ini kita pura-pura tidak lihat.
Ketika Bencana Menjadi Cermin
Jauh sebelum banjir datang, Aceh dan Sumut memang sudah berjuang dengan minimnya tenaga medis. Bencana hanya menyorotkan senter lebih terang. Seperti rumah tua yang selama ini ditambal seadanya, lalu diterjang badai kita baru sadar seberapa rapuh fondasinya.
Kebutuhan Aceh saja sudah memanjang seperti daftar belanja yang tak mungkin dicicil:
- 34 dokter umum
- 17 perawat
- Tenaga farmasi
- Tenaga kesehatan lingkungan
- Tenaga kesehatan reproduksi
- Dan ambulans yang jumlahnya tak memadai
Belum lagi kebutuhan dokter spesialis penyakit dalam, anak, pulmonologi, ortopedi, dan obgyn. Untuk skala provinsi, ini bukan tambahan kecil—ini alarm sirene.
Sumatera Utara pun menunggu dokter spesialis bedah dan dokter umum yang bisa turun tangan. Dalam kondisi seperti ini, ketiadaan satu dokter bisa jadi perbedaan antara hidup dan kehilangan.
Di Lapangan: Antrian Panjang dan Napas yang Tertahan
Kurangnya tenaga kesehatan bukan sekadar angka di laporan. Ia menjelma menjadi keluarga yang menunggu lebih lama, ibu hamil yang terpaksa menunda pemeriksaan, lansia yang kehilangan akses kontrol rutin, atau anak kecil yang demam di pengungsian tanpa cepat ditangani.
Kondisi posko pengungsian memperburuk situasi ruang tidur sempit, sanitasi minim, air bersih sulit. Tanpa nakes yang cukup, risiko penyakit menular meningkat. Satu kasus diare bisa menjadi puluhan. Satu batuk bisa berubah klaster ISPA. Dan ketika penyakit menular menjalar di tengah bencana, waktu adalah musuh terbesar.
Ekonomi yang Melambat Bersama Alat Kesehatan yang Rusak
Banjir tak hanya merusak rumah warga, tapi juga merusak fasilitas kesehatan. Dan ketika alat kesehatan terendam, ahli elektromedis yang bekerja di balik layar tiba-tiba menjadi sangat penting. Mereka harus menentukan alat mana yang masih bisa diselamatkan karena harganya mahal dan anggaran pemulihan punya batas.
Kerusakan ini menciptakan efek berantai
- biaya perbaikan membengkak,
- pelayanan mundur,
- rumah sakit tak bisa operasi penuh,
- dan pemulihan ekonomi daerah ikut melambat.
Sakit dan kemiskinan selalu saling memantulkan. Ketika satu memburuk, yang lain ikut jatuh.
Politik yang Diukur dari Kecepatan Respon
Di atas semua itu, ada dimensi lain yang jarang disebut, tapi selalu terasa politik kepercayaan publik. Bencana besar seperti ini menjadi evaluasi langsung masyarakat terhadap pemerintah.
Seberapa cepat dokter dikirim?
Seberapa sigap posko kesehatan dibuka?
Seberapa nyata bantuan hadir di lapangan?
Jika respon lambat, kepercayaan publik ikut surut. Jika cepat, ia bisa menjadi modal politik yang besar. Bencana, suka atau tidak, adalah panggung legitimasi.
Bukan Sekadar Air Bah, Tapi Alarm Lebih Besar
Banjir dan longsor kali ini tidak hanya menyapu jalan dan rumah. Ia menyapu ilusi bahwa sistem kesehatan kita “baik-baik saja.” Ketika Kemenkes mengatakan “sebanyak mungkin”, itu bukan sekadar kalimat pengisi konferensi pers itu pengakuan bahwa kebutuhan tenaga kesehatan jauh melampaui kapasitas yang ada.
Bencana alam mungkin tidak bisa kita hentikan. Tapi kekurangan tenaga medis dan rapuhnya layanan dasar seharusnya tidak lagi menjadi cerita yang berulang.
Alam sudah memberi sinyal.
Pertanyaannya beranikah kita memperbaiki sebelum sinyal itu berubah menjadi peringatan yang lebih keras? @dimas




