• Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy
  • Sitemap
Sabtu, Maret 28, 2026
  • Login
No Result
View All Result
tabooo.id
  • Tabooo
  • News
  • Check
  • Deep
  • Edge
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Tabooo
  • News
  • Check
  • Deep
  • Edge
  • Life
  • Talk
  • Vibes
No Result
View All Result
tabooo.id
No Result
View All Result
Home Deep

Banjir di Sumatra dan Tenaga Kesehatan yang Kewalahan

Desember 5, 2025
in Deep
A A
Banjir di Sumatra, Tenaga Kesehatan Kewalahan

Yetri (41) berdiri di samping rumahnya bersama sahabatnya usai banjir bandang yang melanda Nagari Salareh Aia Timur, Agam. Ia berhasil menyelamatkan diri bersama keponakannya yang berusia dua bulan. (Foto: KOMPAS.com/Wahyu Adityo Prodjo)

Share on FacebookShare on Twitter

Tabooo.id: Deep – Di layar ponsel, rekaman drone memperlihatkan hamparan air coklat yang menelan jalanan Aceh dan Sumatera Utara. Rumah-rumah tampak seperti titik-titik kecil yang mencoba bertahan di tengah luapan sungai. Namun di balik gambar dramatis itu, ada realitas lain yang tak tertangkap kamera tenaga kesehatan yang kelelahan, ruang perawatan darurat yang tak berhenti menerima pasien, dan sistem kesehatan daerah yang pelan-pelan merapuh di bawah beban bencana.

Kementerian Kesehatan menyebut butuh “sebanyak mungkin” tenaga kesehatan untuk menangani krisis ini. Kalimat itu terdengar generik halus, diplomatis tapi sejatinya adalah kode darurat stok tenaga medis kita kritis, bahkan sebelum bencana benar-benar mencapai puncak.

Direktur Surveilans dan Kekarantinaan Kesehatan, Sumarjaya, menjelaskan bahwa rotasi nakes tak lagi berjalan mulus. Jam kerja memanjang, rehat makin pendek, dan tak ada cukup orang untuk menggantikan. Ini bukan sekadar masalah shift, ini soal stamina sebuah sistem yang dipaksa berlari maraton di atas tanah yang berguncang.

Di lima kabupaten Aceh, Aceh Tamiang, Aceh Utara, Langsa, Aceh Tengah, hingga Bener Meriah laporan kekurangan dokter dan perawat datang berbarengan. Dokter spesialis menipis. Dokter umum terbatas. Tenaga farmasi, bidan, perawat kesehatan lingkungan, semua kurang. Bahkan ambulans pun tak cukup. Bencana bukan hanya mengetuk pintu, tapi menyingkap semua retak yang selama ini kita pura-pura tidak lihat.

Ketika Bencana Menjadi Cermin

Jauh sebelum banjir datang, Aceh dan Sumut memang sudah berjuang dengan minimnya tenaga medis. Bencana hanya menyorotkan senter lebih terang. Seperti rumah tua yang selama ini ditambal seadanya, lalu diterjang badai kita baru sadar seberapa rapuh fondasinya.

Kebutuhan Aceh saja sudah memanjang seperti daftar belanja yang tak mungkin dicicil:

  1. 34 dokter umum
  2. 17 perawat
  3. Tenaga farmasi
  4. Tenaga kesehatan lingkungan
  5. Tenaga kesehatan reproduksi
  6. Dan ambulans yang jumlahnya tak memadai

Belum lagi kebutuhan dokter spesialis penyakit dalam, anak, pulmonologi, ortopedi, dan obgyn. Untuk skala provinsi, ini bukan tambahan kecil—ini alarm sirene.

Sumatera Utara pun menunggu dokter spesialis bedah dan dokter umum yang bisa turun tangan. Dalam kondisi seperti ini, ketiadaan satu dokter bisa jadi perbedaan antara hidup dan kehilangan.

Di Lapangan: Antrian Panjang dan Napas yang Tertahan

Kurangnya tenaga kesehatan bukan sekadar angka di laporan. Ia menjelma menjadi keluarga yang menunggu lebih lama, ibu hamil yang terpaksa menunda pemeriksaan, lansia yang kehilangan akses kontrol rutin, atau anak kecil yang demam di pengungsian tanpa cepat ditangani.

Kondisi posko pengungsian memperburuk situasi ruang tidur sempit, sanitasi minim, air bersih sulit. Tanpa nakes yang cukup, risiko penyakit menular meningkat. Satu kasus diare bisa menjadi puluhan. Satu batuk bisa berubah klaster ISPA. Dan ketika penyakit menular menjalar di tengah bencana, waktu adalah musuh terbesar.

RelatedPosts

Kuta Saat Senja: Ketika Malam Mulai Dibuka untuk Dunia

Ogoh-Ogoh: Saat Manusia Mengarak Ketakutannya Sendiri di Tengah Jalan

Ekonomi yang Melambat Bersama Alat Kesehatan yang Rusak

Banjir tak hanya merusak rumah warga, tapi juga merusak fasilitas kesehatan. Dan ketika alat kesehatan terendam, ahli elektromedis yang bekerja di balik layar tiba-tiba menjadi sangat penting. Mereka harus menentukan alat mana yang masih bisa diselamatkan karena harganya mahal dan anggaran pemulihan punya batas.

Kerusakan ini menciptakan efek berantai

  1. biaya perbaikan membengkak,
  2. pelayanan mundur,
  3. rumah sakit tak bisa operasi penuh,
  4. dan pemulihan ekonomi daerah ikut melambat.

Sakit dan kemiskinan selalu saling memantulkan. Ketika satu memburuk, yang lain ikut jatuh.

Politik yang Diukur dari Kecepatan Respon

Di atas semua itu, ada dimensi lain yang jarang disebut, tapi selalu terasa politik kepercayaan publik. Bencana besar seperti ini menjadi evaluasi langsung masyarakat terhadap pemerintah.

Seberapa cepat dokter dikirim?
Seberapa sigap posko kesehatan dibuka?
Seberapa nyata bantuan hadir di lapangan?

Jika respon lambat, kepercayaan publik ikut surut. Jika cepat, ia bisa menjadi modal politik yang besar. Bencana, suka atau tidak, adalah panggung legitimasi.

Bukan Sekadar Air Bah, Tapi Alarm Lebih Besar

Banjir dan longsor kali ini tidak hanya menyapu jalan dan rumah. Ia menyapu ilusi bahwa sistem kesehatan kita “baik-baik saja.” Ketika Kemenkes mengatakan “sebanyak mungkin”, itu bukan sekadar kalimat pengisi konferensi pers itu pengakuan bahwa kebutuhan tenaga kesehatan jauh melampaui kapasitas yang ada.

Bencana alam mungkin tidak bisa kita hentikan. Tapi kekurangan tenaga medis dan rapuhnya layanan dasar seharusnya tidak lagi menjadi cerita yang berulang.

Alam sudah memberi sinyal.
Pertanyaannya beranikah kita memperbaiki sebelum sinyal itu berubah menjadi peringatan yang lebih keras? @dimas

Tags: Banjir AcehBanjir SumutDarurat KesehatanInfo BencanaInfo KesehatanKrisis NakesLayanan PublikTanggap Bencana
Next Post
Prabowo Lepas Kontingen SEA Games: Ambisi dan Harapan Baru

Prabowo Lepas Kontingen SEA Games: Ambisi dan Harapan Baru

Recommended

Check Fakta: Supermoon Bikin Gempa?

Check Fakta: Supermoon Bikin Gempa?

6 bulan ago
Surabaya Siaga Bantu Korban Banjir dan Longsor Sumatera

Surabaya Siaga Bantu Korban Banjir dan Longsor Sumatera

4 bulan ago

Popular News

  • Prabowo Suruh Bahlil Berburu Minyak, Ada Apa Sebenarnya?

    Prabowo Suruh Bahlil Berburu Minyak, Ada Apa Sebenarnya?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AI Kuasai Musik, Cuan Lari ke Mana?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Internet Bisa Mati Gara-Gara Iran? Cek Faktanya!

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Timnas Indonesia Terlalu kuat atau Saint kitts yang lemah?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cantik Itu Luka: Ketika Kecantikan Jadi Kutukan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy
  • Sitemap
PT Tabooo Network Indonesia

© 2025 Tabooo.id - Bicara Tabu, Itu Tabooo! @TaboooNetwork.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • News
  • Entertainment
  • Lifestyle
  • Life
  • Check
  • Deep
  • Edge
  • Talk
  • Vibes

© 2025 Tabooo.id - Bicara Tabu, Itu Tabooo! @TaboooNetwork.