Tabooo.id: Vibes – Pernah nggak sih, kamu scroll meme sejarah di medsos dan tiba-tiba ketemu wajah Tan Malaka topi fedora, kumis tipis, mata tajam yang bikin kamu mikir, “Eh, ini kok kayak influencer zaman dulu ya?” Iya, Tan Malaka memang influencer politik sebelum ada TikTok atau Twitter. Bedanya, kontennya bukan dance challenge atau lip-sync, tapi risalah revolusioner yang menggagas Republik Indonesia jauh sebelum proklamasi.
Menuju Republik Indonesia: Risalah yang Mendahului Zaman
Tahun 1925, Sukarno masih asyik menggambar blueprint gedung di Bandung, sementara Hatta menelaah ekonomi di Rotterdam. Saat itu, Tan Malaka sudah menulis Naar de Republiek Indonesia Menuju Republik Indonesia. Ia menulis risalah itu di Kanton, lalu menyempurnakannya di Tokyo. Risalah itu ditujukan bagi kaum terpelajar Indonesia. Tan Malaka merancang peta jalan negara merdeka dengan tegas. Baginya, Republik bukan hadiah penjajah, tapi hasil perjuangan rakyat yang sadar akan nasib sendiri.
FOMO Politik Para Founding Fathers
Menarik melihat bagaimana Tan Malaka ini seperti “FOMO politik” bagi generasi pendiri lainnya. Sukarno, Hatta, dan Sjahrir membaca, belajar, dan mendapat inspirasi dari karya Tan Malaka. Sejarawan Asvi Warman Adam bilang, Tan Malaka itu traveler sejati Amsterdam, Berlin, Moskow, Kanton, Manila, Saigon, Bangkok, Hong Kong, Rangoon, Penang. Bedanya, ia dikejar-kejar polisi Belanda dan Inggris, bukan cuma selfie di kafe ala millennial.
Kembalinya Tan Malaka dan Pengakuan yang Tertunda
Tan Malaka kembali ke Indonesia pada 1942. Ia turun langsung ke lapangan, bukan hanya berpikir dari jauh. Sukarno bahkan menaruh hormat ia menulis testamen politik yang menyebut Tan Malaka sebagai pemegang amanah kepemimpinan Republik jika terjadi sesuatu padanya. Namun, sejarah punya ironi. Tan Malaka akhirnya buron, ditahan, dan dieksekusi pada 1949. Nama besarnya sempat hilang dari narasi sejarah di era Orde Baru.
Karya Monumental dan Inspirasi Global
Risalah Menuju Republik Indonesia tetap monumental. Dosen ilmu politik Airlangga Pribadi Kusman menegaskan, karya itu menjadi panduan revolusioner pertama yang menjelaskan bagaimana rakyat Indonesia bisa membangun negara merdeka. Tan Malaka berdialog dengan tokoh Asia seperti Sun Yat Sen dan Ho Chi Minh. Ia membaca situasi global, memetakan kekuatan sosial, dan memberi program konkret. Sekilas, ini seperti strategi game open-world, tapi versi revolusi nyata: penuh misi, risiko, dan interaksi dengan banyak pemain internasional.
Pelajaran untuk Dunia Digital Masa Kini
Fenomena ini menarik dicermati sekarang. Di dunia digital, FOMO fear of missing out sering muncul. Para founding fathers kita juga mengidap versi FOMO mereka sendiri. Sukarno, Hatta, dan Sjahrir takut ketinggalan insight Tan Malaka. Mereka membaca, mencatat, dan menginternalisasi gagasan revolusioner itu agar tidak tertinggal dalam “timeline” perjuangan nasional. Bedanya, timeline mereka lebih panjang, lintas benua, dan nyawa dipertaruhkan.
Refleksi Tabooo: Relevansi Ide Besar
Tan Malaka mengajarkan dua hal penting gagasan besar lahir dari keberanian berpikir dan bergerak; dan pengakuan terhadap peran seseorang bisa terlambat, bahkan bertahun-tahun. Di era digital, kita sering menilai “viral” atau “trending” sebagai tolok ukur pentingnya konten. Namun, bagi Tan Malaka, relevansi gagasan diukur dari sejauh mana ia menginspirasi perubahan nyata bukan jumlah likes atau retweet.
Ziarah Digital dan Sejarah yang Hidup
Beberapa sejarawan menuntut agar Tan Malaka diformalkan sebagai Bapak Republik Indonesia. Mereka juga berharap makamnya dipugar sebagai tempat ziarah. Rasanya seperti memberi filter canggih pada foto lama memperjelas, memperindah, tapi tetap menghormati esensi asli. Kita, generasi digital, bisa belajar bahwa sejarah bukan cuma story highlight di Instagram, tapi narasi yang harus dibaca, direnungi, dan dibagikan dengan hati.
Ketika kamu scroll lagi meme Tan Malaka, jangan cuma senyum-senyum. Bayangkan ia menatapmu dari Kanton, Tokyo, atau Amsterdam, memberi reminder ringan tapi pedas: ide besar butuh keberanian, gerak cepat, dan kadang… sedikit FOMO politik. Membaca sejarahnya bisa bikin kamu lebih berani merancang “republik” versi hidupmu sendiri tanpa menunggu proklamasi orang lain. @dimas




