Minggu, November 8, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
RADIO
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Presiden Diduga Disadap, Soleman Ponto Minta TNI Bergerak

by jeje
November 7, 2026
in Nasional, Reality
A A
Home Reality Nasional

Dugaan penyadapan terhadap Presiden kembali menjadi sorotan. Mantan Kepala Badan Intelijen Strategis (Kabais) TNI, Soleman Ponto, menilai penanganan kasus tersebut perlu melibatkan TNI agar pengusutannya berjalan menyeluruh dan tidak menyisakan tanda tanya soal siapa pihak di balik dugaan aksi penyadapan itu.

TABOOO.ID – Dugaan penyadapan terhadap Presiden Prabowo Subianto membuka persoalan yang jauh lebih besar daripada sekadar pelanggaran prosedur kepolisian. Mantan Kepala Badan Intelijen Strategis (BAIS) TNI, Laksamana Muda TNI (Purn) Soleman B. Ponto, meminta pengusutan perkara ini melibatkan unsur intelijen militer dan Badan Intelijen Negara (BIN).

Menurut Soleman, pembentukan tim khusus internal Polri belum cukup untuk menjamin independensi pemeriksaan. Apalagi, perkara tersebut menyeret mantan Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo dan sejumlah perwira tinggi kepolisian.

Persoalannya bukan hanya siapa yang melakukan penyadapan. Publik juga perlu mengetahui siapa yang memerintahkan, siapa yang menerima hasilnya, dan untuk kepentingan apa informasi tersebut dikumpulkan.

Di sinilah persoalan menjadi serius.

Bukan Sekadar Urusan Internal Polri

Soleman menilai dugaan penyadapan terhadap kepala negara sudah melampaui persoalan penegakan hukum biasa.

Ia mendesak pembentukan tim pemeriksa gabungan yang melibatkan TNI, BAIS, BIN, serta kepolisian.

“Itu harus ada tim pemeriksa gabungan dari TNI, dari Bais, dari BIN, minimal bersama-sama kepolisian. Itu, nggak bisa kalau hanya Polri. Ini tidak sesederhana pelanggaran hukum biasa, nggak bisa. Karena dia adalah kepala polisi dan yang disadap adalah kepala negara,” kata Soleman, sebagaimana diberitakan Suara.com, Jumat (6/11/2026).

Menurutnya, keterlibatan lembaga lain dibutuhkan untuk menjaga objektivitas pemeriksaan.

Sebab, ada persoalan independensi ketika sebuah institusi harus mengusut dugaan penyalahgunaan kewenangan yang melibatkan pejabat tinggi dari institusinya sendiri.

Namun, pelibatan TNI bukan berarti mengambil alih kewenangan penyidikan Polri. Yang menjadi perhatian adalah kebutuhan pengawasan dan pemeriksaan lintas lembaga sesuai kewenangan masing-masing.

Siapa yang Sebenarnya Membutuhkan Hasil Sadapan?

Soleman juga menyoroti satu pertanyaan yang tidak boleh dilewatkan: siapa pengguna akhir informasi hasil penyadapan?

Dalam perspektif intelijen, pengumpulan informasi bukan aktivitas tanpa tujuan.

Seseorang mengumpulkan informasi karena ada kebutuhan tertentu. Karena itu, penyidikan tidak seharusnya berhenti pada identifikasi operator atau pelaksana teknis.

Sebelumnya, Soleman juga menegaskan:

“Prinsip intelijen itu sederhana: tidak ada pengumpulan informasi tanpa user.”

Pernyataan tersebut mengarahkan perhatian pada aliran informasi. Siapa yang menerima hasil sadapan? Kapan informasi diserahkan? Apakah ada pihak yang membiayai operasi tersebut?

Pertanyaan-pertanyaan itu penting untuk mengungkap keseluruhan konstruksi perkara.

Meski demikian, keberadaan pengguna akhir maupun dugaan adanya aktor di luar para tersangka masih harus dibuktikan melalui penyidikan. Belum ada dasar untuk menunjuk pihak tertentu sebagai dalang.

Dugaan Penyadapan Berlangsung pada 2025-2026

Kasus ini semakin menjadi perhatian setelah Bareskrim Polri mengungkap dugaan penyadapan tanpa prosedur sepanjang 2025 hingga 2026.

Menurut keterangan penyidik, sejumlah nomor telepon diduga dimasukkan ke dalam Lawful Interception Management System (LIMS) tanpa melalui prosedur yang semestinya.

Penyadapan tersebut diduga tidak didasarkan pada permohonan penyidik, laporan polisi, maupun kepentingan penegakan hukum.

Sasaran yang disebut penyidik juga tidak terbatas pada Presiden Prabowo. Pejabat negara, tokoh politik, media, organisasi masyarakat, LSM, hingga pengusaha turut masuk dalam daftar pihak yang diduga menjadi target.

Penyidik juga mendalami dugaan penghapusan hasil penyadapan pada Oktober 2026.

Bareskrim telah menetapkan sejumlah personel Polri sebagai tersangka. ANTARA melaporkan bahwa jumlah tersangka berkembang menjadi empat orang, termasuk pejabat yang diduga memberikan izin penyadapan dan penghapusan hasilnya.

Perkara tersebut berkaitan dengan dugaan penyadapan ilegal, akses ilegal, serta penghapusan informasi elektronik.

Polri Membentuk Tim Khusus, Tetapi Pertanyaan Belum Selesai

Kapolri Jenderal Suyudi Ario Seto sebelumnya membentuk tim khusus untuk mendalami kasus tersebut.

Tim itu dipimpin Kabareskrim Polri. Kepolisian menyatakan proses pemeriksaan akan dilakukan secara profesional, objektif, dan transparan.

Presiden Prabowo juga telah meminta agar pengusutan berjalan sesuai hukum dan tidak ada informasi yang ditutup-tutupi.

Namun, desakan Soleman menunjukkan bahwa transparansi bukan satu-satunya persoalan.

Publik juga membutuhkan mekanisme pemeriksaan yang dapat menjaga kepercayaan terhadap hasil penyidikan.

Terlebih, perkara ini menyangkut dugaan akses terhadap komunikasi kepala negara dan sejumlah tokoh penting lainnya.

Ancaman Terbesarnya Bukan Hanya Penyadapan

Ada satu lapisan persoalan yang perlu diperhatikan.

Penyadapan ilegal merupakan persoalan serius. Tetapi apabila informasi hasil penyadapan ternyata digunakan untuk memengaruhi keputusan atau mengganggu jalannya pemerintahan, dampaknya bisa jauh lebih luas.

Di sinilah muncul kekhawatiran mengenai kemungkinan upaya melumpuhkan fungsi kepresidenan.

Namun, kemungkinan tersebut tidak boleh langsung dianggap sebagai fakta. Penyidik masih harus membuktikan tujuan operasi, aliran informasi, serta pihak yang mungkin memperoleh manfaat.

Negara tidak boleh menyamakan dugaan dengan kesimpulan. Tetapi negara juga tidak boleh berhenti pada penindakan terhadap pelaksana teknis jika masih ada pertanyaan mendasar yang belum terjawab.

Pada akhirnya, persoalan ini bukan tentang institusi mana yang paling berkuasa melakukan pemeriksaan.

Persoalannya adalah apakah negara mampu mengungkap seluruh rangkaian peristiwa secara independen, transparan, dan dapat dipertanggungjawabkan.

Sebab, ketika komunikasi kepala negara saja diduga bisa ditembus, yang sedang diuji bukan hanya keamanan seorang Presiden. Yang sedang diuji adalah kemampuan negara menjaga batas kekuasaan, kepercayaan, dan hukum. @jeje

Tags: intelijen TNIListyo Sigit PrabowoPenyadapan PresidenSoleman Ponto

Kamu Melewatkan Ini

SBY Khawatir Rakyat Takut Tinggal di Negaranya Sendiri, Ada Apa dengan Politik Indonesia?

SBY Khawatir Rakyat Takut Tinggal di Negaranya Sendiri, Ada Apa dengan Politik Indonesia?

by jeje
November 7, 2026

Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) mengaku khawatir melihat arah politik Indonesia yang dinilainya semakin liar. Perebutan kekuasaan, menurutnya,...

Dari Penyadapan ke Dugaan Makar, Siapa yang Bermain di Baliknya?

Dari Penyadapan ke Dugaan Makar, Siapa yang Bermain di Baliknya?

by dimas
November 5, 2026

Dugaan penyadapan Presiden menyeret Listyo Sigit dan dua jenderal Polri. Motif politik, indikasi makar, dan aktor di balik perkara kini...

Penyadapan Presiden: Tiga Perwira Jadi Tersangka, Motif Dipertanyakan

Penyadapan Presiden: Tiga Perwira Jadi Tersangka, Motif Dipertanyakan

by teguh
November 4, 2026

Kasus dugaan penyadapan Presiden Prabowo Subianto memasuki babak baru setelah Bareskrim Polri menetapkan tiga orang sebagai tersangka. Perkembangan ini memunculkan...

◉
TABOOO RADIOVERSE
SATU BUMI · RIBUAN FREKUENSI
RADIO ONLINE
Dimulai dari Indonesia, jelajahi seluruh dunia
Menyiapkan peta dunia…
Putar bumi · Klik titik kota · Dengarkan radio
🌏 INDONESIA FOCUS
JELAJAHI SUARA DUNIA

Temukan frekuensimu.

Pilih kota, lalu dengarkan siarannya.

⌕

Radio pilihan

— stasiun
Memuat direktori radio…
1 / 1
♫
SIAP MENDENGARKAN
Pilih stasiun radio
Jelajahi frekuensi dari seluruh dunia
◖))
Belum ada siaran
Powered by TABOOO · Radioverse v1.2Audio disiarkan oleh stasiun pihak ketiga · Radio Browser · Peta © OpenStreetMap

Madilog Series

Logika vs Emosi: Siapa yang Sebenarnya Mengendalikan Kamu? – Madilog Series #3.5

Logika vs Emosi: Siapa yang Sebenarnya Mengendalikan Kamu? – Madilog Series #3.5

Agustus 24, 2026
Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Juli 7, 2026
Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026

Marx Series

Mesin dan Industri Modern: Teknologi Membebaskan atau Membuat Pekerja Makin Mudah Diganti?

Mesin dan Industri Modern: Teknologi Membebaskan atau Membuat Pekerja Makin Mudah Diganti?

Agustus 25, 2026

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Juli 16, 2026

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Juni 20, 2026

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
    • Pattern
  • Figures
  • Radioverse

© 2026 Tabooo.id