Konser Andrea Bocelli di Candi Borobudur tetap digelar di tengah penolakan terkait isu Palestina. Polda Jawa Tengah menyiagakan pengamanan selama 24 jam.
Tabooo.id: Magelang – Kemegahan Candi Borobudur bersiap menjadi latar pertunjukan musik kelas dunia. Namun, konser Andrea Bocelli di Taman Lumbini, Sabtu (31/10/2026), tidak sepenuhnya berlangsung dalam suasana perayaan.
Di luar panggung, penolakan sejumlah elemen masyarakat masih membayangi. Polemik tersebut berkaitan dengan dugaan keterlibatan Andrea Bocelli dalam acara penggalangan dana bagi militer Israel.
Meski demikian, promotor memastikan konser tetap berlangsung sesuai jadwal. Sementara itu, aparat kepolisian meningkatkan kesiagaan untuk mengantisipasi potensi gangguan keamanan.
Polda Jawa Tengah bersama jajaran kepolisian di Kabupaten Magelang menyatakan bersiaga selama 24 jam. Pengamanan berlangsung menjelang hingga selama pertunjukan musik internasional tersebut.
Melalui unggahan akun Instagram resminya, jajaran kepolisian menyampaikan komitmen menjaga situasi keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas) di kawasan Borobudur.
Kepolisian juga menegaskan kehadirannya untuk memberikan rasa aman bagi masyarakat maupun pengunjung destinasi wisata.
“Dari pusat aktivitas masyarakat hingga destinasi wisata dunia, kami hadir memberikan rasa nyaman untuk semua,” demikian pernyataan tersebut.
Penolakan Tak Menghentikan Pertunjukan
Konser bertajuk Andrea Bocelli – Romanza 30th Anniversary World Tour Indonesia menjadi bagian dari perayaan 30 tahun album Romanza.
Album tersebut menjadi salah satu karya penting dalam perjalanan musik penyanyi tenor asal Italia itu. Kali ini, pertunjukan musik klasik crossover tersebut mengambil tempat di Taman Lumbini, kompleks Candi Borobudur.
Penyelenggara menawarkan pengalaman musik internasional dengan latar warisan budaya dunia. Harga tiket konser juga berada pada rentang Rp1,25 juta hingga Rp17,5 juta.
Namun, kemegahan lokasi dan nama besar sang maestro tidak serta-merta menghapus persoalan di ruang publik.
Sejumlah elemen masyarakat, termasuk Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Tengah dan organisasi kemasyarakatan Islam, menyampaikan penolakan.
Mereka mempertanyakan rekam jejak Andrea Bocelli terkait isu Palestina. Salah satu persoalan yang mencuat ialah dugaan keterlibatannya dalam acara penggalangan dana bagi militer Israel.
Polemik tersebut kemudian menempatkan konser bukan sekadar sebagai agenda hiburan. Publik turut membawa persoalan kemanusiaan dan solidaritas terhadap Palestina ke dalam perdebatan penyelenggaraannya.
Promotor Memilih Melanjutkan Konser
Di tengah penolakan dan berbagai masukan masyarakat, Shoemaker Live tetap mempertahankan jadwal pertunjukan.
Founder Shoemaker Live, Prajna Murdaya, mengatakan keputusan tersebut lahir setelah pihaknya mendengarkan berbagai pandangan dan berdialog dengan sejumlah pihak.
Menurutnya, penyelenggaraan konser mempertimbangkan sejumlah aspek strategis nasional. Aspek tersebut meliputi ekosistem pariwisata, kebudayaan, dan ekonomi kreatif.
Prajna juga memahami bahwa persoalan ini memiliki makna lebih luas daripada sekadar pertunjukan musik.
Ia menyebut pihaknya memahami kepedulian masyarakat terhadap mereka yang terdampak konflik dan kehilangan.
“Maestro Bocelli senantiasa menjunjung nilai-nilai kemanusiaan dan ingin menyampaikan harapan akan perdamaian, terutama bagi mereka yang hingga hari ini belum dapat merasakannya,” ujar Prajna.
Pernyataan tersebut menjadi bagian dari penjelasan promotor untuk menjawab perhatian publik terhadap konser.
Ketika Panggung Hiburan Bertemu Isu Kemanusiaan
Ada dua kepentingan yang kini bertemu di Borobudur. Di satu sisi, penyelenggara membawa agenda pariwisata, kebudayaan, dan ekonomi kreatif.
Di sisi lain, sebagian masyarakat mempertanyakan dimensi moral di balik kehadiran seorang musisi internasional yang dikaitkan dengan isu konflik Palestina.
Keduanya tidak bisa begitu saja disederhanakan menjadi persoalan konser boleh atau tidak boleh berlangsung.
Bagi masyarakat, isu Palestina bukan sekadar perdebatan politik internasional. Persoalan tersebut menyangkut solidaritas terhadap warga sipil yang mengalami konflik dan kehilangan.
Sementara itu, bagi penyelenggara, konser juga membawa kepentingan ekonomi dan promosi kebudayaan Indonesia di hadapan penonton internasional.
Di sinilah persoalan menjadi lebih kompleks. Pengamanan kepolisian dapat menjaga ketertiban selama acara, tetapi tidak otomatis menyelesaikan perbedaan pandangan masyarakat.
Konser mungkin tetap berlangsung. Lampu panggung mungkin menyala. Ribuan penonton mungkin menikmati suara sang maestro.
Namun, pertanyaan publik tidak serta-merta selesai ketika musik berhenti.
Borobudur memang menjadi panggung bagi pertunjukan kelas dunia. Tetapi, di tengah polemik ini, masyarakat juga sedang menguji bagaimana industri hiburan, kepentingan ekonomi, dan nilai kemanusiaan ditempatkan dalam satu ruang yang sama. @dimas








