Jumat, Oktober 30, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Asap Flare Merah Iringi Aksi Trisakti, Mahasiswa Suarakan Kekecewaan

by dimas
Oktober 29, 2026
in Edge
A A
Home Edge
Share on Facebook
Share on Twitter
Asap flare merah mengiringi aksi mahasiswa Trisakti di Jakarta yang menyuarakan kekecewaan melalui tiga tuntutan: pemulihan nasional, evaluasi pejabat, dan supremasi sipil.

Tabooo.id – Asap flare merah mengepul di Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta, Kamis (29/10/2026). Di tengah kepulan asap itu, mahasiswa Universitas Trisakti menyuarakan tiga tuntutan: pemulihan nasional, pemberantasan pejabat yang dinilai tidak kompeten, dan penegakan supremasi sipil.

Nyala merah mewarnai demonstrasi, tetapi pesan mahasiswa melampaui suasana aksi. Mereka membawa persoalan ekonomi, ekologi, politik, pendidikan, dan kesehatan ke ruang publik. Mereka juga mempertanyakan kualitas pejabat serta arah penyelenggaraan kekuasaan.

Arief Rizquna, Menteri Luar Negeri Kepresidenan Mahasiswa (Kepresma) Universitas Trisakti periode 2025/2026, memimpin pembacaan tiga tuntutan tersebut. Ia menyampaikan agenda mahasiswa di tengah berlangsungnya aksi.

“Tuntutan pertama adalah pemulihan ekonomi, ekologi, politik, pendidikan, dan kesehatan nasional. Kedua, pemberantasan pejabat yang dinilai tidak kompeten di bidangnya. Ketiga, penegakan supremasi sipil,” ujarnya dikutip dari IDN Times.

Tiga tuntutan itu menyentuh persoalan yang dekat dengan kehidupan masyarakat. Pemulihan ekonomi berkaitan dengan kesejahteraan warga. Sementara itu, ekologi, pendidikan, dan kesehatan menyangkut kualitas hidup serta akses masyarakat terhadap layanan dasar.

Ini Belum Selesai

Terorisme Lingkungan: Jangan Sampai Garang di Pidato, Lunak di Pengadilan

Pajak Mobil McLaren: Belum Pernah Menginjak Pedal Gas, Tagihannya Sudah Ngebut

Mahasiswa juga menyoroti kompetensi pejabat publik. Tuntutan ini memunculkan pertanyaan tentang cara pemerintah mengukur kinerja, mengevaluasi tanggung jawab, dan memastikan setiap pejabat menjalankan tugasnya secara efektif.

Di sisi lain, tuntutan supremasi sipil membawa kritik ke ranah tata kelola demokrasi. Mahasiswa menempatkan hubungan antara kekuasaan dan masyarakat sipil sebagai persoalan penting dalam penyelenggaraan negara.

Simbol Kekecewaan dari Trisakti

Di tengah aksi, Arief mengajak mahasiswa mengangkat simbol yang mereka bawa dari Trisakti. Ia menyebut simbol tersebut sebagai gambaran kekecewaan dan kemuraman yang ingin mereka tunjukkan kepada masyarakat.

“Hari ini saya ingin menunjukkan kepada masyarakat sipil sekalian bahwa ada simbol kekecewaan, ada simbol kemirisan yang kami bawa dari Trisakti. Angkat semua, teman-teman! Bismillah! Ini adalah kegelapan,” kata Arief.

Kata kegelapan menjadi penekanan dalam pernyataan Arief. Melalui simbol dan orasi, mahasiswa menyampaikan emosi sekaligus mempertegas kritik mereka terhadap kondisi yang ingin mereka ubah.

Simbol menghadirkan ekspresi kekecewaan, sedangkan tiga tuntutan memberikan arah pada kritik tersebut. Keduanya bertemu dalam demonstrasi sebagai ruang untuk menyampaikan kegelisahan politik kepada publik.

Namun, ekspresi protes saja tidak menjawab persoalan yang mereka angkat. Pemulihan nasional membutuhkan kebijakan dengan target yang jelas. Evaluasi pejabat memerlukan indikator kinerja yang transparan. Sementara itu, supremasi sipil menuntut penghormatan terhadap prinsip dan batas kewenangan dalam penyelenggaraan negara.

Tuntutan di Jalan, Jawaban dari Pemerintah

Aksi mahasiswa Trisakti memperlihatkan bagaimana demonstrasi menjadi sarana untuk mengkritik kebijakan dan tata kelola pemerintahan. Melalui tiga tuntutan tersebut, mahasiswa meminta perhatian terhadap persoalan kesejahteraan, kualitas pejabat, dan hubungan kekuasaan dengan masyarakat sipil.

Pemerintah memiliki ruang untuk merespons kritik melalui penjelasan kebijakan, evaluasi kinerja, serta langkah konkret yang hasilnya dapat diperiksa masyarakat. Publik juga membutuhkan informasi terbuka agar dapat menilai tindak lanjut atas tuntutan tersebut.

Asap flare merah pada akhirnya akan menghilang dari jalanan. Namun, pertanyaan yang dibawa mahasiswa tetap relevan: apakah kekecewaan yang mereka suarakan akan mendorong evaluasi nyata, atau berhenti sebagai gema demonstrasi di tengah kota? @dimas

Tags: aksi mahasiswaFlare MerahSupremasi SipilTuntutan MahasiswaUniversitas Trisakti

Kamu Melewatkan Ini

Mahasiswa Trisakti Bawa Tritura ke Istana, Desak Reformasi Nasional

Mahasiswa Trisakti Bawa Tritura ke Istana, Desak Reformasi Nasional

by dimas
Oktober 29, 2026

Mahasiswa Trisakti membawa Tritura ke Istana Negara, menuntut pemulihan ekonomi, ekologi, politik, pendidikan, kesehatan, reformasi jabatan publik, dan supremasi sipil....

Mahasiswa Terhalang Barikade, Demo di Bundaran HI Berujung Ricuh

Mahasiswa Terhalang Barikade, Demo di Bundaran HI Berujung Ricuh

by dimas
Oktober 29, 2026

Mahasiswa terhalang barikade polisi saat berunjuk rasa di Bundaran HI, Jakarta. Aksi berujung ricuh setelah polisi menembakkan gas air mata....

Gen Z Revolution 2 Memanas, 20 Tuntutan Menanti Jawaban Gubernur Kalbar

Gen Z Revolution 2 Memanas, 20 Tuntutan Menanti Jawaban Gubernur Kalbar

by dimas
Oktober 22, 2026

Aksi Gen Z Revolution 2 di Pontianak berakhir ricuh. Massa membawa 20 tuntutan soal kesejahteraan dan karhutla, tetapi belum mendapat...

Next Post
Dua Atlet Porprov Jateng Meninggal, Keselamatan Dipertanyakan

Dua Atlet Porprov Jateng Meninggal, Keselamatan Dipertanyakan

Madilog Series

Logika vs Emosi: Siapa yang Sebenarnya Mengendalikan Kamu? – Madilog Series #3.5

Logika vs Emosi: Siapa yang Sebenarnya Mengendalikan Kamu? – Madilog Series #3.5

Agustus 24, 2026
Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Juli 7, 2026
Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026

Marx Series

Mesin dan Industri Modern: Teknologi Membebaskan atau Membuat Pekerja Makin Mudah Diganti?

Mesin dan Industri Modern: Teknologi Membebaskan atau Membuat Pekerja Makin Mudah Diganti?

Agustus 25, 2026

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Juli 16, 2026

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Juni 20, 2026

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id