Tabooo.id: Check – Media sosial lagi ribut. Ada video yang menampilkan Gubernur Sumatera Utara, Bobby Nasution, seolah sedang berpidato penuh bara:
“Hanya iblis yang tidak bisa dipanggil penegak hukum.”
Kalimatnya pedas, konteksnya panas, penyebarannya cepat.
Akun-akun politik langsung menggorengnya, lengkap dengan tangkapan layar berita random dan caption agresif yang bikin warganet merasa baru menemukan “bukti baru”.
Tapi seperti banyak hal viral lainnya… semakin keras suaranya, semakin mencurigakan keasliannya.
SAAT KAMERA BOHONG, ARSIP BICARA JUJUR
Penelusuran Tim Cek Fakta Tabooo.id membalikkan semuanya.
Tidak ada rekaman resmi, transkrip, atau wawancara yang menunjukkan Bobby pernah mengucapkan kalimat itu.
Lebih jauh lagi:
- Pemeriksaan menggunakan AI Voice Detector menunjukkan suara dalam video tersebut punya 68,13% kemungkinan buatan AI.
- Potongan berita yang ditempel dalam videonya tidak berhubungan langsung dengan narasi yang dibangun.
- Dan plot twist-nya:
Pernyataan itu bukan dari Bobby, melainkan dari Abdul Ficar Hadjar, pakar hukum pidana Universitas Trisakti, dalam wawancara Inilah.com tanggal 8 November 2025.
Jadi siapa yang ngomong?
Bukan Bobby.
Bukan pejabat mana pun.
Bukan iblis.
Seorang akademisi.
KENAPA KITA GAMPANG TERKECOH? JAWABANNYA BUKAN IBLIS
Fenomena ini tidak aneh. Kita tengah masuk ke era ketika batas antara video asli dan editan makin kabur.
Pertama, AI cloning bisa membuat siapa pun terdengar seperti siapa pun dan itu dilakukan hanya dengan beberapa detik sampel suara.
Kedua, netizen cenderung percaya pada visual, meskipun videonya hanya gabungan screenshot dan suara digital.
Ketiga, narasi politik selalu punya “penggemar”. Kalau cocok dengan bias pribadi, hoaks langsung terasa seperti kebenaran.
Hoaks modern itu seperti mie instan:
murah, cepat, menggoda, dan selalu bikin ingin nambah meskipun tahu tidak sehat.
CEK DULU, SEBELUM JEMPOLMU MENAMBAH DOSA DIGITAL
Di era ketika suara bisa dipinjam, wajah bisa ditempel, dan konteks bisa dibengkokkan, tugas kita sebenarnya sederhana:
Berhenti beberapa detik sebelum share.
Tanya ini masuk akal atau hanya akal-akalan?
Karena hari ini, satu video palsu bisa memengaruhi opini ribuan orang.
Dan salah satu langkah paling sederhana untuk menjaga ruang digital tetap waras adalah…
tidak ikut menyebarkan hal yang belum jelas asal-usulnya.
Seperti kata Tabooo:
Sebelum share, cek dulu biar gak ikut dosa digital. @dimas





