WJNC 2026 menghidupkan jalanan Yogyakarta lewat kisah Bethara Gana, budaya wayang, dan kreativitas 14 kemantren dalam perayaan HUT ke-270 Kota Yogyakarta.
Tabooo.id: Yogyakarta – Malam di jantung Kota Yogyakarta berubah menjadi panggung besar. Kawasan Sumbu Filosofi, dari Malioboro hingga Titik Nol Kilometer, dipenuhi cahaya, musik, kostum, dan gerak tari.
Rabu, 7 Oktober 2026, Wayang Jogja Night Carnival (WJNC) kembali hadir. Tahun ini, WJNC mengangkat tema “Gana Kalajaya”, kisah kelahiran Sang Hyang Bethara Gana dalam dunia pewayangan.
Tema itu bukan sekadar pilihan cerita. Gana Kalajaya membawa pesan tentang kekuatan masyarakat dalam menghadapi perubahan zaman.
Dalam pemaknaan yang disampaikan Wali Kota Yogyakarta Hasto Wardoyo, kata gana menggambarkan kekuatan komunitas. Kala merujuk pada tantangan zaman. Sementara jaya berarti keberhasilan bersama.
Pesan itu bertemu dengan ungkapan “ora mingkuh”. Artinya, masyarakat tidak boleh menghindar atau menyerah ketika menghadapi tantangan.
Ketika Kisah Wayang Turun ke Jalan
Cerita Bethara Gana berangkat dari kisah pewayangan. Ia merupakan putra Sang Hyang Guru atau Siwa dan Bethari Uma.
Bethara Gana memiliki tubuh manusia dengan kepala gajah serta taring yang kuat. Bentuk tersebut berkaitan dengan kisah Bethari Uma yang terkejut ketika melihat Gajah Errawata, kendaraan Bethara Indra, saat mengandung.
Namun, kekuatan Bethara Gana tidak berhenti pada bentuk fisiknya. Ia dikenal memiliki kekuatan luar biasa sekaligus kebijaksanaan.
Konflik muncul ketika Kahyangan mendapat serangan pasukan raksasa. Prabu Nilarudraka memimpin pasukan itu setelah Dewi Gagarmayang menolak lamarannya.
Para dewa kewalahan menghadapi serangan tersebut. Bethara Gana kemudian tampil menghadapi Nilarudraka.
Ia berhasil mengalahkan sang raja raksasa dan memulihkan kedamaian di Kahyangan. Setelah itu, Bethara Gana mendapat kedudukan sebagai salah satu dewa utama.
Kisah tersebut membuat WJNC tidak hanya menghadirkan parade kostum. Jalanan Yogyakarta menjadi ruang untuk membawa kembali cerita lama kepada penonton masa kini.
Wayang Menjadi Identitas Yogyakarta
Sebanyak 14 kemantren ikut ambil bagian dalam WJNC 2026. Peserta terdiri atas remaja hingga orang dewasa.
Setiap kemantren membawa karakter dan interpretasi masing-masing. Mereka memadukan kostum, tari, musik, properti, serta kreativitas visual.
Totok Baroto, Direktur Kemantren Mergangsan, menyebut 2026 menjadi tahun ke-10 dirinya mengikuti WJNC. Ia mengikuti perjalanan acara tersebut sejak pertama kali digelar pada 2016.
Menurut Totok, keterlibatan anak-anak menjadi bagian penting dalam proses itu. Mereka tidak selalu memiliki kemampuan menari sejak awal. Kemantren kemudian memberi ruang, pendampingan, dan kesempatan untuk belajar.
Pilihan wayang juga memiliki alasan kuat.
“Kalau Solo itu batik, jadi kita kembalikan,” kata Totok.
Tahun ini, Mergangsan mengubah konsep secara menyeluruh. Mereka meninggalkan penggunaan ogoh-ogoh karena identitas tersebut lebih lekat dengan budaya Bali.
Pilihan itu menunjukkan satu hal. WJNC berusaha mencari bentuk yang lebih dekat dengan identitas budaya Yogyakarta.
Sepuluh Tahun WJNC dan Perubahan Panggung
WJNC pertama kali hadir pada 2016. Setelah satu dekade perjalanan, penyelenggara kembali membawa acara ini dengan konsep yang menempatkan wayang sebagai pusat cerita.
Tahun ini juga membawa perubahan lokasi. Penyelenggara menggeser kawasan utama kegiatan dari persimpangan Tugu menuju Titik Nol Kilometer.
Perubahan tersebut memberi ruang baru bagi WJNC. Kawasan bersejarah Yogyakarta kembali menjadi ruang pertemuan antara budaya, masyarakat, dan pariwisata.
Hasto Wardoyo menyebut WJNC 2026 sebagai puncak peringatan HUT ke-270 Kota Yogyakarta. Ia juga menjelaskan bahwa tema Gana Kalajaya mengadaptasi karya Sri Sultan Hamengku Buwono X pada 2021.
Menurut Hasto, gagasan tersebut berkaitan dengan upaya menghadirkan “authentic concrete”. Nilai budaya, warisan, seni, serta kualitas Yogyakarta tidak cukup hanya menjadi identitas.
Semua itu harus hadir dalam kehidupan warga. Masyarakat juga harus dapat merasakan dan menikmatinya.
Di titik inilah WJNC mendapat tantangan yang lebih besar. Festival tidak cukup hanya ramai selama satu malam. Nilai budaya yang dibawa harus tetap hidup setelah panggung dibongkar.
Dari Panggung Budaya ke Ruang Ekonomi
Keramaian WJNC juga memberi dampak kepada pelaku usaha kecil di sekitar lokasi.
Pak Min, salah satu penjual minuman dan pemilik warung, mengaku merasakan peningkatan aktivitas sejak beberapa hari sebelumnya.
“Lumayan rame, tapi lebih rame tahun kemarin. Sudah capek, Mbak, dari pagi. Rame dari tiga hari, tapi puncaknya hari ini,” ujarnya.
Cerita serupa datang dari Pak Anom, tukang pijit telur yang membuka usaha di sekitar kawasan acara.
“Alhamdulillah rame sekarang. Biasanya kalau pas ada bis-bis bisa sampai 30 paling banyak,” katanya.
Ia mulai melayani pelanggan sejak sekitar pukul 15.00 hingga 19.00 WIB. Namun, menurutnya, keramaian tahun ini belum mencapai tingkat yang sangat padat.
Dua cerita itu memperlihatkan sisi lain sebuah festival. Panggung budaya tidak berdiri sendiri. Ada pedagang, pekerja informal, pengunjung, dan warga yang ikut menggantungkan aktivitas ekonominya pada keramaian.
Yogyakarta Bertemu Ponorogo
WJNC juga membuka ruang kolaborasi antardaerah. Kabupaten Ponorogo kembali hadir dalam perhelatan tersebut setelah mengikuti WJNC pada 2024.
Yudha dari Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda dan Olahraga Kabupaten Ponorogo mengatakan kerja sama itu memiliki kedekatan kultural. Yogyakarta dan Ponorogo sama-sama memiliki akar budaya Mataraman.
Ponorogo membawa Reog Ponorogo, jaranan, serta sejumlah unsur pertunjukan lain. Mereka mengemasnya melalui musik dan gerak yang lebih kontemporer.
Kolaborasi itu menunjukkan bahwa festival budaya tidak harus berjalan dalam ruang yang tertutup. Tradisi dapat bertemu dengan kreativitas baru tanpa kehilangan identitasnya.
Ponorogo sendiri memiliki Festival Nasional Reog Ponorogo. Festival tersebut juga masuk dalam Top 10 Karisma Event Nusantara.
Harapannya jelas. Yogyakarta dan Ponorogo dapat terus memperkuat kerja sama budaya serta menghadirkan pertunjukan terbaik bagi Indonesia.
Dari Anak Muda hingga Persoalan Sampah
WJNC juga menjadi ruang bagi peserta muda untuk menyampaikan kegelisahan mereka.
Raka Rahadian, peserta dari Kemantren Gondomanan, menikmati pengalaman mengikuti karnaval tahun ini. Ia juga melihat tema Gana Kalajaya sebagai ruang untuk membawa pesan tentang Yogyakarta.
Properti yang digunakan kelompoknya memanfaatkan material bekas.
Pilihan tersebut tidak berhenti pada persoalan estetika. Mereka mencoba menghubungkan festival dengan persoalan lingkungan yang masih dihadapi kota.
“Semoga Yogyakarta semakin maju dan masalah sampah bisa terselesaikan,” ujar Raka.
Pesan itu terasa sederhana. Namun, justru di situlah kekuatan sebuah festival publik.
Ketika budaya tidak hanya tampil sebagai tontonan, masyarakat bisa menggunakannya untuk menyampaikan persoalan yang mereka hadapi.
Ilmu Tidak Berhenti di Panggung
Sri Paduka Pakualam melihat Gana Kalajaya memiliki hubungan dengan karakter Yogyakarta sebagai kota pelajar.
Ia mengaitkannya dengan filosofi “ngilmu iku kelakone kanthi laku”. Pengetahuan akan memiliki makna ketika seseorang mempraktikkannya.
Proses itu bergerak dari pengetahuan menuju keterampilan. Setelah itu, keterampilan dapat berkembang menjadi pelayanan kepada masyarakat.
Gagasan tersebut sejalan dengan semangat hamemayu hayuning bawana. Manusia tidak hanya belajar untuk dirinya sendiri. Ia juga memiliki tanggung jawab untuk menjaga kehidupan bersama.
Karena itu, Pakualam berharap WJNC dapat menjadi ruang belajar bersama. Bukan hanya tempat masyarakat melihat pertunjukan.
Festival Selesai, Pertanyaan Dimulai
Rendra, pengunjung asal Kebumen, menyebut WJNC sebagai pertunjukan yang luar biasa. Ia berharap acara tersebut terus berkembang dan membawa Yogyakarta semakin maju.
Harapan itu terdengar sederhana. Namun, festival sebesar WJNC selalu menghadapi pertanyaan yang lebih besar.
Apa yang tersisa setelah musik berhenti?
WJNC telah memasuki satu dekade perjalanan. Ia mempertemukan wayang, seniman, anak muda, kemantren, pelaku UMKM, wisatawan, dan pemerintah dalam satu ruang.
Kini tantangannya bukan sekadar membuat karnaval semakin meriah. Tantangan berikutnya adalah memastikan budaya yang tampil di jalan tetap hidup di tengah masyarakat.
Sebab, ketika wayang turun ke jalan, yang hadir bukan hanya cerita masa lalu.
Ada identitas yang sedang dipertaruhkan, ada ekonomi warga yang ikut bergerak, ada anak muda yang sedang belajar dan ada persoalan kota yang menunggu jawaban.
Dan di tengah semua itu, Gana Kalajaya mengingatkan bahwa kekuatan budaya tidak lahir dari satu orang. Ia tumbuh ketika masyarakat memilih untuk tetap bergerak menghadapi zamannya. @anisa








