Senin, Oktober 19, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Lapas atau Hotel Sultan? Fasilitas Mewah Koruptor di Cibinong

by dimas
Oktober 5, 2026
in Edge
A A
Home Edge
Share on Facebook
Share on Twitter
Lapas Cibinong jadi sorotan setelah koruptor ditemukan menempati fasilitas mewah. Benarkah hukuman berubah menjadi kenyamanan bagi narapidana tertentu?

Tabooo.id – Ada jeruji, ada petugas dan ada aturan.

Namun, suasana berbeda muncul di Lapas Kelas IIA Cibinong, Kabupaten Bogor. Di dalam kompleks lapas, Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan menemukan fasilitas mewah yang ditempati sejumlah terpidana korupsi.

Temuan itu memunculkan pertanyaan sederhana seberapa nyaman hukuman bagi mereka yang punya uang dan akses?

Inspektur Jenderal Kementerian Imipas Rudi Setiawan menyebut beberapa nama. Mereka antara lain Jimmy Masrin, Indra Kesuma alias Indra Kenz, dan Heru Hidayat.

Rudi juga menyebut Ahmad Albani dan Hasan Tjhie. Kelima nama tersebut tercatat dalam perkara korupsi atau tindak pidana yang berkaitan dengan kejahatan ekonomi.

Ini Belum Selesai

Api Dipadamkan, Masalahnya Jangan Ikut Dibiarkan

Survei SMRC: Kepuasan Publik terhadap Prabowo Anjlok ke 44,5 Persen

Ada Rumah Mewah di Dalam Lapas

Kasus Jimmy Masrin menjadi sorotan utama.

Rudi membenarkan bahwa Jimmy tinggal di sebuah rumah mewah dalam kompleks Lapas Cibinong. Ombudsman sebelumnya menemukan keberadaan Jimmy melalui kamera pengawas dan dokumentasi lapangan.

Menurut Rudi, lapas memang menyediakan rumah untuk kebutuhan kunjungan keluarga. Fasilitas itu terutama tersedia bagi narapidana kasus korupsi.

Masalahnya bukan sekadar keberadaan rumah tersebut.

Pertanyaan yang lebih besar muncul ketika fasilitas itu terlihat jauh berbeda dari gambaran umum sebuah lembaga pemasyarakatan.

Lapas seharusnya membatasi kebebasan seseorang sebagai bagian dari pelaksanaan hukuman. Namun, fasilitas yang terlalu nyaman dapat mengaburkan batas antara menjalani hukuman dan menikmati privilese.

Di titik ini, persoalannya bukan lagi soal kasur, rumah, atau lemari.

Persoalannya adalah kesetaraan.

Ketika Hukuman Punya Kelas

Rudi juga mengungkap temuan lain dari pemeriksaan internal.

Petugas menemukan minuman keras di dalam lemari pendingin rumah tersebut. Pemeriksaan kemudian menyimpulkan bahwa barang itu milik Jimmy Masrin, bukan milik Kasi Kamtib Adi Nugroho Nur Wichaksono.

Rudi menegaskan seluruh barang yang berada di rumah itu merupakan milik Jimmy.

Temuan tersebut membuat persoalan fasilitas semakin serius. Sebab, lapas bukan ruang pribadi yang bebas dari pengawasan.

Setiap barang, aktivitas, dan fasilitas semestinya mengikuti aturan pemasyarakatan.

Jika seorang narapidana bisa memiliki ruang dengan fasilitas yang jauh lebih nyaman, publik berhak bertanya apa yang menentukan tingkat kenyamanan itu?

Apakah status perkara?

Apakah kemampuan ekonomi?

Atau ada akses tertentu yang tidak dimiliki warga binaan lain?

Penjara Bukan Hotel

Di sinilah masalah Cibinong menjadi lebih besar daripada satu rumah mewah.

Kondisi tersebut menyentuh wajah sistem pemasyarakatan secara keseluruhan. Ketika narapidana dengan kasus besar memperoleh fasilitas istimewa, publik akan melihat adanya jarak antara aturan dan praktik.

Hukuman kehilangan makna ketika kenyamanan bisa mengikuti kekuatan ekonomi.

Negara memang perlu memberi ruang bagi keluarga untuk bertemu dengan warga binaan. Namun, ruang tersebut tetap harus memiliki standar yang jelas.

Pengawasan juga harus berjalan tanpa melihat nama, jabatan, perkara, maupun kekayaan narapidana.

Sebab, ketika aturan berlaku berbeda untuk orang berbeda, lapas tidak lagi sekadar menghadapi persoalan fasilitas.

Lapas menghadapi krisis kepercayaan.

Yang Dipertaruhkan Bukan Sekadar Rumah

Temuan di Cibinong juga membuka pertanyaan tentang pengawasan.

Siapa yang mengontrol penggunaan fasilitas tersebut? Siapa yang memastikan barang-barang di dalamnya sesuai aturan? Lalu, siapa yang bertanggung jawab ketika fasilitas itu berubah menjadi ruang privilese?

Pertanyaan itu penting karena lembaga pemasyarakatan membawa nama negara.

Publik tidak hanya melihat bangunan dan pagar. Publik juga melihat bagaimana negara menjalankan hukuman.

Kasus ini akhirnya kembali pada satu prinsip sederhana: hukuman harus tetap terasa sebagai hukuman.

Penjara boleh menyediakan ruang untuk keluarga. Petugas boleh memberikan pelayanan yang manusiawi. Namun, pelayanan itu tidak boleh berubah menjadi kemewahan yang hanya bisa dinikmati segelintir orang.

Jika kenyamanan dapat dibeli, maka hukuman kehilangan daya keadilannya.

Penjara boleh punya rumah untuk kunjungan keluarga. Tetapi jangan sampai hukuman punya tarif kenyamanan. @dimas

Tags: Fasilitas MewahKementerian ImipasKoruptorLapas CibinongPengawasan Lapas

Kamu Melewatkan Ini

Lapas Cibinong Tanpa CCTV: Anggaran Tidak Ada atau Tak Pernah Diajukan?

Lapas Cibinong Tanpa CCTV: Anggaran Tidak Ada atau Tak Pernah Diajukan?

by dimas
September 29, 2026

Lapas Cibinong tanpa CCTV. Anggaran 2026 tidak tersedia, tetapi DPR mempertanyakan apakah pengadaan sebelumnya pernah diajukan. Tabooo.id - Ada satu...

Lapas Cibinong dan Lubang Pengawasan: Siapa Mengawasi Para Pengawas?

Lapas Cibinong dan Lubang Pengawasan: Siapa Mengawasi Para Pengawas?

by teguh
September 29, 2026

Sebuah lapas Cibinong seharusnya punya satu fungsi dasar menjaga keamanan, membina warga binaan, dan memastikan aturan berlaku untuk semua. Tabooo.id...

Kata “Bacot” di Rapat Komisi XIII: Ketegasan atau Penghinaan?

Kata “Bacot” di Rapat Komisi XIII: Ketegasan atau Penghinaan?

by dimas
September 29, 2026

Kata “bacot” terekam saat Rapat Komisi XIII DPR membahas Lapas Cibinong. Teguran itu memicu pertanyaan: ketegasan atau penghinaan? Tabooo.id -...

Next Post
Tiga Murid, Tiga Masa Depan, Sekolah Sepi: Terus Negara Hadir Sejauh Apa?

Tiga Murid, Tiga Masa Depan, Sekolah Sepi: Terus Negara Hadir Sejauh Apa?

Madilog Series

Logika vs Emosi: Siapa yang Sebenarnya Mengendalikan Kamu? – Madilog Series #3.5

Logika vs Emosi: Siapa yang Sebenarnya Mengendalikan Kamu? – Madilog Series #3.5

Agustus 24, 2026
Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Juli 7, 2026
Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026

Marx Series

Mesin dan Industri Modern: Teknologi Membebaskan atau Membuat Pekerja Makin Mudah Diganti?

Mesin dan Industri Modern: Teknologi Membebaskan atau Membuat Pekerja Makin Mudah Diganti?

Agustus 25, 2026

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Juli 16, 2026

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Juni 20, 2026

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id