Selasa, Oktober 20, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Malam G30S: Di Mana Posisi Soekarno dan Soeharto?

by dimas
September 29, 2026
in Deep
A A
Home Deep
Share on Facebook
Share on Twitter
Malam G30S mengungkap posisi Soekarno dan Soeharto saat krisis 30 September 1965, serta kesaksian dan perdebatan sejarah di baliknya.

Tabooo.id – Malam 30 September 1965 tidak berhenti sebagai catatan tentang tujuh orang yang tewas.

Malam itu membuka krisis kekuasaan yang kemudian mengubah arah politik Indonesia. Di tengah kekacauan tersebut, dua nama berada dalam pusaran sejarah: Soekarno dan Soeharto.

Keduanya menghadapi malam yang sama dari tempat berbeda. Soekarno berusaha membaca gerakan yang muncul di sekitar Jakarta. Sementara Soeharto berada di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Subroto.

Dari titik inilah muncul sejumlah pertanyaan yang terus hidup dalam historiografi Indonesia.

Mengapa Soekarno bergerak dari satu tempat ke tempat lain? Mengapa Soeharto tidak menjadi sasaran penculikan? Dan sejauh mana ia mengetahui rencana gerakan tersebut?

Ini Belum Selesai

Membaca Pengamanan Demo Dua Tahun Prabowo–Gibran: Jalan Dijaga, Suara Diawasi?

Tawuran: Ancaman Polisi, Pengawasan Orang Tua, Siapa yang Benar-Benar Bekerja?

Pertanyaan itu belum memiliki satu jawaban yang diterima semua pihak.

Malam ketika Jakarta berubah

Pada 30 September 1965, Soekarno berada di Wisma Yaso, kediaman Ratna Sari Dewi Soekarno.

Situasi berubah pada dini hari 1 Oktober. Sekitar pukul 06.00 WIB, Soekarno meninggalkan Wisma Yaso dan menuju Istana Merdeka.

Rencana tersebut tidak berjalan seperti semula.

Ketika mendapat informasi bahwa kawasan istana telah dikepung, Soekarno mengubah arah perjalanan. Ia kemudian menuju kediaman Haryati di kawasan Slipi.

Dari sana, perjalanan berlanjut menuju Halim Perdanakusuma. Setelah itu, Soekarno memilih bergerak ke Istana Bogor.

Pada saat yang sama, Jakarta menghadapi situasi militer yang tidak biasa. Pasukan bergerak. Sejumlah perwira menjadi sasaran penculikan. Radio juga menyampaikan pengumuman yang mengatasnamakan Gerakan 30 September.

Letnan Kolonel Untung menyampaikan pengumuman tentang pembentukan Dewan Revolusi melalui radio.

Bagi Soekarno, situasi tersebut bukan sekadar persoalan keamanan. Krisis itu menyentuh langsung pusat kekuasaan negara.

Soeharto berada di tempat berbeda

Pada malam yang sama, Soeharto berada di RSPAD Gatot Subroto.

Alasannya bukan operasi militer. Ia berada di rumah sakit karena putranya, Tommy Soeharto, mengalami luka akibat terkena kuah panas.

Kondisi tersebut kemudian menjadi bagian penting dalam berbagai cerita mengenai posisi Soeharto pada malam G30S.

Salah satu nama yang muncul adalah Abdul Latief. Perwira tersebut kelak memberikan kesaksian berbeda mengenai hubungan dirinya dengan Soeharto.

Menurut Latief, ia telah memberi tahu Soeharto mengenai rencana gerakan sebelum operasi berlangsung. Ia juga mengaku kembali menyampaikan informasi tersebut beberapa jam sebelum penculikan para jenderal.

Namun, versi Soeharto berbeda.

Dalam keterangannya, Soeharto mengatakan Latief datang ke rumah sakit. Ia menyebut Latief tidak memberitahunya tentang rencana penculikan para jenderal.

Perbedaan itu tidak berhenti di sana.

Dalam autobiografinya yang terbit pada 1988, Soeharto menyatakan bahwa ia hanya melihat Latief dari kejauhan. Versi tersebut berbeda dengan keterangan yang menyebut adanya pertemuan langsung.

Perbedaan kesaksian inilah yang membuat posisi Soeharto pada malam tersebut terus menjadi bahan perdebatan sejarah.

Historia mencatat kesaksian Latief sebagai salah satu versi mengenai keterlibatan dan pengetahuan para pelaku dalam G30S. Kesaksian itu menjadi bagian dari perdebatan historiografis, bukan bukti tunggal yang otomatis menyelesaikan persoalan.

Mengapa Soeharto tidak menjadi sasaran?

Pertanyaan lain muncul dari rangkaian peristiwa tersebut.

Jika gerakan itu menargetkan sejumlah petinggi Angkatan Darat, mengapa Soeharto tidak ikut menjadi sasaran?

Latief memberikan satu jawaban.

Menurut kesaksiannya, kelompok tersebut menganggap Soeharto sebagai perwira yang loyal kepada Soekarno. Karena alasan itu, namanya tidak masuk dalam daftar sasaran penculikan.

Keterangan tersebut tentu berbeda dengan narasi Soeharto.

Di sinilah persoalan sejarah menjadi lebih rumit. Satu peristiwa menghadirkan lebih dari satu kesaksian. Setiap kesaksian membawa posisi, kepentingan, dan pengalaman orang yang menyampaikannya.

Karena itu, kesaksian seorang pelaku tidak cukup untuk mengubahnya menjadi fakta tunggal.

Sejarawan kemudian harus mempertemukan kesaksian tersebut dengan dokumen, kesaksian lain, serta konteks politik dan militer pada masa itu.

G30S bukan hanya tentang satu malam

Peristiwa G30S memiliki dampak jauh lebih panjang daripada durasi gerakannya.

Enam jenderal dan satu perwira Angkatan Darat tewas. Jenazah mereka kemudian ditemukan di kawasan Lubang Buaya. Peristiwa itu selanjutnya menjadi bagian penting dalam narasi sejarah politik Indonesia.

Namun, tragedi tersebut juga membuka jalan bagi perubahan besar dalam struktur kekuasaan.

Soeharto kemudian tampil sebagai figur militer yang memainkan peran penting dalam perkembangan politik setelah G30S. Sementara itu, posisi politik Soekarno semakin melemah dalam perkembangan berikutnya.

Perubahan tersebut tidak berlangsung dalam satu malam.

Akan tetapi, malam 30 September menjadi salah satu titik penting yang mengubah arah peristiwa setelahnya.

Karena itu, membaca G30S hanya sebagai operasi penculikan tujuh orang membuat gambaran sejarah menjadi terlalu sederhana.

Ada persoalan kekuasaan di belakangnya, ada pertarungan pengaruh dan ada perubahan hubungan antara militer, presiden, dan kekuatan politik.

Yang lebih penting, ada konsekuensi panjang yang dirasakan masyarakat Indonesia.

Ketika sejarah berubah menjadi narasi kekuasaan

Cara Indonesia memahami G30S juga mengalami perubahan.

Sejarawan Asvi Warman Adam membagi perkembangan historiografi G30S ke dalam beberapa periode. Pada masa awal, muncul perdebatan mengenai siapa dan apa yang berada di balik gerakan tersebut.

Pada era Orde Baru, negara membangun narasi resmi mengenai G30S. Setelah 1998, ruang publik membuka kesempatan lebih luas bagi munculnya tafsir alternatif.

Perubahan itu menunjukkan satu hal penting.

Sejarah tidak hanya berbicara tentang apa yang terjadi. Sejarah juga berbicara tentang bagaimana sebuah masyarakat mengingat apa yang terjadi.

Narasi resmi dapat membentuk ingatan publik. Media, buku sejarah, monumen, film, dan pendidikan kemudian ikut menentukan bagaimana sebuah generasi mengenal masa lalu.

Kawasan Lubang Buaya menjadi salah satu contoh paling jelas. Tempat tersebut memang sudah memiliki nama sebelum 1965. Namun, peristiwa G30S membuat Lubang Buaya melekat kuat dalam ingatan publik Indonesia.

Pertanyaan yang tidak selesai pada 1 Oktober

Lebih dari enam dekade setelah peristiwa itu, perdebatan mengenai G30S masih berlangsung.

Kesaksian Abdul Latief tentang Soeharto tetap menjadi salah satu bagian dari perdebatan tersebut. Namun, kesaksian itu tidak dengan sendirinya membuktikan bahwa Soeharto mengetahui atau terlibat dalam rencana G30S.

Sebaliknya, versi Soeharto juga menjadi salah satu sumber yang perlu ditempatkan dalam konteks sejarah dan dibandingkan dengan sumber lain.

Di sinilah kerja sejarah menemukan batas sekaligus tanggung jawabnya.

Sejarawan tidak cukup memilih cerita yang paling mudah dipercaya. Mereka perlu menguji sumber, membandingkan kesaksian, dan membaca konteks politik yang melingkupinya.

G30S akhirnya meninggalkan dua jenis warisan.

Warisan pertama berupa tragedi manusia yang menewaskan para perwira dan kemudian diikuti kekerasan politik yang jauh lebih luas.

Warisan kedua berupa pertanyaan tentang kekuasaan dan ingatan.

Siapa yang mengetahui rencana itu lebih awal? Mengapa sejumlah orang menjadi sasaran sementara yang lain tidak? Bagaimana sebuah krisis militer berubah menjadi perubahan kekuasaan?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut membuat G30S tetap relevan untuk dibaca.

Sebab, sejarah tidak hanya tinggal di masa lalu. Ia juga hidup melalui cara sebuah negara memilih untuk mengingatnya.

G30S berlangsung dalam waktu singkat. Dampaknya membentuk sejarah Indonesia selama puluhan tahun. @dimas

Tags: G30SPolitik IndonesiaSejarah IndonesiaSoehartoSoekarno

Kamu Melewatkan Ini

Jokowi Tak Lagi Bicara Dua Periode: Sinyal Politik atau Sekadar Menahan Diri?

Jokowi Tak Lagi Bicara Dua Periode: Sinyal Politik atau Sekadar Menahan Diri?

by dimas
Oktober 10, 2026

Jokowi tak lagi menegaskan dukungan dua periode untuk Prabowo-Gibran. Sinyal politik menuju Pilpres 2029 atau sekadar sikap hati-hati? Tabooo.id -...

Panggung Politik: Ketika Perhatian Mengalahkan Pertanggungjawaban

Panggung Politik: Ketika Perhatian Mengalahkan Pertanggungjawaban

by dimas
Oktober 8, 2026

Panggung politik kerap mengejar perhatian publik. Namun, di balik sorotan, pertanggungjawaban, kebijakan, dan suara warga tetap harus diuji. Tabooo.id -...

Reshuffle Ketujuh: Prabowo Lepas dari Bayang-Bayang Jokowi?

Reshuffle Ketujuh: Prabowo Lepas dari Bayang-Bayang Jokowi?

by dimas
Oktober 4, 2026

Reshuffle ketujuh Prabowo memunculkan pertanyaan: apakah ia mulai lepas dari bayang-bayang Jokowi dan menata orbit kekuasaannya sendiri? Tabooo.id - Pada...

Next Post
Lima Jenazah Kembali Ditemukan, 64 Korban KM Virgo Masih Dicari

Lima Jenazah Kembali Ditemukan, 64 Korban KM Virgo Masih Dicari

Madilog Series

Logika vs Emosi: Siapa yang Sebenarnya Mengendalikan Kamu? – Madilog Series #3.5

Logika vs Emosi: Siapa yang Sebenarnya Mengendalikan Kamu? – Madilog Series #3.5

Agustus 24, 2026
Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Juli 7, 2026
Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026

Marx Series

Mesin dan Industri Modern: Teknologi Membebaskan atau Membuat Pekerja Makin Mudah Diganti?

Mesin dan Industri Modern: Teknologi Membebaskan atau Membuat Pekerja Makin Mudah Diganti?

Agustus 25, 2026

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Juli 16, 2026

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Juni 20, 2026

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id