Kekeringan Tiga Bulan di Pemalang masih berlansung dan air bersih yang biasanya tinggal membuka keran kini berubah menjadi barang yang harus ditunggu kedatangannya. Di Kabupaten Pemalang, Jawa Tengah, krisis air bersih telah berlangsung sejak 25/06/2026 dan berdampak pada 10.764 kepala keluarga (KK).
Tabooo.id: Pemalang – BNPB mencatat kekeringan tiga bulan di Pemalang tersebut terjadi karena debit sumber air bersih terus menurun selama musim kemarau. Dampaknya terasa di 22 desa yang tersebar pada tujuh kecamatan di Pemalang.
Plt Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton SP Panjaitan, menyebut berkurangnya curah hujan selama kemarau menurunkan debit sumber air secara signifikan. Kondisi itu membuat ribuan keluarga kesulitan memenuhi kebutuhan dasar harian.
Pada laporan penanganan yang disampaikan BNPB, distribusi air bersih terus dilakukan untuk warga terdampak. Dalam distribusi pada 13/09/2026, BPBD Pemalang menyalurkan 86.000 liter, PMI 50.000 liter, BAZNAS 25.000 liter, dan Armada PDAM 12.000 liter. Totalnya mencapai 173.000 liter untuk 2.525 KK atau 8.837 jiwa.
Sementara itu, berdasarkan pembaruan yang menjadi bahan laporan ini, hingga Jumat, 25/09/2026, tim gabungan kembali menyalurkan 150.000 liter air kepada warga terdampak.
Kekeringan Tiga Bulan di Pemalang: Kemarau Belum Benar-Benar Selesai
Kondisi Pemalang bukan kejadian yang berdiri sendiri. BMKG mencatat Jawa Tengah masih menghadapi kondisi kekeringan meteorologis pada September 2026. Pemalang bahkan masuk wilayah berstatus Awas dalam peringatan kekeringan meteorologis dasarian II September.
BMKG juga mencatat 80,7 persen wilayah Indonesia sedang mengalami musim kemarau. Pada September, sebagian besar Jawa Tengah masih menghadapi curah hujan rendah.
Dosen Geografi Lingkungan UGM, Dr. Emilya Nurjani, pada 10/08/2026 mengingatkan bahwa kombinasi El Niño dan IOD positif dapat mengurangi curah hujan serta memicu kekeringan dan krisis air.
“El Niño dan IOD positif merupakan fenomena iklim berskala regional hingga global,” ujar Emilya.
Pringsewu Juga Kekurangan Air
Masalah serupa muncul di Kabupaten Pringsewu, Lampung. Sebanyak 138 KK di Desa Panjerejo, Kecamatan Gadingrejo, tercatat terdampak kekeringan.
Bantuan air bersih juga bergerak ke wilayah tersebut. Hingga 25/09/2026, distribusi air mencapai 18.000 liter berdasarkan bahan laporan yang digunakan dalam naskah ini.
Air Datang Setelah Sumur Mengering
Masalahnya bukan sekadar berapa banyak tangki yang datang.
Krisis air menunjukkan betapa cepat musim kemarau mengubah kebutuhan paling dasar menjadi persoalan distribusi. Ketika sumber air menurun, warga tidak bisa sekadar “menunggu hujan”.
Buat 10.764 KK di Pemalang, satu pertanyaan menjadi jauh lebih sederhana sekaligus mendesak besok masih ada air atau tidak?
Itulah dampak kekeringan yang paling nyata. Bukan sekadar angka di laporan bencana, tetapi kebutuhan harian yang harus dicari setiap hari. @teguh








