Dulu teknologi kesehatan meminta kita datang ke alat. Kini, alat mulai ikut berjalan bersama tubuh. Sandal biasanya cuma punya satu tugas menopang langkah.
Tabooo.id: Health – Glucowrap mencoba menambah fungsi lain. Perangkat Teknologi kesehatan rancangan mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM) ini memantau tekanan telapak kaki, suhu, dan kelembapan saat pengguna berjalan.
Lima mahasiswa UGM mengembangkan Glucowrap untuk membantu memantau risiko komplikasi kaki pada pasien diabetes tipe 2 dengan neuropati perifer. Mereka terdiri dari Rina Putri Cahyati, Hanif Abinawa, Mohammad Latif Ananda, Dhimas Early Oceandy, dan Ulfan Syarif.
Teknologi Kesehatan: Sandal Bisa Baca Tubuh, Apa Lagi yang Akan Jadi Sensor?
Neuropati perifer dapat mengurangi kemampuan seseorang merasakan tekanan, gesekan, panas, atau perubahan kondisi kaki. Di sinilah masalah sebenarnya muncul.
Rasa kebas dapat membuat luka kecil tidak terasa. Kondisi tersebut kemudian berpotensi berkembang menjadi komplikasi yang lebih serius. CDC menganjurkan penyandang diabetes memeriksa kaki setiap hari karena kerusakan saraf dapat mengurangi kemampuan merasakan nyeri, panas, dan dingin.
Rina Putri Cahyati menjelaskan bahwa pasien dengan neuropati perifer bisa tidak menyadari tekanan maupun gesekan pada kaki. Menurutnya, kondisi yang luput dari perhatian dapat berkembang menjadi luka yang lebih serius dan Glucowrap lahir dari persoalan tersebut.
Sensor yang Ikut Jalan
Perangkat ini memakai sensor untuk membaca tekanan, suhu, dan kelembapan kaki. Data yang masuk kemudian terbagi menjadi tiga kategori risiko normal, risiko ringan, dan risiko tinggi.
Pengguna dapat melihat hasil pemantauan melalui aplikasi smartphone. Konsepnya terlihat sederhana tapi justru kesederhanaan itu menjadi bagian menarik dari inovasinya.
Pengguna tidak perlu membawa alat tambahan ketika berjalan. Sensor menyatu dengan benda yang sudah mereka gunakan dalam aktivitas sehari-hari.
Sandal pun berubah fungsi karena benda yang selama ini hanya menemani langkah mulai ikut membaca kondisi kaki.
Teknologi tidak lagi sekadar menunggu tubuh datang. Kali ini, teknologi ikut bergerak bersama tubuh.
Canggih Saja Tidak Cukup
Tim Glucowrap juga memperhatikan kenyamanan pengguna. Bagian sandal yang menyentuh kulit memakai serat bambu biotekstil dengan proses kitosan. Tim memanfaatkannya sebagai lapisan antibakteri.
Glucowrap juga menghadirkan stimulasi termal dan mikrogetaran berintensitas rendah. Pendekatan tersebut menunjukkan persoalan penting dalam wearable health technology.
Perangkat harus nyaman jika ingin menemani pengguna setiap hari. Bayangkan sebuah sensor mampu menghasilkan data akurat, tetapi pemiliknya enggan memakai sandal tersebut.
Teknologinya tetap tidak banyak membantu. Karena itu, pertanyaannya tidak berhenti pada “Seberapa canggih sensornya?”
Ada pertanyaan yang lebih dekat dengan pengguna yaitu, “Apakah saya mau memakainya setiap hari?”
Glucowrap Masih Dalam Perjalanan
Tim UGM melakukan pengujian awal pada pasien diabetes tipe 2 di Klinik Korpagama UGM, Yogyakarta.
Mereka memeriksa sensitivitas kaki menggunakan Semmes-Weinstein monofilament 10 gram. Setelah itu, peserta menjalani uji berjalan selama 15 menit dengan Glucowrap.
Tim kemudian mengevaluasi stimulasi termal, mikrogetaran, kondisi kulit, kenyamanan sandal, serta kemudahan penggunaan perangkat dan aplikasi.
Klinik Korpagama turut mendukung proses tersebut. Komite Etik Penelitian Kedokteran dan Kesehatan FK-KMK UGM juga memberikan persetujuan etik untuk protokol penelitian.
Namun, Glucowrap masih berada dalam tahap pengembangan dan pengujian. Perangkat ini tidak menggantikan pemeriksaan dokter atau pengobatan. Pengguna tetap membutuhkan tenaga kesehatan untuk pemeriksaan dan keputusan medis.
Kementerian Kesehatan menempatkan pemeriksaan kaki sebagai bagian penting dalam pengelolaan kaki diabetes. Pemeriksaan monofilamen 10 gram menjadi salah satu metode untuk membantu mendeteksi gangguan sensasi akibat neuropati.
Dengan kata lain, teknologi dapat membantu membaca tanda awal. Tenaga kesehatan tetap menentukan langkah medis berikutnya.
Yang Dicari Bukan Sandal Supercanggih
Glucowrap membawa pertanyaan yang lebih besar daripada sekadar inovasi mahasiswa. Bisakah teknologi kesehatan masuk ke rutinitas tanpa terasa seperti teknologi?
Harga menjadi salah satu pertimbangan, Kemudahan penggunaan juga menentukan dan akurasi sensor harus tetap terjaga. Informasi dari aplikasi pun harus mudah dipahami.
Semua faktor tersebut menentukan apakah sebuah prototipe dapat berkembang menjadi perangkat yang benar-benar berguna.
Perjalanan Glucowrap menuju tahap itu masih panjang. Tim perlu menguji akurasi sensor, keamanan penggunaan, ketahanan perangkat, perlindungan data, serta penerimaan pengguna dalam skala lebih luas.
Ketika Teknologi Pindah ke Benda Sehari-hari
Wearable technology terus mengubah cara manusia berinteraksi dengan data kesehatan. Jam tangan sudah menawarkan berbagai fungsi pemantauan tubuh.
Sensor juga masuk ke pakaian, perangkat olahraga, dan sejumlah benda sehari-hari. Glucowrap memilih kaki sebagai titik pemantauan.
Pilihan tersebut berkaitan dengan risiko komplikasi kaki pada penyandang diabetes. CDC mencatat bahwa kerusakan saraf dapat meningkatkan risiko masalah kaki pada penderita diabetes.
Sensor mampu membaca angka, Aplikasi mampu mengirim peringatan, Sistem mampu mengelompokkan tingkat risiko. Tetapi manusia tetap menentukan responsnya.
Pengguna harus memahami informasi tersebut. Mereka juga perlu mencari bantuan medis ketika muncul tanda yang mengkhawatirkan.
Sensor Tidak Berarti Kalau Manusianya Tidak Peduli
Glucowrap memperlihatkan arah menarik dalam perkembangan teknologi kesehatan. Inovasi tidak selalu membutuhkan perangkat yang terlihat futuristik.
Kadang, teknologi justru masuk melalui benda yang paling biasa seperti sandal. Namun, sensor tidak otomatis membuat seseorang lebih sehat.
Pengguna membutuhkan informasi yang jelas. Mereka juga membutuhkan akses terhadap pemeriksaan dan layanan kesehatan.
Tantangan Glucowrap akhirnya bukan cuma membuat sensor bekerja. Tantangan sebenarnya adalah membuat teknologi terasa sederhana, nyaman, terjangkau, dan berguna.
Jika semua unsur itu bertemu, wearable health bisa menjadi bagian dari kebiasaan sehari-hari. Masa depan teknologi kesehatan pun mungkin tidak hanya berada di pergelangan tangan. Bisa jadi, masa depan itu mulai dari telapak kaki. @teguh








