Lima mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM) membuat Glucowrap. Sandal pintar Glucowrap karya UGM ini untuk membantu pasien diabetes tipe 2 memantau kondisi kaki.
Tabooo.id: Yogyakarta – Sandal pintar Glucowrap karya UGM ini bisa membaca tekanan, suhu, dan kelembapan kaki melalui sensor. Sistem kemudian membagi kondisi kaki ke dalam tiga kategori: normal, risiko ringan, dan risiko tinggi.
Sandal Pintar Glucowrap Karya UGM: Membaca Sinyal Kaki
Tim Glucowrap menggabungkan lima bidang ilmu dalam proyek ini. Rina Putri Cahyati memimpin tim dari Ilmu Keperawatan.
Hanif Abinawa berasal dari Elektronika dan Instrumentasi. Mohammad Latif Ananda menekuni Teknologi Rekayasa Elektro. Dhimas Early Oceandy berasal dari Ilmu Komputer. Ulfan Syarif menempuh bidang Kehutanan.
Sensor Glucowrap mengirim data kondisi kaki ke aplikasi. Pengguna kemudian dapat melihat informasi tersebut melalui aplikasi. Rina menjelaskan alasan tim membuat perangkat ini.
“Neuropati perifer dapat menurunkan sensitivitas pada kaki sehingga penderita terkadang tidak menyadari adanya tekanan, gesekan, atau perubahan pada kondisi kaki. Jika tidak dikenali dan ditangani sejak dini, kondisi tersebut dapat berkembang menjadi luka yang lebih serius.”
Neuropati dapat mengurangi kemampuan pasien merasakan perubahan pada kaki. Karena itu, perubahan kecil dapat luput dari perhatian.
Tim UGM Menguji Glucowrap pada Pasien
Tim menguji Glucowrap pada pasien diabetes tipe 2 di Klinik Korpagama, Yogyakarta.
Para peneliti menggunakan 10g Semmes-Weinstein monofilament untuk memeriksa sensitivitas kaki. Mereka juga melakukan uji jalan selama 15 menit.
Selain itu, tim mengamati respons termal dan mikro-vibrasi intensitas rendah. Mereka juga mengevaluasi kondisi kulit, kenyamanan, dan kemudahan penggunaan.
Komite Etik Penelitian Kedokteran dan Kesehatan FK-KMK UGM menyetujui protokol penelitian tersebut. Namun, Rina menegaskan posisi Glucowrap masih sebagai alat bantu.
“Glucowrap saat ini masih kami kembangkan dan belum dimaksudkan untuk menggantikan pemeriksaan maupun penanganan medis. Perangkat ini kami rancang hanya sebagai alat bantu untuk memantau kondisi kaki.”
Dengan posisi tersebut, pengguna tetap membutuhkan pemeriksaan dan penanganan medis.
Kaki Bisa Menjadi Alarm Kesehatan
Kementerian Kesehatan menyoroti pentingnya pemantauan kaki pada pasien diabetes.
Dalam artikel Ditjen Kesehatan Lanjutan pada 14/04/2026, dr. Ida Bagus Aditya Nugraha, M.Biomed., Sp.PD, menyebut kaki sebagai “alarm” kesehatan yang paling sensitif bagi penderita diabetes.
Neuropati dapat membuat kaki kehilangan kemampuan merasakan nyeri. Kondisi itu dapat membuat luka kecil tidak segera mendapat perhatian.
Dokter spesialis saraf FK-KMK UGM, dr. Wisnu Nalendra Tama, Sp.S(K), menjelaskan hal serupa pada 25 November 2022. Ia menyebut kebas, mati rasa, kesemutan, dan sensasi seperti tersetrum sebagai beberapa gejala neuropati diabetes.
Ia juga menekankan pentingnya pemeriksaan rutin untuk mengenali risiko komplikasi sejak dini.
Di sinilah Glucowrap mencoba mengambil peran. Perangkat ini membantu membaca perubahan kondisi kaki dan memberi sinyal kepada pengguna.
Bambu Bertemu Sensor
Tim juga memasukkan material serat bambu ke dalam desain Glucowrap. Mereka mengolah serat tersebut dengan kitosan pada bagian yang bersentuhan langsung dengan kulit.
Lapisan itu memberikan fungsi antibakteri pada material.
Rina berharap tim dapat mengembangkan Glucowrap menjadi perangkat yang praktis dan mudah digunakan.
“Kami ingin Glucowrap tidak berhenti sebagai alat pemantau saja, tetapi juga membantu pasien mengenali kondisi kakinya lebih dini sekaligus memberikan kenyamanan melalui fitur pendukung yang ada di dalamnya.”
Tim masih mengembangkan Glucowrap sebagai prototipe. Mereka juga menargetkan perangkat yang lebih praktis, terjangkau, dan mudah digunakan.
Teknologi Boleh Pintar, Tapi Bukan Pengganti Dokter
Glucowrap membawa satu gagasan sederhana membaca sinyal sebelum masalah kaki berkembang menjadi lebih serius.
Tetapi teknologi kesehatan membutuhkan lebih dari sekadar sensor dan aplikasi. Tim harus terus menguji akurasi, keamanan, kenyamanan, dan manfaat klinisnya.
Pada akhirnya, Glucowrap bukan dokter dalam bentuk sandal. Perangkat ini hanya membantu pengguna mengenali perubahan. Pemeriksaan dan keputusan medis tetap membutuhkan tenaga kesehatan.
Sandalnya boleh pintar. Sinyalnya boleh digital. Tetapi keselamatan pasien tetap membutuhkan validasi medis.
Ketika Sandal Mulai Membaca Tubuh
Glucowrap menunjukkan bagaimana teknologi mahasiswa bisa masuk ke persoalan kesehatan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Tetapi inovasi tidak berhenti ketika prototipe berhasil bekerja.
Pertanyaan berikutnya jauh lebih penting seberapa akurat alat itu membaca risiko, seberapa aman penggunaannya, dan kapan teknologi tersebut benar-benar siap membantu pasien?. @teguh








